Dunia kita tengah digemparkan dengan penyebaran virus yang lebih sering kita dengar dengan sebutan virus corona atau Covid-19. Virus ini sejatinya sudah ditemukan tahun 1965 pada manusia yang sedang flu biasa. Hal tersebut terbukti melalui kultur organ trakea embrionik yang diperoleh dari pernafasan seseorang yang menderita flu.

Namun, sekitar akhir tahun 2019 sampai awal tahun 2020 virus tersebut muncul kembali dan berkembang dengan sangat pesat. Kota Wuhan disinyalir menjadi asal mula virus corona dan terus menyebar sampai ke seluruh dunia hingga detik ini.

Virus penjelajah yang tidak mengenal batas geografi manapun hingga dari ujung dunia utara ke selatan dan dari ujung timur ke barat, dengan penyebaran yang cepat karena mobilitas manusia di era global.

Dulu menurut teori mobilitas klasik dari Wilburg Zelinsky mengatakan bahwa terjadi dinamika dalam gerak penduduk, dimulai di era pra transisi demografi, dimana manusia bergerak dalam radius yang terbatas bahkan untuk kepentingan yang terbatas pula.

Seiring perkembangan tehnologi dan pasca transisi demografi, gerak manusia menjadi penjelajah dunia sehingga dengan ini ada kaitan antara mobilitas penduduk dan penularan virus penjelajah ini.

Banyak negara yang sudah terjangkit virus ini, oleh karenanya beberapa negara pun menerapkan sistem lokcdown.

Memang akhir-akhir ini acap kali kita mendengar kata tersebut. Lockdown sendiri secara harfiah memiliki makna dikunci, maksudnya menutup akses masuk maupun keluar suatu daerah yang mengalami suatu kejadian tertentu.

Setiap Negara menerapakan kebijakan yang berbeda sesuai karakteristik bangsanya. China sangat berhasil menurunkan penderita Covid 19 dengan lockdown, begitu juga di Itali dan Negara lain seperti Malaysia.

Akan tetapi Korea Selatan, tanpa lockdown pun juga berhasil mengatasi wabah ini . Indonesia juga mengambil kebijakan phisycal distancing ( jauh jaraknya tetapi tetap dekat di hatia, bisa berkomunikasi) bukan lockdown dalam arti yang ketat.

Istilah tersebut kerap kali muncul dan bertengger di berbagai laman media masa, pasalnya saat ini dunia tengah mengalami masa pandemi penyakit akibat dari penyebaran virus corona. Sebab itu, sistem lockdown dilakukan dengan tujuan untuk mencegah penyebran virus corona yang lebih parah lagi.

Bagaimana dengan kebijakan pemerintah kita ?

Perkembangan virus corona tergolong sangat cepat. Mulanya hanya di Kota Wuhan saja, tapi tak butuh waktu lama virus ini sudah menjalar hingga ke seluruh dunia. Dilansir dari Kompas.com setidaknya sebanyak 168 negara mengonfirmasi bahwa sudh terinfeksi Covid-19, tak terkecuali negara Indonesia.

Penyebaran Covid-19 di Indonesia terus meningkat, baik dari segi jumlah kasus, maupun jumlah pasien yang sudah positif, bahkan jumlah pasien yang meninggal dunia.

Di negara Indonesia per 24 Maret 2020 yang lalu, setidaknya ada 686 kasus positif virus corona. Data tersebut telah mengalami kenaikan sebanyak 107 pasien dari data pada hari sebelumnya. Lalu beparakah jumlah data saat ini? Pada kamis 25 Maret 2020 data tersebut kembali mengalami kenaikan sebanyak 104 kasus.

Total pasien positif corona ada 790 orang dengan jumlah pasien yang sudah sembuh sebanyak 31 orang dan jumlah pasien yang meninggal 58 orang. Update pada 24 Maret 2020 sebanyak 3.332 orang telah diperiksa dan 2.615 orang dintaranya dinyatakan negatif Covid-19.

Atas dasar tersebut banyak pihak yang mengusulkan untuk menerapkan sistem lockdown, dengan tujuan untuk mencegah penyebran virus coron yang lebih parah lagi.

Akan tetapi agaknya rencana tersebut belum dapat dilakukan di negara kita, pasalnya pemerintah menganggap bahwa lockdown bukan hanya menutup penyebaran virus, akan tetapi menutup segala bentuk kegiatan bahkan yang lebih esktrimnya lagi kehidupan yang ada, termasuk bisnis, distribusi bahan makanan, dll.

Salah satu alterntif yang dapat ditempuh untuk menghindarkan diri dari penyebaran Covid-19 yaitu dengan mengurangi kontak sosial dengan orang di sekitar kita atau yang lebih sering disebut dengan physical distancing. Cara ini lebih dianjurkan, sejatinya lockdown sendiri merupkan perluasan dari physical distancing.

Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara menghindarkan diri dari kerumunan, dan mengurangi aktivitas di luar rumah termasuk bekerja, belajar, dan beribadah.
Apak physical distancing efektif untuk menekan penyebaran Covid-19?

Jawabannya adalah iya. Memang Covid-19 tidak menyebar melalui udara melainkan dengan droplet.

Penyebaran droplet sendiri berati penularan virus dapat terjadi jika penderita batuk atau bersin dan mengelurkan percikan cairan (droplet) yang mengandung kuman.

Apabila percikan cariran berisi kuman memasuki mata, mulut, atau hidung orang yang sehat, maka tidak menutup kemungkinan ia akan tertular virus tersebut, seperti yang terjadi pada Covid-19.

Dampak kebijakan physical distancing

Nyatanya dampak dari penerapan kebijakan physical distancing dapat menekan angka penyebaran pandemi Covid-19. Memang sejatinya cukup efektif untuk menekan angka penyebaran virus corona. Dikarenkan mau tidak mau masyarakat akan lebih banyak dirumah, sehingga baik penderita maupun orang yang masih sehat tidak mudah menular atau tertular.

Hal tersebut sama seperti yang dilakukan Universitas Muhammadiyah Surkarta. Saya rasa tidak hanya UMS saja yang menerapkan sistem physical distancing untuk sementara waktu. Hampir seluruh universitas baik yang ada di dakam ataupun di luar Pulau Jawa menghentikan segala bentuk kegiatan perkuliahan yang ada.

Seluruh aktivitas perkuliahan diganti dan dilakukan di rumah. Bagi mahasiswa kegiatan yang dilakukan antara lain kuliah online, mengerjakan tugas dosen, dan memanfaatkan waktu cuti untuk muhasabah diri.

Bagi dosen biasanya menyiapkan materi perkuliahan online dan tetap melayani mahasiswa secara online, menulis artikel ilmiah untuk dipublikasikan,menyiapkan laporan penelitian dan pengabdian pada masyarakat serta submit call paper pada seminar nasional dan kegiatan social kemasyarakatan lainnya.

Berdasarkan evaluasi dari mahasiswa mengenai kepuasan pembelajaran online, sangat ditentukan oleh banyak factor, antara laian metode aplikasi online yang dipakai, jumlah mahasiswa yang megikuti klas,jenis materi mata kuliah misalnya mata kuliah yang banyak rumus matematika maka perlu aplikasi yang lebih canggih, jenis tatap muka bentuknya kuliah atau praktikum, sinyal online.

Disamping dari sisi conten juga ditentukan oleh sumberdaya manusia dosen dalam mengaplikasikan tehnologi pembelajaran dan keseriusan mahasiswa mengikuti kuliah online. Namanya alternative, tentu tidak sepuas kuliah atau praktikum tatap muka.

Semuanya dilakukan secara online baik kergiatan pembelajaran selama perkuliahan maupun ujian tengah semester serta segala bentuk konsultasi.

Hal tersebut semata-mata untuk menjaga diri dari penyebaran Covid-19 yang kian hari kian memakan banyak korban. Alloh swt beri cobaan kepada manusia sesuai kemampuannya.

Sebelumnya, ketika gempa terjadi, kita disuruh ke luar rumah! Tapi kini sebaliknya, Corona datang justeru kita diminta masuk rumah. Bagaimana kalau besok terjadi gempa, kita mau kemana? Maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Ada pesan religi, sepucuk surat kelelawar untuk manusia yang isinya: Aku kelelawar , hewan yang hina, hidupku di goa yang gelap, wajahku seram, aku diciptakan oleh Tuhan dengan keistimewaanku untuk membawa virus yang berbahaya agar tidak menhancurkan kalian manusia.

Engkau katanya machluk paling sempurna dan perkasa akan tetapi karena ketamakanmu melampui batas norma manusia, aku sudah menjauh ke goa goa tapi engkau santap dengan lahap maka tahukah kalian jika tubuhku kau robek maka virus itu akan berhamburan dan akan membinasakanmu.

Keserakahan menhancurkan keseimbangan dalam kehidupan.
Semoga kita senantiasa dalam lindungan-Nya. Aamiin