Subscribe News


 
E-mail
Name

 

Anda Pengunjung Ke:

free html visitor counters

User:


Kekeringan dan Ilmuwan Menara Air


Drs. Priyono, M. Si.

Kesulitan air bersih di sejumlah wilayah di Indonesia mulai mengancam, menyusul masuknya musim kemarau tahun 2015.Climate Early Warning System (CEWS) milik Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memberikan peringatan dini tentang bencana kekeringan kepada masyarakat. Melalui laman http://cews.bmkg.go.id kita dapat melihat bahwa kekeringan parah akan melanda banyak daerah di pulau Jawa, baik Jawa Barat, Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Untuk wilayah Jawa Tengah menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah menyebutkan bahwa kekeringan sudah merata di seluruh wilayah Jawa Tengah dan diperkirakan puncak kekeringan akan terjadi dari Agustus sampai September 2015.

Persoalan air memang persoalan hidup atau mati. Tidak ada air, maka tidak ada kehidupan. Air merupakan kebutuhan makhluk hidup yang paling hakiki, baik bagi manusia, tanaman maupun hewan. Bahkan dalam setiap aktivitasnya, manusia tidak dapat lepas dari kebutuhan akan air. Kekeringan dapat menjadi bencana alam apabila mulai menyebabkan suatu wilayah kehilangan sumber pendapatan akibat gangguan pada pertanian dan ekosistem yang ditimbulkannya.

Sejatinya, kelangkaan air/kekeringan ini diakibatkan oleh tidak seimbangnya jumlah ketersediaan air dengan kebutuhan air di suatu daerah. Selain itu, ketersediaan sumberdaya air di bumi memang tidak merata baik secara spasial maupun temporal. Sebab itulah ketersediaan air berbeda dari satu tempat dengan tempat lainnya (ada daerah yang melimpah air namun ada pula yang sangat minim air) dan dinamis dari waktu ke waktu (di musim penghujan air melimpah sedangkan di musim kemarau air sangat terbatas). Oleh karena itulah pengelolaan sumberdaya air sangat diperlukan dalam rangka mengantisipasi krisis air. Apalagi ketika musim kemarau tiba, ketika ketersediaan air semakin menipis, maka usaha rekayasa teknologi dan pengelolaan penyediaan air menjadi sebuah keniscayaan yang harus dilakukan. Di titik inilah kehadiran para ilmuwan sangat dibutuhkan.

Peran Ilmuwan

“Janganlah hidup dalam menara gading”, kalimat ini pernah ditujukan kepada para ilmuwan Indonesia oleh Presiden Sukarno agar para ilmuwan ikut berperan dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi masyarakat. Hal ini karena ilmuwan menara gading hanya sanggup berceloteh mengenai teori yang seringkali jauh panggang dari api dalam upaya memecahkan persoalan riil masyarakat di sekitarnya. Ribuan penelitian dan pengabdian pada masyarakat telah dilakukan oleh para akademisi perguruan tinggi tiap tahunnya, akan tetapi sebagian besar hasilnya hanya berupa laporan yang tersimpan rapi di perpustakaan. Maka pertanyaannya adalah: sejauh mana hasil penelitian dan pengabdian pada masyarakat tersebut berdampak bagi masyarakat luas? Para ilmuwan bertanggung jawab untuk melakukan berbagai upaya peningkatan kebermaknaan hasil penelitian dan pengabdian pada masyarakat yang telah dilakukan.

Seorang ilmuwan tidak boleh hanya menjadi ‘ilmuwan menara gading‘ yang meletakkan ilmunya setinggi langit dan tak ada keinginan untuk mengaplikasikan di kehidupan masyarakat. Sebaliknya, ilmuwan dituntut untuk menjadi ‘ilmuwan menara air‘ yang bermanfaat dan memberdayakan masyarakat. Maka dalam konteks bencana kekeringan yang telah mulai hadir di depan mata ini, para ilmuwan harus turun dari menara gading dan lebih banyak melihat realita untuk membantu mencari solusi atas persoalan krusial yang dihadapi masyarakat ini. Seperti yang dilakukan oleh civitas akademika Fakultas Geografi UMS yang berhasil melakukan kajian pada sungai bawah tanah dan kemudian memanfaatkannya untuk membantu menyelasaikan persoalan kekeringan yang dihadapi masyarakat Pucung. Medan berlumpur, tumpukan batu, lorong horizontal dan vertikal, lorong yang rendah dan sempit, serta kondisi yang gelap gulita harus dilalui oleh para penyusur dari Fakultas Geografi UMS demi menemukan air di goa sedalam 300 m itu. Sekitar 40 meter dari mulut goa, penyusur bertemu dengan lubang pertama yang hanya cukup dimasuki oleh 3 orang. Kemudian penyusur harus melalui lubang vertical setinggi 17 meter. Selanjutnya landai, namun tak jauh kemudian ada lubang lagi yang tinggi vertikalnya sekitar 11 meter, setelah itu barulah sampai di sungai bawah tanah. Kondisi medan dalam goa memang sangat berbeda dengan kondisi alam lainnya. Semua kesulitan dan tantangan yang bahkan dapat merenggut nyawa itu terbayar impas setelah para penyusur berhasil menemukan sungai bawah tanah di koridor Gua Suruh, Desa Pucung, Kecamatan Eromoko Wonogiri, Jawa Tengah. Air dari sungai bawah tanah tersebut akan menjadi tumpuan harapan untuk keluar dari kesulitan air yang selama ini membelenggu penduduk desa yang terletak di kawasan karst Gunung Sewu tersebut.

Seperti halnya desa-desa di kawasan karts – Desa Pucung selalu mengalami kesulitan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Pemenuhan kebutuhan air seharihari dilakukan dengan cara mengambil air di mata air, luweng dan telaga atau bentukan-bentukan karst lainnya. Untuk mencukupi kebutuhan air masyarakat bahkan membuat bak penampungan air hujan dan membuat cekungan di sekitar telaga setelah air telaga mulai surut. Namun demikian usaha yang dilakukan masih sangat bergantung pada kondisi alam sehingga ketika musim kemarau tiba mereka tetap kekurangan air. Bahkan pada setiap puncak musim kemarau mereka harus membeli air dari truk tangki air dari Yogyakarta, itupun harus antri panjang dan berebutan untuk mendapatkannya.

Posting tanggal 28 Agustus 2015

Contact Us

Fakultas Geografi UMS
Surakarta: Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta
Telp. 62-271-717417 ext 151-153

Galery






Calendar