Subscribe News


 
E-mail
Name

 

Anda Pengunjung Ke:

free html visitor counters

User:


Kebijakan Pendidikan Nasional Menyambut Bonus Demografi 2035


Drs. Priyono, M. Si

Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan saat acara serah terima jabatan, Selasa (28/10) mengajak jajarannya untuk memperbaiki kekurangan pada tiga kebijakan besar bidang pendidikan yaitu pelaksanaan Ujian Nasional (UN), Kurikulum 2013 dan sertifikasi guru. Arahan ini sangat taktis terutama untuk menyelesaikan permasalahan jangka pendek dan menengah dalam dunia pendidikan kita. Namun demikian, dalam menangani pendidikan kita tidak boleh hanya berfikir taktis, tapi juga harus strategis mengingat pendidikan merupakan investasi jangka panjang. Oleh karena itu, kebijakan pendidikan perlu memperhatikan tren masa depan, tak terkecuali tren dalam dunia kependudukan dimana Indonesia diperkirakan  akan mencapai puncak “Bonus Demografi” pada tahun 2035 mendatang.

Momentum Bonus Demografi

Perubahan adalah salah satu karakteristik yang melekat pada penduduk. Tidak ada satupun penduduk di dunia yang tidak mengalami transisi. Proses transisi penduduk terjadi dari waktu ke waktu yang menyebabkan perubahan struktur umur penduduk. Variabel ini menentukan sebagian besar karakteristik penting dari setiap penduduk dan juga masa depan kependudukan. Setiap negara, tak terkecuali Indonesia, berada pada tahapan yang berbeda dari transisi demografi.

Transisi demografi yang terjadi di Indonesia secara umum dipengaruhi oleh kebijakan kependudukan pemerintah Indonesia sejak awal 1970-an yang cukup berhasil dalam hal menurunkan angka kelahiran dan kematian dalam jangka panjang. Hal ini mengakibatkan perubahan struktur umur penduduk yang ditandai dengan menurunnya porsi penduduk usia tidak produktif bersamaan dengan meningkatnya porsi penduduk usia kerja, sehingga angka ketergantungan menjadi sangat menurun. Jika pada 1970-an ada 86 penduduk belum dan tidak produktif yang menjadi tanggungan 100 pekerja, tahun 2000 tinggal 54 penduduk tidak produktif per 100 pekerja. Pergeseran distribusi umur penduduk dan penurunan rasio ketergantungan penduduk muda ini membentuk keadaan yang ideal. Fenomena demografis ini menjadi jendela peluang (window of opportunity) yang oleh para peneliti kependudukan disebut “bonus demografi” (demographic dividend). Dalam evolusi kependudukan, sebuah negara akan mengalami bonus demografi ketika angka ketergantungan penduduknya berada di rentang antara 40–50, yang berarti bahwa 100 orang usia produktif hanya menanggung 40–50 penduduk usia belum dan tidak produktif. Indonesia pada tahun 2035 diperkirakan hanya akan ada 44 penduduk belum dan tidak produktif yang menjadi tanggungan 100 pekerja. Kondisi ini dapat diibaratkan sebagai sebuah keluarga dengan empat anggota rumah tangga dimana ada 3 orang bekerja untuk menanggung satu anak saja.

Bonus demografi Indonesia menyediakan kondisi ideal untuk meningkatkan produktivitas bangsa menuju kesejahteraan. Namun peluang emas ini tidak akan terjadi secara linier, apalagi datang begitu saja secara taken for granted. Artinya, butuh prasyarat untuk bisa mewujudkannya. Salah satu prasyarat tesebut adalah investasi di bidang pendidikan sumberdaya manusia. Logikanya, bagaimana mungkin produktivitas penduduk muda itu bisa ditingkatkan jika kebanyakan di antara mereka hanya memiliki ijazah SD atau SMP seperti umumnya saat ini.

Kebijakan Pendidikan Berfokus pada Kualitas

Dunia pendidikan Indonesia kini sedang berhadapan dengan perkembangan baru demografi. Maka kebijakan pendidikan harus mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan demografis agar dunia pendidikan sepenuhnya mampu berperan sebagai faktor solusi masalah demografis atau merespon tren demografi kontemporer. Hal yang serta-merta dapat disimak dari bonus demografi adalah penciutan secara agregat jumlah anak usia sekolah. Dengan jumlah anak usia sekolah makin menurun, maka kualitas pendidikan mutlak untuk ditingkatkan.

Secara strategis, bonus demografi ini harus dimengerti sebagai tantangan ke arah peningkatan kualitas pendidikan. Peningkatan kualitas modal manusia merupakan faktor penting dalam upaya memanfaatkan momentum bonus demografi ini.  Maka agenda besar pertama dan utama adalah menyangkut upaya untuk terus meningkatkan sekaligus mengakselerasi kualitas pendidikan penduduk Indonesia.

Tahun 2035 sudah dekat, tidak sampai 21 tahun lagi. Bangsa ini harus bergegas memacu diri agar masa keemasan puncak bonus demografi tidak berlalu begitu saja. Betapa ironis jika nantinya sebagian besar penduduk Indonesia yang seharusnya mampu berkontribusi dalam pembangunan justru tidak mendapat pekerjaan yang layak dikarenakan taraf pendidikan yang rendah. Maka kebijakan pendidikan 20 tahun ke depan seharusnya berfokus pada peningkatan kualitas pendidikan agar jangan sampai generasi bonus itu tidak berilmu dengan keterampilan ala kadarnya.

Oleh karena itu, bangsa ini harus investasi habis-habisan di bidang SDM. Usia produktif yang melimpah akan bermanfaat jika disokong oleh pendidikan yang berkualitas sehingga menghasilkan SDM yang berkualitas pula. Dengan cara berpikir tersebut, maka seharusnya Menteri Baswedan harus mulai menyusun sebuah arah kebijakan dan penahapan pencapaian pembangunan pendidikan yang mampu mendorong terealisasinya bonus demografi. 

 

Contact Us

Fakultas Geografi UMS
Surakarta: Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta
Telp. 62-271-717417 ext 151-153

Galery






Calendar