Subscribe News


 
E-mail
Name

 

Anda Pengunjung Ke:

free html visitor counters

User:

Selamat Datang,

Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta adalah lembaga pendidikan tingkat Strata 1 (satu) yang berdiri pada Tahun  1983/1984 dalam rangka memenuhi kebutuhan pendidikan dan pengajaran dalam bidang Ilmu Geografi dengan tingkat kompetensi unggul.

Sarjana handal yang telah lulus dari Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta berkeahlian dalam Ruang dan Wilayah yang taat pada asas pendekatan keilmuan keruangan (spatial), lingkungan (ecology), dan kompleks wilayah (regional complex).

Selanjutnya ...



Pilih Halaman:
[1] [2] [3]

Daftar Asisten Laboratorium Fakultas Geografi UMS

Berikut ini kami sampaikan daftar asisten laboratorium tetap Fakultas Geografi UMS.

Selanjutnya ...

Prosiding Seminar 2013

  • Analisa Dampak Lingkungan Akibat Pembangunan Kampus UMS di Kelurahan Pabelan dan Gonilan Kecamatan Kartasura Kabupaten Sukoharjo 
    Priyono; Hardjono, Imam; Purwono, Nugroho (Universitas Muhammadiyah Surakarta2013)
    Penelitian tentang masalah lingkungan hidup sangat penting dilakukan karena keberadaan pusat -pusat pertumbuhan seperti UMS akan membawa dampak terhadap perubahan lingkungan baik kuantitas, kualitas maupun sendi -sendi ...
  • Analisa Perbandingan Algoritma Citra Satelit Terra Modis dan Noaa Avhrr dalam Pengamatan Hutan di Pulau Jawa 
    Basori; Sukojo, Bangun Muljo; Trisakti, Bambang; Handayani, Hepi Hapsari (Universitas Muhammadiyah Surakarta,2013)
    Hutan mempunyai fungsi serbaguna yaitu sebagai penghasil kayu, pengatur tata air, tempat berlindung dan tumbuhnya kehidupan f auna, tempat wisata, dan lain-lain. Hutan merupakan sumberdaya alam yang harus selalu dijaga ...
  • Analisis Angkatan Kerja dan Kontribusinya Terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah Tahun 2010 dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis 
    Priyono; Susanto, Akhmad (Universitas Muhammadiyah Surakarta2013)
    Penelitian analisis angkatan kerja dan kontribusinya terhadap produk domestrik regional bruto(PDRB) jawa tengah tahun 2010 dengan aplikasi sistem informasi geografis ini mengangkat masalah Bagaimana peta memberikan informasi ...

Selanjutnya ...

Penerimaan Asisten Lab

Pengumuman:

Diberitahukan kepada seluruh mahasiswa Fakultas Geografi UMS. Telah dibuka pendaftaran asisten untuk 4 bidang, yakni asisten sumber daya lahan, asisten sumber daya air, Kartografi dan Penginderaan Jauh, serta SIG dan Pengolahan Citra Digital.

Selanjutnya ...

Dua Proposal PKM Mahasiswa Geografi Dibiayai DIKTI

KAJIAN BENCANA PUTING BELIUNG DENGAN DIGITAL GEOMORPHOLOGY MODEL DI SUBOSUKOWONOSRATEN [PKMP]

Kusuma Prayoga Basuki Putra  (E100110008) / 2011, Sarif Hidayat  (E100130003) / 2013, Muhammad Fahrudin  (E100130091) / 2013

Di Wilayah Subosukowonosraten (Surakarta, Boyolali, Sukoharjo,  Wonogiri, Sragen, Karanganyar, dan Klaten) pada bulan September-oktober 2013,  setidaknya terdapat beberapa kejadian bencana angin puting beliung. Seperti yang  terjadi di Wonogiri terjadi dibeberapa desa seperti  Dusun Bulu dan Dusun Blimbing, Desa Punduhsari, Kecamatan Manyaran serta Dusun Pakel, Desa  Tanggulangin, Kecamatan Jatisrono (KRjogja.com, 2013). Angin puting beliung sulit terdeteksi oleh satelit. Sehingga saat kejadian data petugas tidak dapat mengetahuinya, selain itu cakupannya hanya 2 kilometer dan waktu kejadian kurang dari 10 menit.

 

PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR BAWAH TANAH UNTUK KONSUMSI  MASYARAKAT DESA PUCUNG KECAMATAN EROMOKO KABUPATEN WONOGIRI

Manzilina Nur Jannah  E100120031 (2012) ,Wahyu Aji Willyantoro  E100100022 (2010) ,Reksa Pambudi Rahman E100120012 (2012)

Kawasan Karst Gunung Sewu sebagai bentang alam yang khas telah lama dihuni oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Seiring  dengan bertambahnya jumlah penduduk maka berbagai kebutuhan semakin meningkat, salah satunya adalah kebutuhan akan air terutama air bersih. 

 Besarnya konsumsi air perkapita penduduk Indonesia tidak akan sama antar satu tempat dengan tempat lainnya, hal ini dipengaruhi oleh sistem kesediaan air pada masing-masing daerah, sehingga ketersediaan air pada tiap-tiap daerah akan mempengaruhi perilaku masyarakat dalam memenuhi kebutuhan air minum untuk kebutuhan rumah tangga. Konsumsi air pada daerah pedesaan berkisar antara 60-80 liter/orang/hari, sedangkan didaerah perkotaan berkisar antara 60-150 liter/orang/hari (Soenarso Simoen, dalam Jauhari 2002). 

Selanjutnya ...

Alumni Geografi Menangkan Satu Indonesia Award: “Penyalur Air Tanah Kapur” Joko Sulistyo

Logo 1itu sumber kehidupan, namun tak semua tempat berlimpah air. Tanah kapur dan batu karst membuat air tak pernah berlama-lama di permukaan. Langsung merembes dan pergi. Pulau Jawa bagian selatan, sebut saja Pacitan, Wonogiri, sampai Gunung Kidul selalu dirundung kekeringan. Ribuan penduduk di daerah Wonogiri dan Gunung Kidul setiap puncak musim kering harus membeli air dari Kota Jogjakarta untuk keperluan minum. Mandi saja belum tentu sehari sekali. Kondisi ini dirasakan betul oleh 544 Kepala Keluarga atau 2.350 jiwa di Desa Pucung, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah.

Desa Pucung hanya memiliki satu sumber mata air. Itupun tidak begitu besar debit airnya. Tidak heran, banyak penduduk yang harus mencari sumber-sumber alternatif yang jauh dari desa. Antri dan berebutan untuk mendapatkannya. Itupun harus berjalan beberapa kilometer untuk mengambil 10-20 liter air.

Tahun 2001, Joko Sulistyo, salah satu anggota pecinta alam KMP Giri Bahama, Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Solo melakukan jelajah gua di Kecamatan Eromoko. “Ada 13 gua, dan saat saya masuk di Gua Suruh saya menemukan sungai di dalamnya. Satu-satunya gua yang ada airnya,” kata Joko.

Joko merasa, kalau air yang di sungai ini bisa diangkat ke atas, bisa menjadi sumber mata air tambahan untuk masyarakat setempat. Bagaimana caranya? Itulah yang perlu waktu menemukannya. Tidak hanya itu, langkah pertama bagaimanakah menginformasikan hal ini pada penduduk, sementara penduduk setempat tidak ada satupun yang berani masuk Gua Suruh.

Gua Suruh ini panjangnya mulai dari mulut gua sampai ke sungai di bawah tanah sekitar 300 meter. Sekitar 30 meter dari mulut gua, penyusur bertemu dengan lobang pertama yang cukup dimasuki tiga orang. Lobang ini jadi pintu. Lalu bertemu dengan lorong yang tinggi vertikalnya 17 meter. Selanjutnya landai, kemudian dijumpai lorong yang tinggi vertikalnya sekitar 11 meter, lalu setelah itu ada sungai. “Baru Joko saja yang masuk Gua Suruh ini sebelumnya. Warga tidak ada yang berani,” kata Ashari, Kepala Desa Pucung, Eromoko.

Proses sosialisasi meluas, setelah Ashari sendiri turut masuk gua dan membuktikan sendiri keberadaan sungai itu. Lewat film dan foto, keberadaan sungai bisa diberitakan dan dipaparkan. Warga akhirnya mau gotong royong bergerak bersama-sama mewujudkan rencana pengambilan air dari Gua Suruh.

Warga mulai terlibat penuh di tahun 2008. Berbagai pertemuan dan rapat desa dilakukan untuk merencanakan tentang pendanaan dan pelaksanaan proyek bersama itu. “Warga antusias karena ini menjawab kebutuhan mereka. Wong di suruh keluar duit untuk membeli air saja mau, apalagi ini keluar tenaga,” kata Ashari.

Kerja kompak terjadi. Warga menyumbang tenaga, perangkat desa mengusahakan dana dari APBD, Joko dan teman-teman Giri Bahama menyumbangkan keahlian, pemikiran dan waktu untuk mewujudkan proyek itu, dan donatur-donatur yang bisa dihimpun.

“Kami melatih warga untuk masuk gua. Giri Bahama meminjamkan perangkat lengkap untuk caving. Kita juga mengajak orang yang berkompeten untuk meriset secara akurat soal debit air dan kualitas air. Hasilnya, debit terendah dua meter kubik dan tertinggi 16 meter kubik. Kualitas air masih tinggi kesadahannya tetapi layak. Akhirnya diputuskan, air layak diangkat ke atas,” kata Joko.

Langkahnya adalah membendung sungai di bawah tanah. Pada 2012, proses pembendungan itu dimulai. Perlu enam bulan untuk proyek ini. “Kami harus menurunkan material paling tidak 15 ton ke dalam gua untuk membuat bendungan. Banyak simulasi kami lakukan di atas dulu, baru kemudian diterapkan di bawah. Material seperti pasir, semen, batu dipak kecil-kecil supaya bisa muat masuk mulut gua,” katanya. Kesulitan terbesar memang kondisi alam. Para pekerja pernah dua hari dua malam berada di perut gua untuk menyelesaikan bendungan. Bendungan di atur supaya tidak semua air berhenti di bendungan. “Kami tetap menjaga biota dan kehidupan yang sudah ada di gua tidak terganggu,” kata Joko.

Hasil jerih payah selama enam bulan terbayar. Air bisa didorong ke atas, bahkan sampai ke tower air yang ditaruh di atas bukit. Air sudah mengalir ke Desa Pucung. Hasilnya masyarakat bisa mengambil air di bak-bak penampungan di sekitar desa kapan saja.

“Rencana selanjutnya adalah mengusahakan warga untuk berpartisipasi dalam pembiyaan dan perawatan. Kami sudah mendapatkan bantuan peralatan untuk masuk goa. Nanti akan ada pelatihan untuk masuk dan merawat pompa yang di dalam. Rencana lain, mengalirkan air langsung ke rumah warga,” kata Yadi, Ketua OMS, salah satu paguyuban pengelola bantuan di Desa Pucung.

Pengangkatan Air Baku Gua Suruh memang salah satu kerja besar. Keberhasilan ini karena masyarakat tergerak dan bahu membahu. Pekerjaan memang tidak akan tuntas. Paling tidak memikirkan perawatan daerah catchment area, kebutuhan listrik untuk pompa yang biayanya dua juta perbulan, dan perawatan seluruh peralatan. Berita pentingnya, langkah pertama yaitu air terangkat dan bisa dimanfaatkan telah berhasil dan sukses.

Selanjutnya ...

Undangan Reuni dan tracing alumni lulusan 2009-2012

Kepada           :   Yth. Bapak/Ibu/Saudara/i

                          Alumni Fakultas Geografi UMS

                          Lulusan Tahun 2009 - 2012

                          Di Tempat

 

Selanjutnya ...

SEMINAR NASIONAL 2013: Informasi Geospasial Menjadi Salah Satu Pilar Utama Penyelenggaraan Otonomi Daerah

Otonomi daerah merupakan kebijakan besar yang perlu dilaksanakan untuk semakin meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan di setiap pelosok Indonesia. Hal tersebut sangatlah sulit dilaksanakan dengan optimal tanpa adanya dukungan perencanaan dan eksekusi pembangunan berbasis Informasi Geospasial (IG). Pernyataan tersebut disampaikan Kepala BIG, Asep Karsidi, saat bertindak sebagai Keynote Speaker dalam Seminar Nasional “Pendayagunaan Informasi Geospasial untuk Optimalisasi Otonomi Daerah”, di Universitas Muhammadiyah Surakarta, 20 Juni 2013.

Ketersediaan potensi daerah sebagai modal utama dalam pembangunan daerah akan dapat termanfaatkan optimal untuk keperluan pembangunan jika telah terinventarisasi dan terpetakan secara baik. Inventarisasi potensi dan penataan ruang wilayah daerah harus diwujudkan sebelum tahapan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerah dilakukan.

Selanjutnya ...

Daftar Makalah Seminar Nasional Pendayagunaan Informasi Geospatial 2013

Daftar makalah dapat didownload disini. Semua makalah pada daftar tersebut akan masuk Prosiding ber-ISBN dengan ketentuan penulis hadir dalam seminar serta batas akhir pengumpulan makalah adalah tanggal 20 Juni 2013. Adapun ketentuan penulisan naskah dan pengiriman naskah adalah sbb: 1. Full Paper berbahasa Indonesia atau Inggris 2. Format Tulisan *.doc, Font Arial 10, 1 Spasi, Kertas A4, Maksimal 10 halaman termasuk tabel dan gambar, Marjin atas dan bawah 3 cm, kiri dan kanan 2,5 cm. 3. Full Paper tersusun dari Judul, Nama peneliti utama dan anggota, instansi penulis, telepon, dan email, Abstrak, Pendahuluan, Metode, Hasil dan Pembahasan, Kesimpulan, Daftar Pustaka. 

Selanjutnya ...

Seminar Nasional 2013

Selanjutnya ...

Pelatihan GIS Bagi Alumni Tahun 2013

Pemberitahuan bagi alumni Fakultas Geografi UMS. Pada tahun ini fakultas melalui Laboratorium akan mengadakan pelatihan GIS secara free tahun 2013. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi alumni Fakultas Geografi UMS, terutama bagi alumni yang bekerja sebagai tenaga pendidik.

Selanjutnya ...

Contact Us

Fakultas Geografi UMS
Surakarta: Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta
Telp. 62-271-717417 ext 151-153

Galery






Calendar