Oleh: Drs. H. Priyono, M.Si. (Ketua Ta’mir Masjid Al-Ikhlas Sumberejo, Klaten Selatan dan Wakil Dekan I Fakultas Geografi UMS)

“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (Al-Hijr: 92-93)

Seperti biasa, Kraton Surakarta Hadiningrat setiap malam 1 Suro menyelenggarakan kirab benda pusaka kraton, salah satunya kerbau bule Kiai Slamet. Kirab tersebut sebagai rangkaian peringatan tahun baru Islam di tanah Jawa. Malam 1 Suro bertepatan dengan malam 1 Muharram dalam penanggalan Hijriyah. Hal ini tak lepas dari penanggalan Jawa dan kalender Hijriyah yang diselaraskan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613-1645) yang merupakan sultan terbesar Kerajaan Mataram Islam. Penanggalan Hijriyah diawali bulan Muharam dan oleh Sultan Agung kemudian dinamai bulan Suro. Kala itu Sultan Agung berinisiatif memadupadankan kalender Saka (yang merupakan kalender perpaduan Jawa asli dengan Hindu) dengan penanggalan Hijriyah.

Bagi ummat Islam, Muharram merupakan bulan yang suci dimana pada bulan ini diharamkan untuk berperang. Pada bulan ini Allah SWT menyelamatkan para Nabi dan Rosul dari serangan musuh. Bahkan Muharram pula merupakan awal kebangkitan Islam, yaitu ketika Rosulullah berhijrah dari Makah ke Madinah. Oleh sebab itu, umat Islam menyambut bulan tersebut dengan berbagai tradisi. Ada yang memperingati dengan mengadakan zikir bersama, sholawatan, dan banyak pula yang mengadakan pengajian akbar. Di Jawa sebagian orang menandai datangnya 1 Muharram dengan bertapa (menyepi untuk introspeksi) dan menyucikan pusaka. Hal ini tidak seperti pada perayaan tahun baru Masehi yang biasanya dirayakan dengan cara menyalakan kembang api, meniup terompet, dan begadang semalam suntuk laki dan perempuan bercampurbaur.

Berbicara tahun (baru) sangat terkait erat dengan masalah waktu. Allah SWT dalam QS Al-Ashr ayat 1–3 bersumpah demi waktu ashar yang menunjukkan betapa pentingnya waktu. Ayat tersebut menyebutkan bahwa semua manusia itu merugi kecuali yang beriman, selalu beramal sholeh, dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Oleh karena itu, agar kita tidak termasuk orang yang merugi di akhirat nanti, cara yang tepat dalam menyambut pergantian tahun adalah dengan berhisab (melakukan hisab, muhasabah atau introspeksi diri)dengan mengevaluasi dan mengkritik diri sendiri: apakah iman kita sudah lurus? Apakah kita sudah selalu beramal sholeh? Dan apakah kita sudah saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran?

Selain itu, yang tidak dapat lepas dari waktu adalah umur kita. Umur adalah nikmat yang diberikan Allah yang biasanya justru lupa kita syukuri. Betapa banyak sanak saudara dan teman atau siapa pun yang kita kenal yang tahun lalu masih hidup dan bergaul bersama kita, namun tahun ini telah habis umurnya (meninggal). Oleh karena itu, kita yang masih diberi umur di tahun 1440 Hijriyah ini seharusnya selalu bersyukur dan merenungkan untuk apa umur kita selama ini? Bagaimana kita memanfaatkan nikmat sehat dan sempat kita? Dan dengan apa kita mengisi waktu kita selama ini?

Bahkan jika perlu kita juga melakukan hisab terhadap diri kita sendiri sebelum kelak dihisab oleh Allah, sebagaimana dikatakan oleh Sayyiduna Umar bin Khattab: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab oleh Allah “.
Maka mari kita hisab diri kita dengan melihat perilaku dan amalan kita setahun lalu, kemudian bertanya: mana yang lebih banyak, kebaikan atau keburukan?

Kebiasaan muhasabah memang sangat dianjurkan dalam Islam. Rosulullah SAW bersabda, “Orang yang beruntung adalah orang yang menghisab dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsu serta berangan-angan terhadap Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR. Turmudzi).

Setelah mengetahui berapa kadar kebaikan dan keburukan kita, maka harus dilanjutkan dengan tekad untuk memperbaiki diri agar di tahun depan (hari esok) kita jauh lebih baik dari tahun lalu. Inilah yang seharusnya ummat Islam lakukan dalam menyambut tahun baru, yakni menghisab (menghitung-hitung) diri dan lalu memperbaiki diri. Sudahkah Anda melakukannya?

(Sumber: Jawa Pos radar Solo)