Drs. H. Priyono, M.Si. (Ketua Ta’mir Masjid Al-Ikhlas Sumberejo, Klaten Selatan)

Beberapa hari belakangan ini berita soal Rohingnya sangat ramai dibicarakan baik di tingkat Nasional maupun Internasional. Data yang dirilis oleh Badan Pengungsi PBB, UNHCR, memperkirakan 270.000 Muslim Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh sejak maraknya kekerasan di Negara Bagian Rakhine, Myanmar, Jumat 25 Agustus 2017 dua pekan lalu. Sementara itu kamp-kamp penampungan di Bangladesh mulai kewalahan menerima gelombang ribuan pengungsi tersebut sehingga sebagian terpaksa mendirikan tempat penampungan sementara di tempat manapun yang bisa mereka temui. Gelombang pengungsi terbaru ini dipicu oleh serangan kelompok militan Rohingya atas pos-pos polisi di Rakhine, yang kemudian dibalas dengan operasi militer pemerintah Myanmar. Para pengungsi Rohingya yang selamat mengatakan bahwa militer di Rakhine melakukan aksi brutal sebagai tindakan balas dendam.

Kini, ribuan pengungsi Rohingya di Bangladesh tersebut terancam kelaparan karena masih sedikitnya bantuan internasional. Banyak pengungsi juga mengalami trauma psikis dan kekerasan fisik dari tentara Myanmar. Krisis Rohingya ini menjadi krisis kemanusiaan terburuk tahun ini yang membutuhkan bantuan internasional segera. Penderitaan yang menimpa muslim Rohingya tersebut jelas merupakan kemunkaran dan kedhaliman yang nyata.

Terkait kewajiban berjuang menolak kemunkaran dan kedholiman bagi seorang muslim, ada sebuah hadits shahih yang sangat masyhur yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Bahkan Imam Nawawi memasukkan hadits tersebut sebagai salah satu dari 40 hadits arba’in.

“Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Hadits tersebut menjelaskan bahwa menentang pelaku kedholiman dan menolak kemunkaran adalah kewajiban yang dituntut dalam ajaran Islam atas setiap muslim sesuai kemampuan dan kekuatannya. Amal (tindakan) merupakan buah dari iman, maka menyingkirkan kemunkaran juga merupakan buahnya keimanan. Hadits ini juga menunjukkan bahwasanya barang siapa yang mampu untuk merubah kemunkaran dengan tangan maka dia wajib menempuh cara itu. Hal ini dilakukan oleh penguasa dan pemimpin. Yang dimaksud dengan ‘melihat kemungkaran’ dalam hadist ini bisa dimaknai ‘melihat dengan mata kepala sendiri’ atau melihat dalam artian mengetahui informasinya. Apabila seseorang tidak termasuk orang yang memiliki kekuasaan untuk merubah dengan tangan maka kewajiban untuk melarang yang mungkar itu beralih dengan menggunakan lisan yang mampu dilakukannya. Dan kalau pun dengan lisannya itu pun dia tidak sanggup maka dia tetap berkewajiban untuk merubahnya dengan hati, itulah selemah-lemah iman. Menolak kemungkaran dengan hati adalah dengan membenci kemungkaran itu.

Hadits ini menunjukkan bahwa Islam selalu menekankan ummatnya untuk berusaha semaksimal mungkin yang dapat dilakukan dalam menolak kemunkaran. Misalnya dalam menyumbang untuk meringankan beban penderitaan saudara muslim Rohingya, tidaklah termasuk maksimal jika kita hanya menyumbang Rp 10.000, padahal mampu Rp 50.000 atau bahkan lebih. Atau malah-malah kita berpikir bahwa masalah muslim Rohingnya bukanlah urusan kita muslim di Indonesia. Wah, kalau ini namanya lebih lemah dari selemah-lemahnya iman.

Karena sesungguhnya umat Islam satu dengan umat Islam lainnya ibarat satu tubuh sehingga sudah semestinya saling membantu dan saling melindungi. Karena setiap Muslim hakikatnya adalah bersaudara. Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Hujurat ayat 10 yang artinya: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara.”

Selain itu, dalam hadits Nabi lain disebutkan,  “Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini (masjid Nabawi) selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani)

Maka membantu saudara muslim Rohingnya untuk saat ini adalah prioritas yang sangat penting. Nabi pun sampai menyatakan bahwa membahagiakan orang lain dan melepaskan kesulitan mereka lebih baik dari i’tikaf di Masjid Nabawi sebulan lamanya. Maka akhlak seorang muslim seharusnya senantiasa lebih mementingkan kebutuhan saudaranya dibandingkan kebutuhan akan dirinya.

Saudaraku, saudara kita muslim Rohingnya membutuhkan uluran tangan kita, mari kita bantu semaksimal mungkin bantuan yang dapat kita usahakan baik dengan harta benda ataupun tenaga. Agar jangan sampai kita tergolong dalam kategori muslim yang memiliki “selemah-lemah iman” itu. Na’ûdzu billâhi min dzâlik.