Drs. H. Priyono, M.Si. (Ketua Ta’mir Masjid Al-Ikhlas Sumberejo, Klaten Selatan; Wakil Dekan I Fakultas Geografi UMS)

barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya …( QS. al- Maidah: 32).

Tewasnya suporter Persija di Bandung menjadi sorotan publik beberapa hari ini. Haringga Sirla (23 tahun) meninggal di tempat akibat dikeroyok belasan oknum supporter Persib Bandung saat hendak menonton pertandingan antara Persib Bandung dan persija Jakarta di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung, pada Minggu (23/9/2018). Haringga merupakan korban meninggal ketujuh yang disebabkan karena rivalitas antara Persija dan Persib sejak 2012.

Hilangnya nyawa anak bangsa ini hanya karena alasan beda dukungan klub sepak bola merupakan tragedi yang sangat memprihatinkan. Tak hanya itu, berbagai peristiwa kriminal berujung pembunuhan dan kecelakaan akibat kelalaian dan salah prosedur yang menimbulkan korban jiwa menunjukkan betapa mudahnya nyawa melayang di negeri ini, seolah nyawa manusia begitu murah harganya. Ini membuat hilangnya rasa aman di tengah–tengah masyarakat.

Padahal Islam memandang bahwa nyawa manusia itu amat sangat berharga. Firman Allah SWT dalam Surat Al Maidah ayat 32 yang artinya: “barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya …”

Ayat ini memuat sebuah  prinsip bahwa bila seseorang membunuh orang lain tanpa alasan yang benar, maka pada hakikatnya dia telah membunuh manusia-manusia lain yang tak berdosa. Oleh karena itu, Islam sangat memperhatikan perlindungan jiwa manusia dan menganggap membunuh seorang manusia, sama dengan membunuh sebuah masyarakat.

Lebih-lebih nyawa seorang muslim, tak ternilai harganya. Allah SWT dengan tegas mengancam pelaku pembunuh seorang mukmin dengan ancaman yang sangat keras dalam Surat An Nisa’ ayat 93: “Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah neraka jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatinya serta menyediakan azab yang besar baginya.”

Dengan demikian, beratnya ancaman bagi pelaku yang menghilangkan nyawa seorang mukmin dengan sengaja tanpa alasan yang benar menunjukkan bahwa perbuatan tersebut merupakan dosa besar.

Dalam Islam, nyawa merupakan sesuatu yang sangat berharga. Islam memberikan serangkaian hukum sebagai wujud penjagaan atas nyawa manusia layaknya sesuatu yang sangat berharga. Sistem  hukum pidana Islam atau Hudud menggolongkan orang yang membunuh dengan sengaja sebagai hukum Jinayah yaitu hukuman nyawa dibalas nyawa (Qishas). Hal ini sebagaimana perintah Allah SWT dalam Surat Al Baqoroh ayat 178: “Wahai orang–orang yang beriman, diwajibkan atas kamu melaksanakan qishas berkenaan dengan orang–orang yang dibunuh. Orang merdeka dengan orang merdeka, hamba sahaya dengan hamba sahaya, perempuan dengan perempuan. Tetapi, barangsiapa yang memperoleh maaf dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikutinya dengan cara yang baik, dan membayar diat (tebusan) kepadanya dengan baik (pula). Yang demikian itu adalah keringanan dan rahmat dari Tuhan kamu. Barangsiapa yang melampaui batas setelah itu, maka ia akan mendapat siksa yang sangat pedih”.

Sifat hukum pidana Islam adalah sebagai Jawazir (pencegahan) dan Jawabir (penebus dosa maksiat sang pelaku). Hukum Qishas ini kesannya mengerikan (nyawa diganti nyawa), namun apabila Qishas ditegakkan maka akan mewujudkan rasa keadilan bagi keluarga korban. Hukuman ini juga akan memberikan efek jera bagi pelaku pembunuhan. Hukuman ini pula menunjukkan betapa Islam sangat menghargai nyawa manusia dengan memberi ancaman hukuman maksimal (mati) kepada pelaku pembunuhan. Bahkan jika seandainya keluarga korban memaafkan, sang pelaku pembunuh tidak bisa lepas dari hukuman karena ia wajib membayar diyat (denda, ganti rugi) sebanyak 100 ekor unta, 40 ekor diantaranya harus unta yang sedang bunting (100 ekor onta setara dengan 1.000 Dinar. Jika 1 Dinar = 4,25 Gram emas X 1000 = 4,25 Kg atau kira-kira setara Rp 2,5 Milyar).

Demikianlah syariat Islam telah mengatur untuk menjaga nyawa, kehormatan, dan darah manusia. Agar jangan sampai karena persoalan sepele, hanya beda klub sepak bola yang didukung nyawa dihilangkan, atau besok saat Pilpres, hanya karena berbeda partai yang didukung, ada yang tega melakukan menyakiti dan menghilangkan nyawa saudaranya. Karena nyawa manusia cuma satu satunya maka tak ternilai harganya. Mari kita jaga.