Subscribe News


 
E-mail
Name

 

Anda Pengunjung Ke:

free html visitor counters

User:


Hercules, Ramadhan, dan Ujian Kesabaran


Drs. Priyono, M. Si.

Hercules, Ramadhan, dan Ujian Kesabaran

Indonesia kembali berduka. Kali ini karena kecelakaan yang dialami oleh Pesawat Hercules C-130 milik TNI AU yang jatuh di Jalan Letjen Jamin Ginting, Padang Bulan, Medan, Selasa (30/6/2015) sekitar pukul 12.08, dua menit setelah lepas landas dari Pangkalan Udara Soewondo, ketika hendak menuju Tanjung Pinang. Pesawat tersebut jatuh menghantam 2 ruko dan merusak bangunan lainnya. Dalam manifes pesawat Hercules yang jatuh tersebut tercatat ada 101 penumpang dan 12 kru. Ironisnya, seluruh penumpang dan kru pesawat tersebut diperkirakan meninggal dunia. Banyaknya korban yang meninggal tentu menyisakan kesedihan mendalam bagi seluruh elemen bangsa, terutama bagi orang tua yang kehilangan anaknya, istri yang kehilangan suaminya, anak yang kehilangan ayahnya, dan keluarga yang kehilangan kepalanya. “Kepergian” para korban yang sangat tiba-tiba tersebut tentu menjadi cobaan yang tidak ringan bagi para keluarga korban sehingga membutuhkan kesabaran yang ekstra besar dalam menghadapinya. Terkait kesabaran, bukan sebuah kebetulan jika jatuhnya Pesawat Hercules C-130 ini bertepatan dengan hari ke-13 puasa Ramadhan. Dan Rasulullah SAW dalam hadits yang shahih menamakan bulan puasa dengan syahrush shabr (bulan kesabaran).

Puasa Menumbuhkan Kesabaran

Bulan Ramadhan merupakan masa untuk melatih dan membiasakan diri memiliki sifat-sifat mulia, salah satunya adalah sifat sabar. Sifat ini sangat agung kedudukannya dalam Islam. Ibnu Qoyyim menggambarkan keutamaan sifat sabar dengan menyatakan, “Sesungguhnya (kedudukan sifat) sabar dalam keimanan (seorang

hamba) adalah seperti kedudukan kepala (manusia) pada tubuhnya, kalau kepala manusia hilang maka tidak ada kehidupan bagi tubuhnya.” Pernyataan ini menunjukkan bawah tanpa adanya sifat sabar berarti iman seorang hamba akan mati.

Sifat yang agung ini, sangat erat kaitannya dengan puasa, bahkan puasa itu sendiri adalah termasuk kesabaran sehingga puasa sangat dekat dengan sabar. Setidaknya ada 3 persamaan antara puasa dan sabar. Persamaan pertama, dari sisi makna. Puasa secara bahasa berarti al-imsa’ (menahan diri). Quraish Shihab menyatakan bahwa puasa di dalam Al-Qur’an disebut dalam 2 bahasa yaitu “shaum” dan “shiyam”. Keduanya pun bermakna “menahan diri”. Sementara sabar (ash-shabr) pun secara bahasa berarti “al-habsu”, yakni menahan diri.

Persamaan kedua, dari sisi pahalanya. Pahala puasa itu tak terhingga, terserah kepada Allah. Dalam sebuah hadits dikatakan, “Setiap amalan kebaikan anak Adam akan dilipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), ‘Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.’” (HR Muslim). Ganjaran atau pahala puasa yang tanpa batas ini serupa dengan pahala sabar. Dalam sebuah ayat, Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dibalas dengan pahala tanpa batas.” (QS Az-Zumar [39]: 10)

Dan persamaan ketiga, dari sisi terampuninya dosa. Hadits yang sangat terkenal mengenai puasa adalah, “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan semata-mata karena iman dan mengharap ridha Allah swt. (ihtisaban), maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘alaih)

Sabar pun demikian, terutama ketika menghadapi musibah. Rasulullah saw. bersabda, “Setiap musibah yang menimpa mukmin, baik berupa wabah, rasa lelah, penyakit, rasa sedih, sampai kekalutan hati, pasti Allah menjadikannya pengampun dosa-dosanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Demikianlah ketiga persamaan antara puasa dan sabar. Tidaklah mengherankan jika salah satu hikmah berpuasa adalah melatih kesabaran. Pada ayat perintah berpuasa, “Kutiba ‘alaikumush shiyaamu …” yakni diwajibkan atas kamu berpuasa, kata “shiyam” berarti berpuasa dalam konteks menahan diri (bersabar) dari makan, minum, berhubungan suami istri (di siang hari puasa), dan segala yang membatalkannya dari sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.

Sabar secara syariat berarti menahan diri atas tiga perkara, yaitu: sabar dalam menaati Allah, sabar dalam meninggalkan kedurhakaan atau kemaksiatan kepada-Nya, dan sabar dalam menerima ketentuan-Nya (takdir) berupa musibah. Ketiga macam sabar ini seluruhnya terkumpul dalam ibadah puasa, karena dengan berpuasa kita harus bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, dan bersabar dari semua keinginan syahwat yang diharamkan-Nya bagi orang yang berpuasa, serta bersabar dalam menghadapi beratnya rasa lapar, haus, dan lemahnya badan yang dialami orang yang berpuasa.

Ketika kita sedang berpuasa, banyak rintangan yang harus kita lewati dengan kesabaran. Tanpa adanya kesabaran, maka puasa jadi berantakan. Kita menahan diri/bersabar dengan sukarela demi melaksanakan perintah Allah SWT. Sukarela dalam bersabar menghadapi tekanan hawa nafsu lebih utama dari pada berlaku

sabar karena terpaksa oleh keadaan. Dengan sukarela berarti seseorang menjadi tuan bagi dirinya sendiri, dan lebih mampu dalam menghadapi cobaan-cobaan hidup, yang pada akhirnya sabar akan meresap ke dalam kepribadiannya. Oleh karena itu, puasa bukan hanya menumbuhkan kesabaran menghadapi makanan dan minuman, tetapi juga kesabaran dalam menghadapi berbagai persoalan hidup seperti musibah ditinggalkan orang terkasih. Maka sungguh merugilah mereka yang telah berpuasa dengan berpayah-payah meninggalkan

makan dan minum serta segala yang membatalkan puasanya jika kesabarannya tidak terlatih karenanya.

Allah humma ya Allah, jadikanlah puasa ini penumbuh kesabaran di hati kami dan hati sanak keluarga korban jatuhnya pesawat Hercules C-130. Tegarkanlah hati kami dalam menghadapi cobaan ini. Aamiin.

Posting tanggal 3 November 2015

Contact Us

Fakultas Geografi UMS
Surakarta: Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta
Telp. 62-271-717417 ext 151-153

Galery






Calendar