Kuliah lapangan atau field trip adalah suatu kegiatan kunjungan ke objek tertentu diluar lingkungan kampus, yang bertujuan untuk mencapai tujuan intruksional tertentu (Sumaatmadja, 1984). Dosen diajak melihat langsung objek yang akan dipelajari, mengembangkan pemikiran dan merangsang kreatifitas karena Dosen menyaksikan dan membuktikan sendiri fenomena alam yang terjadi. Melalui penggalian sumber belajar yang ada dilingkungan, secara tidak langsung dosen telah mendekatkan Dosen dengan lingkungan. Kegiatan pembelajaran seperti ini termasuk cara mencerdaskan, mendewasakan, dan membebaskan Dosen dalam mengembangkan pemikiran Dosen (Learning to think), menambah pengalaman mengajar (Learning by expirience), menimbulkan rasa peduli (Learning to care), dan rasa tanggung jawab terhadap masyarakat sekitarnya (Learning to live together) (Onah, 2008).
Pengetahuan lapangan merupakan aspek penting guna menunjang pembelajaran dalam geografi. Oleh karena itu, perlu penggalian informasi lapangan secara langsung sebagai pengalaman akademik yang akan meningkatkan pemahaman teoritik yang dialami di kampus. Kegiatan yang dilakukan dilapangan seperti menjelaskan dengan berbagai pendekatan (spasial, ekologi, komplek wilayah) terhadap fenomena-fenomena geografis wilayah seperti (sistem karst, gunung api, danau atau rawa).
Kegiatan fieldwork ini dilaksanakan di lapangan selama 1 hari dengan peserta seluruh dosen geografi yang berjumlah 15 dosen. Pemandu lapangan adalah terdiri dari 1 orang pakar yang kompeten setingkat nasional di bidang ilmu geografi. Rencana kegiatan akan dilaksanakan di Kawasan Pegunungan Menoreh Kabupaten Kulon Progo. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pemahaman lapangan dosen. Luaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah meningkatnya pemahaman teoritik dosen yang sejalan dengan pengalaman. Pegunungan menoreh dipilih karena nilai historis, daya tarik wisata dan memiliki kondisi geomorfologi yang kompleks.
Pegunungan Menoreh adalah kawasan pegunungan yang membentang di wilayah barat Kabupaten Kulon Progo di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sebelah timur Kabupaten Purworejo, dan sebagian Kabupaten Magelang di Provinsi Jawa Tengah; sekaligus menjadi batas alamiah bagi ketiga kabupaten tersebut. Puncak tertinggi di Pegunungan Menoreh berada di Gunung Ayamayam yang memiliki ketinggian lebih dari 1.021 meter diatas permukaan air laut.
Pegunungan Menoreh dikenal dalam sejarah sebagai basis pertahanan Pangeran Diponegoro bersama para pengikutnya dalam Perang Jawa (1825–1830) melawan Hindia Belanda. Salah satu puteranya yang bernama Bagus Singlon atau Raden Mas Sadewo (putera Pangeran Diponegoro dengan R. Ay. Mangkorowati) memimpin perlawanan di wilayah ini. Raden Mas Sodewo atau Ki Sodewo bertempur di wilayah Kulonprogo mulai dari pesisir selatan sampai ke Bagelen dan Samigaluh.
Daerah Pegunungan Menoreh secara geomorfologis mempunyai bentuk lahan yang kompleks. Kompleksnya kondisi fisik daerah Pegunungan Menoreh adalah adanya proses endogenik dan eksogenik yang bekerja pada berbagai batuan hingga membentuk bentanglahan yang ada saat ini. Beberapa batuan ditemukan antara lain: batu pasir, napal pasiran, batu lempung, dan batu gamping pada Eosen Tengah; batuan andesit, breksi andesit dan tuff yang merupakan hasil aktivitas Gunung api Menoreh pada Oligosen; batu gamping dan koral yang terendapkan pada Miosen Bawah; dan material koluvium yang terendapkan pada Zaman Quarter