Oleh: Drs. H. Priyono, M.Si. (Ketua Ta’mir Masjid Al-Ikhlas Sumberejo, Klaten Selatan; dan Wakil Dekan I Fakultas Geografi, Universitas Muhammadiyah Surakarta)

“Sesungguhnya seseorang apabila (sering) berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas memungkiri.” (HR Bukhari)

Sampai dengan akhir April 2017 yang lalu, hutang pemerintah Indonesia sudah mencapai Rp 3.667,41 triliun. Tahun berikutnya hutang Indonesia terus meroket. Pada Januari 2018 utang Indonesia telah mencapai Rp 4.897,7 triliun. Sebuah nominal yang tidak sedikit. Meskipun sebenarnya hutang bukan barang baru bagi pemerintah Indonesia sebelum-sebelumnya, namun pada masa pemerintahan Jokowi ini hutang pemerintah Indonesia melambung tinggi dalam waktu yang singkat dan mencatat rekor hutang tertinggi sejak Indonesia merdeka. Pak SBY mengingatkan agar hati hati , jangan sampai angka rasio hutang terhadap PDB melebihi angka 30 persen karena angka tersebut merangkak dari 24,7 persen pada tahun 2014 membubung menjadi 29,2 persen pada tahun 2017.

 Data lain yang bersumber dari Indef (Institute for Development of Economic and Finance) membengkak hingga rp 7.000 triliun yang meliputi hutang Pemerintah maupun Swasta. Jika mengacu angka Indef maka hutang rakyat Indonesia per orang  sebesar Rp rp 27.000.000 dengan catatan bahwa perkiraan jumlah penduduk Indonesia tahun 2017 sebanyak 264.000.000 ( World Population Data Sheet, 2017)

Para pengamat yang optimis menilai penggunaan hutang ini lebih banyak untuk produksi atau investasi untuk infrastruktur yang nantinya akan mendorong pertumbuhan ekonomi. Sementara terdapat pula yang pesimis khawatir kalau Indonesia akan bangkrut dan jatuh ke dalam krisis ekonomi karena tidak mampu membayar hutang. Maka rakyat perlu diedukasi secara seimbang tentang manfaat dan bahaya hutang, demikian juga Pemerintah harus selalu diingatkan agar tidak terlena dalam hutang karena lebih focus pada manfaat dibanding madharat.

Di luar pro dan kontra tentang hutang di atas, bagaimana sebenarnya Islam memandang tentang persoalan hutang ini? Kita ketahui bahwa hutang-piutang memang merupakan sesuatu yang sulit dihindari dalam kehidupan banyak orang. Ajaran Islam membolehkan hutang-piutang dengan ketentuan sebagai berikut: (1) orang yang ingin berutang adalah yang benar-benar karena terpaksa; (2) orang yang berutang memiliki niat yang kuat untuk mengembalikan; (3) hutang-piutang harus ditulis dan ada saksinya; (4) pemberi hutang tidak boleh mengambil keuntungan atau manfaat dari orang yang berutang karena tujuan memberi pinjaman adalah menolong si peminjam, bukan untuk mencari keuntungan; (5) jika sudah mempunyai uang maka orang yang berutang harus segera melunasi hutangnya dan memberikan hadiah kepada yang memberi pinjaman.  Ada 11 adab dalam islam tentang berhutang yang tersarikan dari Al Qur’an dan hadits agar menjadi kehatihatian dan tahu akibatnya yaitu jangan pernah tidak mencatat, jangan pernah berniat untuk melunasi,jangan merasa tenang kalau punya hutang, jangan pernah menunda membayar, jangan pernah menunggu ditagih,jangan pernah mempersulit, jangan pernah meremehkan, jangan pernah berbohong dst, yang pada prinsipnya bila aturan itu dilanggar akan mendapatkan siksa dari alloh swt.

Ketentuan di atas menunjukkan bahwa meskipun dibolehkan namun ketentuan hutang-piutang sangatlah ketat terutama untuk ketentuan nomer 1 dan 2.. Akan tetapi, banyak orang yang menganggap remeh hal tersebut. Ada orang yang merasa nyaman dengan adanya hutang yang “melilit’ dirinya sehingga selama hidupnya tidak pernah sedetik pun lepas dari hutang. Belum lunas pinjaman yang pertama, dia sudah meminjam lagi untuk yang kedua, ketiga dan seterusnya. (Ini mirip dengan yang dilakukan pemerintah Indonesia bukan?)

Padahal teladan kita, Rosulullah SAW sangat khawatir dan takut jika hal tersebut menjadi kebiasaannya. Diriwayatkan dari ‘Aisyah RA, bahwasanya dia mengabarkan, “Dulu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sering berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari azab kubur, dari fitnah Al-Masiih Ad-Dajjal dan dari fitnah kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari hal-hal yang menyebabkan dosa dan dari berhutang.“ (HR Al-Bukhari)

Kebiasaan berhutang dapat membahayakan akhlaq seseorang. Hal ini sebagaimana sabada Rosulullah SAW: “Sesungguhnya seseorang apabila (sering) berhutang, maka dia sering berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas memungkiri.” (HR Al-Bukhari)

Hadits di atas menunjukkan bahwa meskipun kebiasaan berhutang bukanlah perbuatan dosa namun seseorang yang terbiasa berhutang dapat terjerumus kepada perbuatan-perbuatan dosa. Hadits tersebut menyebutkan dua dosa akibat dari kebiasaan berhutang yaitu: berdusta dan mengingkari janji. Hal ini masuk akal karena orang-orang yang sering berhutang sehingga dililit oleh hutangnya maka dia biasanya akan suka berbohong dan mengingkari janjinya untuk menghindar dari hutang-hutangnya.

Risiko orang yang terbiasa berhutang tidak hanya di dunia, bahkan tembus sampai ke akhirat. Rosulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah)

Islam memperbolehkan untuk berhutang, namun dengan syarat hanya pada keadaan yang benar-benar sangat terdesak saja. Maka menghindari berhutang adalah lebih baik. Hindari kebiasaan konsumtif. Jika membutuhkan sesuatu, jangan buru-buru berhutang. Lebih baik menahan diri sambil menabung, setelah uangnya cukup baru membelinya. Jangan sampai kita terlilit utang, seperti pemerintah Indonesia saat ini. Semoga kita tidak punya hutang tapi ngutangi.

Sumber: Jawa Pos Radar Solo 30 Maret 2018