Anda Pengunjung Ke:

free html visitor counters

User:


Sebuah “Magnet” Bernama Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)


Drs. Priyono, M. Si

Perguruan tinggi pada hakikatnya merupakan lembaga yang berfungsi untuk melestarikan, mengembangkan, menyebarluaskan, dan menggali ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Peran perguruan tinggi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa ini tidaklah diragukan lagi. Namun apakah perguruan tinggi telah berperan juga dalam mengembangkan lingkungan sosial, ekonomi, termasuk pula lingkungan alam di sekitar kampus?

Berkaitan dengan pertanyaan di atas, eksistensi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang baru bulan lalu genap berusia 56 tahun perlu dikaji sejauh mana kampus swasta terbesar di Solo Raya ini telah berperan dalam mengembangkan tingkat kehidupan sosial ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Teori Pusat Pertumbuhan dan Multiplier Effect

Perkembangan kawasan kampus UMS yang sangat pesat yang mampu menyulap daerah yang dulunya sawah dan rawa menjadi sebuah kawasan padat penduduk dapat dipahami dari sudut pandang teori pusat pertumbuhan dan multiplier effect. Pusat pertumbuhan (growth pole) dapat diartikan dengan dua cara, yaitu secara fungsional dan secara geografis. Secara fungsional, pusat pertumbuhan adalah suatu lokasi konsentrasi kelompok usaha atau cabang industri yang karena sifat hubungannya memiliki unsur-unsur kedinamisan sehingga mampu menstimulasi kehidupan ekonomi baik ke dalam maupun ke luar. Secara geografis, pusat pertumbuhan adalah suatu lokasi yang banyak memiliki fasilitas dan kemudahan sehingga menjadi pusat daya tarik (pole of attraction), yang menyebabkan berbagai macam usaha tertarik untuk berlokasi di situ dan masyarakat berdatangan memanfaatkan fasilitas yang ada di kawasan tersebut. Dengan adanya perguruan tinggi, suatu wilayah dapat menarik minat mahasiswa untuk datang dan pada akhirnya mendatangkan pendapatan bagi wilayah tersebut.

Sementara teori multiplier effect menyatakan bahwa suatu kegiatan akan dapat memacu timbulnya kegiatan lain. Teori multiplier effect berkaitan dengan pengembangan perekonomian suatu daerah. Makin banyak kegiatan yang timbul makin tinggi pula dinamisasi suatu wilayah yang pada akhirnya akan meningkatkan pengembangan wilayah. Berdasarkan teori ini dapat dijelaskan bahwa adanya sebuah kampus akan memacu timbulnya aktivitas lain seperti perdagangan dan peningkatan kegiatan jasa.

Daya Tarik UMS

            Keberadaan kampus mempengaruhi daya tarik wilayah sekitarnya, dalam hal ini daya tarik UMS sebagai kawasan perguruan tinggi( sektor pendidikan). Hal ini akan mengakibatkan adanya  tingginya mobilitas penduduk yang masuk bukan saja untuk melanjutkan studi tetapi juga mencari kesempatan dan peluang kerja. Selain itu juga akan memberi dampak terhadap ketersediaan infrastruktur yang ada seperti jaringan air bersih, jalan dan drainase.

Keberadaan UMS juga memberi pengaruh terhadap perubahan morfologi kawasan sekitarnya, khususnya Desa Pabelan dan Gonilan yang merupakan kawasan terdekat dengan UMS. Hal ini akan memberi dampak peningkatan kepadatan bangunan dan jumlah penduduk kedua desa tersebut. Perubahan ini akan mempengaruhi pola penggunaan lahan dan fungsi rumah sebagai kegiatan sosial. Adanya alih fungsi rumah tinggal menjadi rumah dengan kegiatan ekonomi (sewa/kontrak kamar), perubahan/penambahan ruang dan bangunan guna menambah kapasitasnya.

Dampak pembangunan kampus UMS terhadap lingkungan fisik di Desa Pabelan dan Gonilan menyebabkan kuantitas dan kualitas lingkungan berubah. Hasil penelitian Priyono dkk menunjukkan bahwa perubahan penggunaan lahan pada kedua desa tersebut adalah permukiman pada tahun 1983 dengan luas 94, 16097 ha, sawah 198,3985 ha, toko/ swalayan 3,186422 ha dan industri 14,36851 ha pada tahun 2007 telah mengalami perubahan(tahun 2009), yaitu permukiman dengan luas 113,4121 ha, sawah 167,4094 ha, toko/swalayan 8,012938 ha dan industri 21,27997 ha. Perubahan luas yang terjadi di empat jenis  penggunaan lahan tersebut, yaitu untuk permukiman bertambah 19,25113 ha, sawah mengalami penyempitan 30,9891 ha, toko/swalayan bertambah 4,826516 ha dan untuk industri mengalami pertambahan luas 6,91146 ha.

Banyaknya mahasiswa yang tinggal di sekitar kampus UMS( jumlah mhs : kurang lebih 26.000, dosen : 736, tenaga administrasi :311 , khusus jumlah mhs baru Diploma, S1 dan mhs Pasca Sarjana  angkatan 2014/2015 sebesar 8.005 ) membuka kesempatan bagi masyarakat sekitar kampus memperoleh penghasilan tambahan melalui penyewaan kamar atau rumah, berkembangnya sector jasa lainnya untuk merespon kehidupan kampus,seperti warung makan, jasa foto copy, pengetikan skripsi, terjemahan dan jasa lainnya yang omsetnya luar biasa bagi mereka yang menangkap kesempatan. Di sisi lain, struktur demografi,soaial, dan budaya akan mengalami perubahan yang menyebabkan perubahan dalam interaksi. Keberadaan mahasiswa di tengah-tengah masyarakat akan memberikan nuansa baru bagi kehidupan masyarakat. Hal ini dikarenakan latar belakang agama, suku, sosial, budaya dan lain sebagainya dari mahasiswa yang beraneka ragam. Dampak dari kondisi ini adalah terjadinya pembauran budaya yang memungkinkan adanya perubahan-perubahan tatanan sosial kehidupan masyarakat sekitar kampus.

Dampak yang ditimbulkan oleh akulturasi budaya tersebut bisa positif namun bisa juga negatif. Perubahan positif baik dari aspek ekonomi yang ditandai oleh peningkatan penghasilan masyarakat setempat, aspek kualitas pengetahuan dan wawasan masyarakat yang semakin membaik, maupun perkembangan budaya yang lebih dinamis dan lain sebagainya. Sedangkan dampak perubahan yang negatif juga bervariasi mulai dari penyalahgunaan narkoba, perilaku seks di luar nikah dan lain sebagainya.

Perlu Sinergi Kampus-Masyarakat

Fenomena di atas, merupakan sebuah cermin dari ekses perubahan. Oleh karena itu untuk menghindari hal-hal negatif yang mungkin terjadi maka diperlukan peran dari pihak UMS dan masyarakat sekitarnya untuk bersama-sama berusaha menciptakan kondisi yang nyaman di dalam lingkungan masyarakat.

Kampus memerlukan masyarakat di sekitarnya sebagai elemen pendukung aktivitasnya karena kampus bukan merupakan lembaga soliter yang dapat menghidupi dirinya sendiri tanpa melibatkan elemen pendukung di sekitarnya. Di sisi lain, masyarakat di sekitar kampus sebagai elemen pendukung memerlukan kepedulian kampus terhadap diri mereka dalam rangka mengembangkan potensi yang telah dimiliki. Jika kampus peduli lingkungan sosialnya, niscaya keberadaannya akan sangat berarti, sehingga masyarakat di sekitarnya menjadi berkembang yang pada akhirnya dapat terwujud pembangunan Masyarakat Lingkar Kampus dan pembangunan kampus secara berkelanjutan.

Sebagai bagian dari amal usaha Persyarikatan Muhammadiyah, UMS telah bertekad menjadikan “Wacana Keilmuan dan Keislaman” sebagai filosofi penyelenggaraan dan pengembangan institusinya. Penyelenggaraan dan pengembangan UMS berusaha mengintegrasikan antara nilai-nilai keilmuan keislaman sehingga mampu menumbuhkan kepribadian yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni yang dijiwai oleh nilai-nilai keislaman. Dalam konteks ini, maka sesuai dengan komitmen UMS yang bertekad menjadikan wacana keilmuan dan keislaman sebagai filosofi penyelenggaraan dan pengembangan institusi kiranya perlu dikaji secara komprehensif pada tahap implementasinya. Sebab, korelasi antara UMS sebagai institusi dengan mahasiswa sebagai bagian civitas kampus yang menyebar di tengah-tengah masyarakat, pada aspek tertentu dapat menjadi representasi dari UMS dalam penilaian masyarakat.

Visi UMS yang ingin menjadi pusat pendidikan Islam dan pengembangan iptek yang islami dan memberi arah perubahan akan tidak banyak berarti jika secara implementatif justru kurang mewarnai lingkungan di sekitarnya. Dalam konteks ini, perjalanan 54 tahun UMS kiranya sudah cukup memberi warna dalam perubahan tata kehidupan masyarakat di sekitarnya, baik dari aspek ekonomi, sosial dan budayanya.

Lalu, apa yang paling utama dilakukan untuk mengurangi dampak yang tak sehat dari perkembangan UMS? Kuncinya adalah menata kembali kegiatan-kegiatan sosial dan ekonomi di sekitar kampus. Sebab, UMS sebagai pusat kegiatan diibaratkan bagai gula yang selalu mengundang semut untuk datang berkerumun. Seperti pepatah bilang, ada gula ada semut. Gula itu yang perlu kita tata supaya semutnya nanti tertata juga sehingga nantinya UMS mampu memberikan kualitas hidup yang memadai bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

 

Contact Us

Fakultas Geografi UMS
Surakarta: Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta
Telp. 62-271-717417 ext 151-153

Galery






Calendar