Subscribe News


 
E-mail
Name

 

Anda Pengunjung Ke:

free html visitor counters

User:


Kota Solo: City of Tommorow ataukah City of Sorrow?


Drs. Priyono, M. Si

Solo adalah kota yang istimewa. Sederet keistimewaan dimiliki kota yang bentuknya seperti mangkok tempat nasi soto diapit oleh 3 buah gunung Merapi-Merabu dan Lawu ini dan pegunungan seribua di bagian selatan, mulai dari  sejarahnya, budayanya, kulinernya, hingga destinasi wisatanya. Selain itu, ada satu lagi keistimewaan Solo yang sering luput dari amatan kita, yaitu bahwa sejak dekade terakhir kota solo merupakan kota terpadat penduduknya di Jawa Tengah dan kota dengan pertumbuhan penduduk yang rendah selama 15 tahun terakhir. Rendahnya pertumbuhan penduduk solo diperkirakan karena merupakan kota pendidikan, fungsi kota budaya yang lebih atraktif ditambah daerah belakangnya masih sangat luas sehingga penduduk lebih nyaman tinggal di daerah luar solo yang aksesibilitas maupun jarak sangat tinggi dan dekat. Kasto dalam the journal of geography menyimpulkan rendahnya pertumbuhan penduduk kota Yogya dan diperkirakan sama dengan solo, disebabkan Karen fungsi kota Yogya sebagai kota pendidikan dan budaya yang punya daya tarik yang tinggi, menjadikan penduduk hanya tinggal sementara saja. Disamping itu tingginya wanita yang belum menikah pada usia yang seharusnya telah menikah, bahkan kota Yogyakarta memiliki migrasi bersih yang negative seperti juga daerah istimewa Yogyakarta.

Hasil penghitungan penduduk melalui Sensus Penduduk 2010 menunjukkan fakta bahwa Surakarta termasuk kota yang memiliki kepadatan penduduk tinggi. Tingkat kepadatan penduduk kota Surakarta mencapai 11.431 orang per kilometer persegi. Ini padat sekali mengingat luas Surakarta hanya 44 kilometer persegi. Dibandingkan dengan Kota Semarang yang merupakan ibu kota provinsi, tingkat kepadatannya hanya 3 ribu per kilometer persegi pada statistik 2007. Maka tak heran jika dibandingkan dengan kota lain, kota Surakarta merupakan kota terpadat di Jawa Tengah dan ke-8 terpadat di Indonesia, dengan luas wilayah ke–13 terkecil, dan populasi terbanyak ke-22 dari 93 kota otonom dan 5 kota administratif di Indonesia.

Badan Pusat Statistik menyebutkan jumlah penduduk Kota Solo bertambah sekitar 10.000 jiwa selama satu dasawarsa terakhir.
Pada Sensus Penduduk (SP) 2000 penduduk kota Solo sebanyak 490.000 jiwa dan pada 2010 naik menjadi 500.642 jiwa, meski angka pertumbuhan penduduk Solo masih 0,25 persen atau di bawah angka Provinsi Jawa Tengah sebesar 0,46 persen, namun demikian sudah cukup menambah beban kepadatan kota Bengawan ini. Oleh karena itu, jika tidak ada tindakan untuk mengendalikan laju pertumbuhan penduduk, maka pada 2020 Surakarta akan menjadi semakin padat dan tak nyaman. Berita di internet mengabarkan bahwa dua kota di Indonesia mendapat predikat kota termacet di dunia, menempati peringkat pertama dan keempat yaitu Jakarta dan Surabaya. Sudah hamper dipastikan , warga kedua kota tersebut akan merasa tidak nyaman karena harus memakan waktu yang relative lama untuk menuju ke tempat kerja dan beaya stress serta bahan bakar yang tinggi.

 

Masalah yang mungkin timbul

Segala sesuatu yang berlebihan pasti memberi dampak yang tidak baik. Begitu pula overloadnya kepadatan penduduk kota Solo. Kesesakan yang diakibatkan oleh berlebihnya penduduk kota Solo mengakibatkan kekumuhan kota, maraknya permukiman liar dan kumuh di bantaran kali dan rel kereta api, melonjaknya sektor informal, penggunaan jalur pedestrian oleh pedagang kaki lima (PKL), semakin padatnya lalu lintas kota yang menimbulkan pencemaran udara, pencemaran sungai oleh industri yang menjadikan tubuh air hitam pekat dan bau, dan masih banyak sederet permasalahan lain.

Hal ini sangat sesuai dengan ramalan Richard C. Collins pada 1991 dalam bukunya America's Downtown: Growth, Politics and Preservations yang menuliskan bahwa akan semakin banyak kota yang menghadapi permasalahan menurunnya kualitas lingkungan perkotaan yang ditandai dengan kemacetan, polusi udara dan menurunnya kualitas permukiman dan lahan yang diterlantarkan, serta hilangnya fungsi ruang terbuka. Inilah fenomena yang kini terjadi di Kota Solo saat ini.

Jumlah penduduk yang bertambah dengan luas lahan tetap menyebabkan kepadatan penduduk makin meningkat. Akibatnya, makin besar perbandingan antara jumlah penduduk dan luas lahan. Pada akhirnya, lahan untuk perumahan makin sulit didapat. Itulah sebabnya di kota Solo semakin banyak kita lihat orang yang mendirikan bangunan tidak resmi, bahkan ada pula yang membuat tempat tinggal sementara dari plastik atau dari karton di pinggir sungai atau di bawah kolong jembatan.

Kepadatan penduduk kota yang meningkat menghasilkan kepadatan bangunan dan hunian yang makin tinggi di kota yang juga berdampak pada kehidupan penduduk perkotaan itu sendiri. Perumahan masyarakat berpenghasilan rendah di kampung-kampung kota makin tinggi kepadatannya sehingga menimbulkan masalah kemerosotan lingkungan perumahan menjadi kumuh. Perumahan yang layak makin sulit dijangkau oleh penduduk berpenghasilan rendah sehingga mengakibatkan makin banyaknya para gepeng (gelandangan-pengemis) yang berkeliaran di kota termasuk anak-anak jalanan.

Makin padatnya penduduk perkotaan makin menyulitkan penyediaan prasarana dan sarana fisik dan sosial dan kondisi lingkungan hidup makin merosot. Daya dukung lingkungan bukan saja makin tidak memadai tetapi rusak akibat adanya polusi. Dan seperti lazimnya dijumpai di daerah padat penduduk perkotaan, maka jumlah kendaraan bermotor pun meningkat. Gas sisa pembakaran kendaraan bermotor menyebabkan pencemaran udara. Pencemaran udara banyak mengakibatkan gangguan kesehatan. Polusi ini mendatangkan kerawanan kesehatan penduduk kota.

Selain itu, meningkatnya jumlah penduduk menyebabkan peningkatan kebutuhan air. Pada umumnya, kebutuhan air di kota Solo dipenuhi oleh PAM yang mengalirkan air sampai ke rumah-rumah penduduk. Akan tetapi, makin padatnya penduduk menyebabkan daerah peresapan air hujan makin berkurang. Padahal, kebutuhan air dari PAM banyak yang diambil dari air bawah tanah. Oleh karena itu, makin padat jumlah penduduk menyebabkan penipisan persediaan air bawah tanah yang dapat diambil oleh PAM. Sementara itu, masih banyak kegiatan industri yang belum memiliki sistem pengolahan limbah yang baik sehingga air limbah turut memperburuk kebersihan air di lingkungan.

Solo semakin padat penduduknya dan semakin macet lalu lintasnya. Peningkatan jumlah kendaraan dan berkembangnya perekonomian di Kota Solo semakin meningkatkan kepadatan arus lalu lintas di jalan-jalan kota. Salah satu yang bisa kita rasakan adalah samakin meningkatnya kepadatan arus lalu lintas di Jalan Slamet Riyadi Solo yang semula berada pada level C (lancar) menjadi level D (macet). Hal tersebut disebabkan oleh menurunnya kinerja atau level of service (LOS) akibat sering terjadinya kemacetan di salah satu jalan protokol di Kota Bengawan tersebut. Diperkirakan dengan naiknya level C ke level D akan mendorong  lalu lintas kota Solo menjadi makin semrawut. Selain itu, tingkat kemacetan di Solo yang semakin akut akan potensial menurunkan produktivitas kota.

Warga Solo kini harus semakin akrab dengan kemacetan terutama pada jam sibuk seperti jam berangkat serta pulang kerja dan sekolah. Penumpukan kendaraan menjadi rutin terjadi di ruas-ruas jalan tertentu. Kemacetan pun makin terasa saat liburan sekolah dan libur cuti bersama. Kondisi ini jika tidak segera ditangani secara komprehensif antar pemegang otoritas, tak lama lagi kota Solo akan seperti Jakarta, yaitu penuh dengan kemacetan di mana-mana.

Kota Solo kini menghadapi permasalahan menurunnya kualitas lingkungan perkotaan dengan kemacetan, polusi udara dan menurunnya kualitas permukiman dan lahan. Bila hal semacam ini dibiarkan tanpa antisipasi yang sistematis dan terencana sejak kini maka boleh jadi akan mengarah kepada penghancuran diri kota di masa depan. Kota Solo alih-alih menjadi city of tomorrow (kota masa depan), bisa jadi  justru mejadi city of sorrow (kota kesedihan) dan miseropolis (kota yang menyengsarakan).

 

Posted Tanggal: 

Contact Us

Fakultas Geografi UMS
Surakarta: Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta
Telp. 62-271-717417 ext 151-153

Galery






Calendar