Oleh: Drs. Priyono, M.Si. (Pengurus Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah (2005-2015); dan Dekan Fakultas Geografi UMS

“ ….. karena sesungguhnya sebaik baiknya bekal adalah taqwa . Dan bertaqwalah kepada-Ku wahai orang orang yang mempunyai akal sehat !( QS 2,197)

Indonesia darurat miras. Indonesia darurat narkoba. Indonesia darurat pornografi, Indonesia darurat kejahatan seksual. Indonesia, dengan demikian telah mengalami darurat akhlak , itulah salah satu petikan ceramah Prof. DR. Amin Raiz dihadapan civitas academica Universitas Muhammadiyah Surakarta di Auditorium UMS beberapa hari yang lalu. Betapa pentingnya taqwa sehingga dalam kesempatan pertama mendirikan sholat Jumat di Madinah, seruan taqwa itu pulalah yang disampaikan Rosululloh dalam khutbahnya dan dijadikanlah salah satu rukun khutbah dalam  sholat Jum’at ( Buku Pintar Khutbah Rosulullah ,668 khutbah penggugah iman dan penyempurna achlak oleh Nawaf al Jarrah).Dan dijadikanlah satu kata kunci yang tersurat dalam QS(2)197 bahwa sebaik baiknya bekal adalah taqwa. Diikuti kata kunci yang lain yaitu sebaik baiknya pahala adalah surga, sebaik baiknya machluk adalah yang beri manfaat dan sebaik baiknya kalimat yang diucapkan adalah kalimat thoyibah.

Godaan kemaksiatan ada di mana-mana. Hanya ketaqwaan saja yang dapat membentengi seorang muslim agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan. Dan puasa Ramadhan adalah kawah candradimuka bagi seorang muslim untuk membangun dan memperkokoh ketaqwaan tersebut.

Puasa tujuannya secara gamblang termaktub dalam surat Al-Baqarah: 183 adalah untuk membentuk pribadi yang bertaqwa kepada Allah. Taqwa dapat diraih melalui sikap dalam menjalani puasa, karena puasa tidak cukup hanya dengan menahan makan, minum dan seks tetapi juga sikap dan prilaku yang baik. Dalam Al Qur’an kata taqwa terdapat 224 ayat dengan berbagai bentuk  yang berbeda-beda tergantung konteks ayat yang ada, akan tetapi inti dari semua ayat itu bermuara pada beberapa pengertian, yaitu taqwa adalah orang yang beriman, taqwa adalah takut kepada Alloh dan taqwa adalah beramal soleh , melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Alloh.

Selain itu, taqwa juga berarti kewaspadaan dalam menjaga perintah dan menjauhi larangan Allah. Seorang sahabat Rasulullah SAW, Ubay bin Ka’ab memberikan gambaran jelas tentang hakikat taqwa sebagai kewaspadaan. Suatu ketika, Umar bin Khaththab r.a bertanya kepada Ubay bin Ka’ab tentang taqwa. Ubay balik bertanya :”Apakah engkau tidak pernah berjalan di tempat yang penuh duri?” Umar menjawab : “Ya.” Ubay bertanya lagi : “Lalu apa yang engkau perbuat?” Umar menjawab :”Aku sangat berhati-hati dan sangat bersungguh-sungguh menyelamatkan diri dari duri itu.” Ubay pun menyimpulkan : “Itulah gambaran taqwa.”Dengan demikian, taqwa bisa berwujud meningkatnya kewaspadaan,dengan benar benar menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT.

Sebagaimana kisah pemuda Tsabit bin Ibrahim dalam kitab terkenal “Al-Aghani” karya Abu Al-Faraj Al-Isbahani. Ketika Tsabit sedang melakukan perjalanan di pinggiran kota Kufah, ibukota Dinasti Umayyah, cuaca panas membuatnya kehausan. Tanpa sengaja Tsabit melihat sebuah apel merah nan ranum tergeletak di tepi jalan. Tanpa pikir panjang, ia segera mengambil dan memakan apel tersebut untuk mengobati dahaganya. Belum habis buah itu dimakannya, ia segera tersadar bahwa apel itu bukan miliknya. Artinya di dalam tubuhnya terdapat makanan yang tidak halal karena belum meminta izin pemiliknya. Perasaan gelisah pun menghantui Tsabit.

Ia sangat berharap agar si pemilik apel mau merelakan apel yang ada di tangannya itu untuk dimakan. Tidak jauh dari tempatnya terdapat kebun apel. Tsabit melihat seorang lelaki di dalam kebun tersebut lalu bertanya, “Apakah engkau pemilik kebun ini? Saya telah memakan apel Anda, untuk itu saya mohon maaf. Sudilah kiranya engkau merelakan apel ini agar halal untuk kumakan,” pinta Tsabit. Lelaki tersebut menjawab, “Saya bukan pemilik apel itu. Saya hanyalah seorang penjaga kebun di sini. Butuh waktu sehari semalam tiba di rumah majikanku. Perjalanannya pun tidak mudah”.  Penjaga kebun pun memberi tahu alamat majikannya.

Tanpa buang waktu, Tsabit segera berangkat menuju rumah pemilik apel. Perjalanan mendaki dan berbatu ia lalui, sungai pun ia seberangi agar ia dapat bertemu dengan pemilik apel. Hingga tibalah ia di depan rumah pemilik apel. Seorang lelaki tua membukakan pintu dan bertanya tentang maksud kedatangannya. Tsabit menjelaskan maksud kedatangannya adalah untuk meminta keikhlasan atas buah apel yang terlanjur dia makan. Pemilik kebun menjawab bahwa Ia tidak akan menghalalkannya kecuali dengan satu syarat, yaitu menikahi putrinya. Tsabit terkejut dengan syarat itu. Tsabit makin terkejut setelah lelaki pemilik apel itu menjelaskan bahwa putriknya itu “bisu, tuli, buta, dan lumpuh”. Namun, ia tidak memiliki pilihan lain. Jika syarat itu dapat membuka pintu ampunan Allah SWT, ia harus menjalaninya dengan ikhlas. Tsabit pun menyanggupi syarat tersebut. Pernikahan pun diselenggarakan. Mempelai wanita menanti di dalam rumah saat akad nikah berlangsung. Selesai dilakukan akad nikah, Tsabit dipersilakan untuk menemui istrinya di kamar pengantin. Ia mengetuk kamar yang ditunjuk sambil mengucapkan salam. Ketika Tsabit hendak membuka pintu kamar, terdengar suara wanita menjawab salamnya. Ia urung masuk ke dalam kamar itu karena yang ia tahu istrinya bisu, tuli, dan buta, “Oh, maaf, aku salah kamar!” ujar Tsabit.”Kau tidak salah. Aku istrimu yang sah!” kata wanita di dalam kamar itu, “silakan masuk, wahai suamiku!”

Ketika Tsabit masih berdiri tertegun di depan kamar, tiba-tiba pintu kamar dibuka oleh seorang wanita yang sehat wal afiat tanpa cacat seperti yang dikatakan mertuanya. Tsabit bertanya kepada wanita yang berdiri di hadapannya itu,  “Jika kau benar istriku, tapi mengapa ayahmu berkata bahwa kau bisu, tuli, buta dan lumpuh?” Istrinya menjawab: “Ayahku benar, mataku buta karena tidak pernah melihat apa-apa yang diharamkan Allah. Telingaku tuli karena aku tidak pernah mau mendengar berita yang tidak diridhoi Allah SWT, aku bisu karena tidak pernah mengatakan dusta dan segala sesuatu yang tercela. Aku dikatakan lumpuh karena aku tidak pernah pergi ke tempat-tempat yang dibenci Allah.”

Betapa bahagianya Tsabit bahwa yang ia nikahi adalah sosok wanita yang sempurna fisiknya dan juga akhlaknya. Dari pernikahan tersebut, lahir seorang ulama shalih, mujadid yang sangat terkenal, yaitu Nu’man bin Tsabit atau yang lebih dikenal dengan nama Al-Imam Abu Hanifah. Sebagaimana diketahui, Abu Hanifah merupakan ulama fikih dan ahli ra’yi, pelopor mazhab Hanafi. Kitabnya yang terkenal, yakni “Kitabul-Athar” dan “Fiqh al-Akbar”, yang hingga kini menjadi rujukan hukum fikih bagi para pengikut madzhab Hanafi di seluruh dunia.

Kisah pemuda Tabit bin Ibrahim adalah teladan ketaqwaan yang luar biasa. Tsabit sangat “waspada” sehingga sangat berhati-hati terhadap apa yang ia masukkan ke dalam perutnya. Meski menemukannya di jalan yang seharusnya tak lagi dimiliki orang lain, Tsabit merasa ragu ia akan melanggar hak kepemilikan si pemilik kebun. Ia takut bahwa memakan harta orang lain dapat membawa kemurkaan Allah. Maka, Tsabit pun bertekad memohon keridhaan dari sang pemilik apel meski harus menempuh perjalanan jauh dan memenuhi syarat menikahi wanita yang “bisu, tuli, buta, dan lumpuh” yang ternyata hanyalah sebuah sanepo (perumpamaan) terhadap kemuliaan akhlak. Orang Jawa penuh dengan perumpamaan (sanepo) untuk memberikan gambaran pada keadaan atau kondisi yang didiskripsikan. Itulah tingginya filosofi jawa.

Taqwa adalah takut dan  menghindari  apa yang diharamkan Allah, dan menunaikan apa-apa yang diwajibkan oleh Allah. Perjalanan meraih derajat taqwa diperlukan perjuangan yang sungguh-sungguh untuk melawan hawa nafsu, bisikan syaithon yang sangat halus dan sering membuat manusia terpedaya. Sikap waspada sangat diperlukan guna menghantarkan kita menuju derajat taqwa.

Waspadalah!  Karena godaan kemaksiatan ada di mana-mana baik di tempat kerja, mall,pasar,masjid,jalan,hotel,café,rumah,tempat tidur, Kampus. Pendek kata di setiap tempat dan saat. Maka berdzikirlah pada Alloh swt.

(Sumber: Jawa Pos Radar Solo)