Belakangan ini dunia pendidikan tengah menjadi sorotan serta perbincangan hangat dikalangan masyarakat pasalnya mengalami kevakuman untuk sementara waktu akibat wabah virus corona yang mendunia. Beberapa maklumat pun dikeluarkan guna mencegah penyebaran virus yang tengah menyerang negara Indonesia selama beberapa waktu terakhir.

Salah satu isi kebijakan yang dikeluarkan pemerintah yaitu untuk menunda seluruh kegiatan akdemis dan non akademis selama kurang lebih 2 minggu kedepan. Hal tersebut dimaksudkan untuk menjawab keresahan dari orang tua yang khawatir apabila anaknya akan terinfeksi covid-19 jika melakukan kegiatan yang bersinggungan dengan khalayak ramai.

Bahkan Preisden dalam pesan singkatnya menyatakan, sudah saatnya kita bekerja, beribadah dan belajar di rumah. Bahkan beberapa Negara telah melakukan tindakan lockdown seperti Itali, US, Denmark, China, Iran karena kekhawatirannya penyebaran virus corona yang cepat dan penjelajah benua.

Indonesia masih berfikir secara hati hati untuk menuju kebijakan lockdown karena imbasnya terhadap perekonomian luar biasa dan bisa beimbas ke masalah politik maka kebijakan social distance dan disiplin jaga kebersihan menjadi pilihan terbaik, sambil memohon kepada Alloh swt agar bencana ini segera berakhir.

Oleh karena itu, beberapa perguruan tinggi pun memberlakukan sistem kuliah daring (online), tidak terkecuali Universitas Muhammadiyah Surakarta, kampus perguruan tinggi swasta yang berwacana keilmuan dan keislaman dengan jumlah mahasiswa terbesar di Jateng, sekitar 27.000.

Tujuannya agar mahasiswa tetap dapat melakukan kegiatan perkuliahan meskipun tidak bertatap muka langsung dengan dosen pengampu sehingga jeda waktu selama 2 minggu dapat dimanfaatkan secara maksimal. Namun perlu diingat bahwa tujuan pembelajaran adalah mentransfer ilmu dari dosen ke mahasiswa sehingga mahasiswa memahami apa yang diberikan oleh dosen, yang semula tidak tahu menjadi tahu.

Filosofi pendidikan yang krusial lain adalah mindset mahasiswa dalam pembelajaran adalah memahami ilmu kemudian menerapkan , bukan hanya nilai yang diburu.

Selain itu pengajaran harus diikuti dengan pendidikan sehingga tercipta akhlak yang mulia.

Sayangnya, tidak semua dosen memahami betul bagaimana dan apa yang dimaksudkan dengan kuliah online. Padahal yang dimaksudkan dengan sistem kuliah online sendiri yaitu sistem perkuliahan yang memanfaatkan akses internet sebagai media pembelajaran yang dirancang dan ditampilkan dalam bentuk modul kuliah, rekaman video, audio, atau tulisan oleh pihak akademi/universitas (Wikipedia).

Pada kenyataanya saat praktik di lapangan bisa jadi bukanlah seperti yang diuraikan seperti penjelasan di atas, akan tetapi justru sebagai ajang dosen untuk memberikan tugas bagi mahasiswa, dengan kata lain dapat dikatakan bukanlah kuliah online yang terjadi tapi tugas online.

Sebenarnya hal tersebut tidak sepenuhnya salah, tapi coba kita bayangkan apabila setiap dosen menerapkan sistem yang sedemikian rupa, menggantikan materi tatap muka dengan tugas yang cukup banyak dengan waktu yang terbatas tidak menutup kemungkinan mahasiswa akan kewalahan dan proses pembelajaran menjadi tidak maksimal.

Tidak sedikit mahasiswa yang mengeluhkan dan menyayangkan hal tersebut. Pasalnya banyak kendala yang mereka temui tatkala menggunakan sistem online.

Salah satu yang menjadi persoalan utama yaitu terkait kendala jaringan yang dialami mahasiswa. Banyak yang kesulitan mengakses baik tugas maupun modul yang diberikan.

Berdasarkan survei yang saya lakukan lebih dari 90% mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakartan merasa bahwa sejatinya kebijakan tersebut kurang efektif. Pasalnya perkuliahan tatap muka secara langsung saja terkadang masih harus membutuhkan pemahaman ekstra, terlebih dengan adanya kebijakan kuliah online mahasiswa dituntut untuk belajar dan memahami sendiri materi yang disampaikan.

Selain itu, tidak semua mahasiswa mendapatkan fasilitas wifi sehingga harus merogoh kocek yang lebih dalam lagi untuk membeli kuota. Ternyata antusias mahasiswa dalam menanggapi persoalan tersebut cukup tinggi.

Tidak hanya mahasiswa yang berasal dari UMS saja, tetapi mahasiswa dari beberapa kampus lain seperti UNS, UGM, UPNVY pun merasakan hal yang sama.

Beberapa keresahan mahasiswa terkait dengan diberlakukannya sistem kuliah online :

1. Kendala sinyal yang menjadi hambatan mahasiswa dalam mengakses modul perkuliahan.

2. Beberapa alat elektronik mengharuskan terhubung dengan listrik, jika terjadi mati listrik mahasiswa kesulitan untuk melakukan presensi.

3. Faktanya yang terjadi bukanlah kuliah online, tapi tugas online.

4. Pengumpulan tugas secara online membuka peluang untuk copy paste semakin tinggi.

5. Mahasiswa menjadi tidak leluasa dalam pembelajaran karena tidak terjadi komunikasi 2 arah antara mahasiswa dengan dosen.

Namun, 10% yang lain merasa bahwa hal tersebut cukup efektif karena mahasiswa dapat mengakases modul perkuliahan dimanapun dan kapanpun, dengan kata lain mereka dapat menyesuaikan jam belajar sesuai dengan keinginan masing-masing.

Selain itu, mereka merasa bahwa kuliah daring merupakan salah satu tindakan preventif untuk menekan penyebaran covid-19. Dengan demikian, masasiswa dapat melakukan social distance yang mana dapat mengurangi intensitas interaksi antara carier dan calon korban selanjutnya.

Lucunya, waktu luang selama sistem kuliah daring justru disalahgunakan mahasiswa untuk berlibur, padahal sudah banyak himbauan yang menegaskan bahwa tujuan dari kuliah online untuk mengurangi interaksi antar mahasiswa.

Jika sudah seperti ini siapa yang akan disalahkan?

Benar apa yang disampaikan Gubernur DIY, apakah jika sekolah diliburkan, apakah ada jaminan dari orang tuan bahwa anak tidak bepergian ? Jika lockdown, bagaimana rakyat kecil mendapatkan sesuap nasi seteguk air? Apakah pemerintah akan menanggung kebutuhan sehari hari mereka?

Sebenarnya metode yang paling efektif tetaplah perkuliahan face to face secara langsung, akan tetapi jika wabah sudah memasuki stage pandemic maka jenis keefektifan metode perkuliahan sudah bukan lagi menjadi suatu masalah utama, yang terpenting adalah keselamatan orang banyak dan bentuk pertanggung jawaban dari pihak akademika terhadap berjalannya proses perkuliahan.

Sistem kuliah ini hanya menjadi alternative bukan cara regular dan perlu dievaluasi keberlanjutannya. Disisi lain memang ada kelebihannya dan itu yang harus diadopsi.