Subscribe News


 
E-mail
Name

 

Anda Pengunjung Ke:

free html visitor counters

User:


Tanggungjawab Sosial Haji


Drs. Priyono, M. Si.

Sebanyak 168.000 jamaah haji Indonesia akan berangkat ke Tanah Suci tahun ini. Kelompok terbang (kloter) pertama pun telah dilepas secara resmi oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada 21 Agustus 2015 yang lalu. Sudah lama dimaklumi bahwa jamaah haji Indonesia merupakan jamaah dengan angkatan terbesar di dunia. Bahkan dari tahun ke tahun jumlah jamaah haji Indonesia terus meningkat. Tingginya minat umat Islam Indonesia untuk melaksanakan ibadah haji dari tahun ke tahun menyebabkan antrean keberangkatan semakin panjang. Calon jamaah haji yang mendaftar tahun ini, akan berangkat pada tahun 2032 atau 17 tahun lagi.

Peningkatan jumlah jamaah haji Indonesia setiap tahun ini di satu sisi menunjukkan tingginya ghiroh umat islam untuk memenuhi panggilan Tuhannya. Namun di sisi lain, pertambahan manusia haji Indonesia belum banyak memberikan pengaruh signifikan terhadap perbaikan kondisi bangsa ini. Kenyataannya saat ini kondisi sosial dan ekonomi kita masih carut marut. Terdapat jurang ketimpangan antara peningkatan jumlah penyandang gelar haji dengan kondisi masyarakat. Jumlah manusia haji terus bertambah namun persoalan kemiskinan, korupsi dan kolusi semakin menggurita. Hal ini menjadi tanda tanya bagi umat islam Indonesia, mengapa ibadah haji belum membawa implikasi besar terhadap perubahan tatanan moralitas dan ekonomi

masyarakat Indonesia.

Fenomena ini bisa jadi merupakan pertanda bahwa ada yang salah dalam pemahaman manusia haji Indonesia. Ada yang sekadar memaknai ibadah haji sebagai petualangan rohani dan kepuasan religi pribadi (ego sentris) semata. Bahkan ada yang lebih parah, berhaji hanya untuk mengejar status sosial dengan gelar haji. Padahal, ibadah haji merupakan kawah candradimuka dimana kurang lebih sebulan lamanya jamaah haji beribadah untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Mereka belajar arti kebersamaan, kesederhanaan, toleransi, tolong menolong dan interaksi dengan sesama. Semua itu seharusnya menumbuhkan kesadaran bahwa selain sebagai hamba Allah, kitapun memiliki tanggung jawab sosial terhadap sesama. Kesadaran ini akan melahirkan semangat untuk menjadi motor penggerak perubahan dalam masyarakat.

Tak heran jika pada jaman dahulu banyak tokoh nusantara yang kembali ke tanah air sepulang naik haji membawa perubahan sosial yang sangat signifikan. Sebutlah misalnya Muhammad Darwis (Ahmad Dahlan) yang pergi haji dan ketika pulang mendirikan Muhammadiyah, Hasyim Asyari yang pergi haji dan kemudian mendirikan Nadhlatul Ulama, Samanhudi yang pergi haji dan kemudian mendirikan Sarekat Dagang Islam, Cokroaminoto yang juga berhaji dan mendirikan Sarekat Islam. Ibadah haji ditempatkan sebagai rukun islam kelima dengan didahului syahadat, sholat, puasa, dan zakat karena ibadah haji adalah penyempurnaan dari semua itu. Karenanya manusia haji adalah manusia unggul yang selain patuh terhadap kehendak Tuhan tapi juga memiliki etos sosial sebagaimana yang diajarkan dalam puasa dan zakat.

Pada hakekatnya, keseluruhan ibadah ritual dalam agama Islam memiliki konsekuensi sosial, baik langsung maupun tidak langsung. Bahkan lebih tegas Surat Al Mauun menyatakan bahwa orang yang mendustakan agama adalah orang yang menghardik anak yatim dan tidak berjuang untuk memberi makan orang miskin. Hal

ini menunjukkan seolah-olah ibadah ritual yang tidak menghasilkan buah “kepedulian sosial” ibarat pohon yang tidak berbuah. Haji pun demikian, merupakan ibadah individu dengan implikasi sosial. Maka salah satu tanda kemabruran adalah kesadaran untuk berkomitmen kepada solidaritas sosial. Keseragaman dalam pakaian ihram menunjukkan manusia sederajat di mata Allah, tanpa ada perbedaan. Penyembelihan dam lantaran kesalahan dalam haji melatih memperbanyak sedekah dan peka terhadap kondisi masyarakat. Wuquf di arafah mengajarkan kesederhanaan dan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Etos sosial yang tersirat dalam ibadah haji inilah yang harus diaplikasikan manusia haji saat kembali di tanah air agar keberadaan mereka yang jumlahnya kian hari kian bertambah banyak itu juga memberi dampak positif yang kian besar bagi kemakmuran bangsanya. Sehingga dalam setiap perintah dalam agama dimensi sosial selalu mendapat perhatian, itulah makna keseimbangan. Bahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh HR Tabrani dari Abu Hurairah dan dishokehkan oleh Syekh Al Albani, ada tujuh macam ibadah yang pahalanya akan mengalir sampai di akherat meskipun orang . yang beribadah sudah meninggal dunia selagi produknya masih dipakai. Yaitu: orang yang menyampaikan ilmu,sumur umum,irigasi umum,baca al quran dan mengajarkannya, menanam tanaman,anak sholeh dan mendirikan dan memakmurkan masjid.Jadi tujuh ibadah tersebut sebagian besar yang mendapat perhatian adalah hubungan sosial atau muamalah. Semoga menjadi renungan bagi jamah calan haji, pak Haji dan yang mau beribadah haji

Posting Tanggal 3 September 2015

Contact Us

Fakultas Geografi UMS
Surakarta: Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta
Telp. 62-271-717417 ext 151-153

Galery






Calendar