Oleh:
Iswahyudiharto(Guru Geografi SMAN 1 Pagak,Malang,Jatim dan Ketua MGMP Geografi Jatim)
Drs.Priyono,MSi(Dosen dan Wakil Dekan I Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)

 

Negara kita adalah Negara yang gemah ripah lohjinawi, demikian ungkapan dalam sebuah pewayangan, akan tetapi juga berjulukan Negara yang super market bencana silih berganti mulai dari banjir, tanah longsor, erupsi gunung api yang jumlahnya ratusan dengan silih berganti mengeluarkan isi perutnya , kekeringan,bencana sosial seperti kemiskinan dan lainnya.

Kita di negeri hidup berdampingan dengan bencana karena pertumbuhan penduduk yang tinggi menjadikan memilih truang yang aman amatlah langka maka dimanapun tinggal bermukim harus dilaksanakan meskipun memiliki resiko tinggi terhadap bencana misal tinggal di daerah yang rawan gempa, rawan erupsi, rawan kekringan. Kita harus paham kondisi ini dan bisa menyesuaikan jika tidak bisa merubahnya, miimal berusaha untuk mengurangi resiko korban yang bergelimpangan dengan cara Memahami kemudian dengan pengetahuan kita melakukan mitigasi.

Mitigasi adalah mengambil tindakan untuk mengurangi pengaruh dari suatu bahaya sebelum bahaya terjadi (Coburn A.W., Spence R.J.S., Pomonis A. dalam Triton P.B., 2009:134). Mitigasi juga diartikan meminimalkan resiko bahaya dari bencana alam yang terjadi. Sedangkan bencana alam menurut Sutikno dalam Triton P.B. (2009:134) adalah peristiwa yang diakibatkan oleh proses alam, baik yang diawali oleh proses alam itu sendiri maupun oleh aktivitas manusia.

Jenis bencana menurut Nurjanah, dkk (2012:20) meliputi: (1) bencana geologi; (2) bencana hidro-meteorologi; (3) bencana biologi; (4) bencana kegagalan teknologi; (5) bencana lingkungan; (6) bencana sosial; (7) kedaruratan kompleks yang merupakan kombinasi dari situasi bencana pada suatu daerah konflik. Dalam konsep mitigasi bencana terdapat empat variabel penting yakni: resiko bencana (risk), ancaman bencana/bahaya (hazard), kapasitas masyarakat (capacity), dan kerentanan bencana (vulnerability). Rumusan sederhana yang dapat kita buat dengan mengkorelasikan seluruh variabel tersebut adalah: r = h x , dimana r: resiko (risk), h: bahaya (hazard), v: kerentanan (vulnerability), c: kapasitas masyarakat (capacity). Artinya resiko bencana akan menjadi tinggi jika ancaman bahaya dikalikan kerentanan bencana yang dibagi dengan kapasitas masyarakat menjadi tinggi.

Bencana alam yang dimaksud dalam tulisan ini hanya difokuskan pada wabah penyakit yang diakibatkan oleh virus Covid-19. Jika merujuk jenis bencana menurut Nurjanah, dkk di atas, maka wabah penyakit menular yang telah menjadi pandemi itu termasuk dalam bencana biologi. Adapun uraian mitigasi dalam pandangan agama yang dimaksud adalah agama Islam.

Wabah penyakit yang menular dan mematikan dalam agama Islam disebut al tha’un. Edaran PP Muhammadiyah No. 02/EDR/I.0/E/2020 bahwa ….. Kondisi saat ini telah memasuki fase darurat Covid-19 berskala global berdasarkan pernyataan resmi WHO bahwa wabah itu telah menjadi pandemi dengan kriteria Kejadian Luar Biasa (KLB) yang mengacu pada Keputusan Direktur Jenderal Pemberatasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Permukiman Kemererian Kesehatan RI No. 451/91 tentang Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan KLB bahw suatu kejadian dinyatakan luar biasa jika ada unsur: (1) timbulnya suatu penyakit menulat yang sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal; (2) peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu).

Dalam konteks berkembangnya wabah Covid-19 sekarang, perlindungan keberagamaan dan jiwa raga menjadi keprihatinan (concern) kita semua. Dari nilai-nilai dasar ajaran agama diturunkan sejumlah prinsip yang mengutamakan penghindaran kemudharatan dan pemberian kemudahan dalam menjalankan agama yang bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan. Usaha aktif mencegah penularan Covid-19 merupakan bentuk ibadah yang bernilai jihad, dan sebaliknya tindakan sengaja yang membawa pada resiko penularan merupakan tindakan buruk/zalim.

Hal ini selaras dengan Al Qur’an Surat Al-Maidah [5] ayat 32: Man qatala nafsan bighairi nafsin au fasaadin fiil ardhi faka’an nnamaa qatala nnaasa jamiiaan wa min ahyaahaa (Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.

Ayat ini menunjukkan bahwa siapa saja yang berusaha memelihara eksistensi kehidupan seorang manusia, maka ia seakan telah menjaga eksistensi kehidupan seluruh umat manusia. Sebaliknya, siapa saja yang telah dengan sengaja membiarkan seseorang terbunuh, maka ia seakan telah menghilangkan eksistensi seluruh umat manusia.

Dalam rangka menghindari dampak buruk berkembangnya Covid-19 harus diperhatikan berbagai petunjuk dan protokol yang telah ditentukan oleh pihak berwenang, termasuk melakukan perenggangan sosial (social distancing) maupun upaya stay at home atau work from home sebagai tindakan preventif dengan tetap memperhatikan produktivitas kerja.

Hal ini sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW yang artinya, dari Abu Hurairah (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasululloh SAW bersabda: jangan orang sakit dicampurbaurkan dengan orang yang sehat [HR Muslim]. Dari ‘Abdullah Ibn ‘Amir (diriwayatkan) bahwa ‘Umar pergi menuju Syam. Ketika sampai di wilayah Sargh, ia mendapatkan kabar tentang wabah yang sedang terjadi di Syam. ‘Abd ar-Rahman Ibn ‘Auf lalu menginformasikan kepada ‘Umar bahwa Nabi suatu ketika pernah bersabda: Apabila ka-mu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika wabah itu terjadi di tempat kamu berada, maka jangan keluar (pergi) dari tempat itu [HR al-Bukhari].

Tindakan ini sejalan pula dengan perintah Rasululloh SAW kepada orang yang sakit ketika terjadi suatu baiat. Dalam prosesi baiat umumnya kedua belah pihak saling bersalaman, akan tetapi dalam kasus tersebut Rasulullah SAW menyuruh pulang orang yang sakit itu dengan tetap menerima baiatnya sebagaimana hadist, dari ‘Amr bin asy-Syaid, dari ayahnya (diriwayatkan bahwa) ia berkata: pernah ada di dalam rombongan utusan Bani Saqif seorang lelaki yang mengidap sakit kusta (penyakit menular) ingin berbaiat kepada Nabi. Ketika mengetahui hal tersebut,

Rasulullah lalu mengirimkan seorang utusan yang menyampaikan pesan kepadanya bahwa: sesungguhnya kami (Rasulullah) telah menerima baiatmu, maka pulanglah sekarang [HR Muslim]. Sesuai pula dengan firman Allaah pada QS Al-Taubah [9]:105, artinya “Katakanlah, bekerjalah kamu, maka Allaah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allaah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakanNya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.

Dalam kondisi wabah Covid-19 seperti saat ini yang mengharuskan perenggangan sosial, shalat lima waktu dilaksanakan di rumah masing-masing dan tidak perlu di masjid, mushala, dan sejenisnya yang melibatkan konsentrasi banyak orang agar terhindar dari mudharat penularan penyakit tersebut. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW yang artinya, Dari Ibn ‘Abbas (diriwayatkan bahwa) ia berkata, Rasulullaah SAW bersabda, “Tidak ada kemudharatan dan pemudharatan [HR Malik dan Ahmad, dan ini lafal Ahmad].

Nabi SAW juga menegaskan bahwa orang boleh tidak mendatangi shalat jama’ah, meskipun sangat dianjurkan apabila ada udzur berupa keaadan menakutkan dan adanya penyakit, dari Ibn ‘Abbas (diriwayatkan bahwa) ia berkata, Rasulullaah SAW bersabda, “Barangsiapa mendengar adzan, lalu tidak ada udzur baginya untuk menghadiri jama’ah. Para Sahabat bertanya, apa udzurnya? Beliau menjawab, keadaan takut dan penyakit, maka tidak diterima shalat yang dilakukannya [HR Abu Dawud].

Selain itu agama dijalankan dengan mudah dan sederhana, tidak boleh memberatkan sesuai dengan tuntunan Nabi SAW yang artinya Dari Abu Barzah al-Aslami (diriwayatkan bahwa) ia berkata, “Rasulullaah SAW bersabda, hendaklah kamu menjalankan takarub kepada Allaah secara sederhana – beliau mengulanginya tiga kali – karena barangsiapa mempersulit agama, ia akan dipersulitnya [HR Ahmad].

Nabi SAW juga menuntunkan bahwa perintah agama dijalankan sesuai kesanggupan masing-masing yang artinya, “dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW (diriwayatkan bahwa) beliau bersabda, … maka apabila aku melarang kamu dari sesuatu, tinggalkanlah, dan apabila aku perintahkan kamu me-lakukan sesuatu, kerjakan sesuai kemampuanmu” [HR al-Bukhari dan Muslim].
Shalat Jum’at diganti dengan shalat Dzuhur (empat rakaat di rumah masing-masing. Hal ini didasarkan atas keadaan masyaqqah dan ketentuan hadist bahwa shalat Jum’at adalah kewajiban pokok dan mafhumnya shalat Dzuhur adalah kewajiban pengganti.

Dalam kaidah fikih dinyatakan, yang artinya “apabila yang pokok tidak dapat dilaksanakan, maka beralih kepada pengganti [Syar Manzumat al-Qawa’id al-Fighiyyah]. Berdasarkan kaidah ini, karena shalat Jum’at sebagai kewajiban pokok tidak dapat dilakukan, maka beralih pada kewajiban pengganti, yaitu shalat Dzuhur empat rakaat yang dikerjakan di rumah masing-masing.

Peralihan pengganti ini didasarkan pada mafhum aula dari hadist berikut, yang artinya “dari Abdullah Ibn ‘Abbas (diriwayatkan) bahwa ia mengatakan kepada muazimnya di suatu hari yang penuh hujan, jika engkau sudah mengumandangkan asyhadu an la ilaaha illa-laah (aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allaah), asyhadu anna Muhammadan rasulullaah (aku bersaksi bahwa Muhammad utusan Allaah), maka jangan ucapkan hayya ‘alash-shalah (kemarilah untuk shalat), namun ucapkan shallu fii buyutikum (shalatlah kalian di rumah masing-masing). Rawi melanjutkan: seolah-olah orang-orang pada waktu itu mengingkari hal tersebut. Lalu Ibn ‘Abbas mengatakan, apakah kalian merasa aneh dengan ini? Sesungguhnya hal ini telah dilakukan oleh orang yang lebih baik dariku (maksudnya Rasulullaah SAW).

Sesungguhnya shalat Jum’at itu adalah hal yang wajib (‘azmah), namun aku tidak suka memberatkan kepada kalian sehingga kalian berjalan di jalan becek dan jalan licin” [HR Muslim].
Demikian upaya untuk melakukan mitigasi bencana alam, khususnya dalam menghadapi musibah pandemi yang tidak mengenal batas spasial ini berdasarkan ajaran agama, khususnya dalam pelaksanaan ibadah shalat.

Menurut M. Fathoni dalam sebuah acara seminar via web (Webminar) bahwa wabah Covid-19 ini sebagai the silent killer dan menurut T. Bachtiar, sebagai bencana yang bersifat abstrak, sama seperti gempabumi. Untuk itu, kini saatnya kita lebih proaktif untuk melakukan mitigasi bencana, terlebih ketika diterapkannya pola New Normal nanti. Kegiatan di berbagai lembaga pendidikan mulai diaktifkan kembali walau dengan sistem sift dan tetap menggunakan protokol kesehatan.

Demikian pula untuk kegiatan seperti di perkantoran dan beberapa kegiatan lain terbatas yang diperbolehkan pada tahap awal pola itu diterapkan. Semoga musibah ini segera diangkat oleh Allaah SWT dari muka Bumi sehingga kita bisa beraktifitas normal seperti sedika kala. Aamiin. (*)

 

(*) Tulisan ini juga dimuat pada Pasundan Express dengan link: https://www.pasundanekspres.co/opini/mitigasi-bencana-dalam-bingkai-religi/