Subscribe News


 
E-mail
Name

 

Anda Pengunjung Ke:

free html visitor counters

User:


Perubahan Suhu Membahayakan


Rudiyanto

SOLO - Saat ini bumi mengalami perubahan sangat cepat. Beberapa diantaranya adalah adanya pertumbuhan penduduk dan konsumsi sumber daya alam. Sehingga, hal tersebut semakin memperbanyak tantangan yang harus dihadapi oleh manusia. "Banyak tantangan yang harus dihadapi. Mengenai isu lingkungan, banyak indikator yang menyebabkan hal tersebut terjadi ujar Kepala Badan lnformasi Geospasial Dr. Priyadi Kardono dalam seminar nasional geografi di Hotel Pramesthi, Sabtu (7/3).

Seminar yang diselgnggarakan Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tersebut membahas mengenai peran ilmu geografi dalam membantu permasalahan dan kesejahteraan masyarakat.

Lebih lanjut Priyadi mengatakan, beberapa indikator permasalahan lingkungan dapat dilihat sekarang ini. Salah satunya adalah hujan yang semakin besar dan sering diikuti dengan angin puting beliung. Selain itu, kekeringan, banjir serta gelombang panas dan kondisi musim menyimpang yang sering terjadi.,;,.

"sekarang ini indikator permasalahan lingkungan bisa dilihat. Banyak penyimpangan cuaca saat ini. Dan semakin seringnya curah hujan besar dengan angin puting beliuirgi ungkapnya.

Priyadi juga mengatakan bahwa ancaman serius bumi adalah adanya perubahan suhu pada lingkungan global. Dia mempredilsikan bahwa temperatur bumi akan mengalami kenaikan sebanyak 2 derajat celcius diatas periode pra industrialisasi pada tahun 2050. Sehingga, apabila hal tersebut tidak segera diatasi, maka akan terjadi perusakan ekosistem yang mematikan. Kalau tidak tidak segera diatasi permasalahan tersebut, I miliar orang akan diungsikan, 30 persen tanaman dan hewan akan punah' bebernya.

Oleh karena itu, melalui ilmu geospasial tersebut, diketahui indikasi-indikasi perubahan cuaca. Sehingga, dapat dipetakan langkah yang harus dilakukan untuk mengantisipasi hal tersebut terjadi di masa depan. Salah satu langkah yang harus diambil adalah dengan memberlakukan kebijakan menurunkan emisi gas rumah kaca. "Emisi gas rumah kaca tidak boleh lebih dari 490 ppm, setara dengan CO2 (karbondioksida)," ujar Priyadi.

Untuk melakukan hal tersebut, salah satu langkah tepat yang harus diambil adalah dengan menurunkan adanya penebangan liar di hutan. Pasalnya, akibat dari penebangan liar tersebut, adalah semakin meningkatkan kadar karbondioksida di atmosfer. Sehingga, berpotensi meningkatkan iklim suhu di bumi. "Saat ini Indonesia merupakan negara terbesar kedua,setelah negara Brasil tentang penebangan liar," ungkapnya.

Sumber: Jawa Pos Radar Solo, 7 Maret 2015

 

Tanggal Posting: 17 Maret 2015

Contact Us

Fakultas Geografi UMS
Surakarta: Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta
Telp. 62-271-717417 ext 151-153

Galery






Calendar