Subscribe News


 
E-mail
Name

 

Anda Pengunjung Ke:

free html visitor counters

User:


Ramadhan yang Membekas


Drs. Priyono, M. Si.

Tak terasa, 2 minggu sudah kita meninggalkan bulan Ramadhan dan menjalani bulan Syawal. Ada satu pertanyaan besar yang seharusnya kita ajukan pada diri kita masing-masing: Bekas-bekas kebaikan apa yang terdapat pada diri kita setelah keluar dari madrasah bulan Ramadhan?

Tujuan disyariatkannya puasa ramadhan yang secara tegas dijelaskan dalam QS.Al-Baqarah ayat 183 adalah untuk membentuk pribadi muslim yang bertakwa kepada Allah. Firman Allah dalam QS. Ali Imran 134-135 menjelaskan defenisi seorang yang bertaqwa, yang artinya sebagai berikut :

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau munkar atau aniaya diri sendiri, mereka ingat Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahuinya”

Sejumlah sifat orang yang bertaqwa dalam ayat di atas, selain berdimensi individu juga sarat dengan dimensi sosial, yaitu berhubungan dengan manusia lainnya. Jadi, menahan makan dan minum saja tidak akan membuat seseorang menjadi orang yang bertaqwa, selama dia tidak mampu berperilaku mulia dan mengendalikan jiwa

dan raganya dalam kehidupan dan berinteraksi dengan orang lain secara sosial. Itulah sebabnya perintah dan larangan-larangan selama kita menjalani puasa Ramadhan selalu memiliki dimensi sosial karena selalu terkait dengan interaksi kita dengan orang lain. Perintah sadaqah dan zakat dalam bulan Ramadhan mengajarkan

kita kedermawanan dan semangat berbagi untuk menyadarkan diri kita bahwa harta yang kita miliki memiliki fungsi sosial. Shodaqoh dan zakat adalah sarana untuk menciptakan dan memupuk ukhuwah, kepedulian, dan semangat kesetiakawanan, sekaligus menghapuskan jurang ketimpangan sosial. Sedangkan larangan berhubungan seks di siang hari pada bulan Ramadhan tebusannya pun berdimensi sosial, yaitu dengan memberi makan 60 orang miskin. Demikian pula orang yang tidak berpuasa karena alasan sakit, hamil, atau menyusui, tebusannya adalah fidyah (memberi makan kepada fakir miskin).

Jadi setiap perintah dan larangan di bulan ramadhan selalu memiliki konteks sosial dalam implementasinya. Tujuannya adalah untuk membimbing dan mendidik umat Islam agar selalu peduli terhadap sesamanya sehingga membawa kemaslahatan di muka bumi. Inilah nilai-nilai Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Penggabungan antara kesalehan individual dan sosial inilah yang seharusnya dimiliki oleh orang yang berpuasa, namun sayangnya sering terlupakan. Sehingga tak heran jika latihan selama satu bulan dalam setahun tidak begitu terlihat dalam meningkatkan kualitas ketaqwaan umat Islam secara sosial dari waktu-waktu.

Puasa Ramadhan mengajarkan kita untuk berempati dan peduli terhadap fakir dan miskin melalui infak, shadaqah dan zakat. Begitu pula untuk saling mencintai dan mengasihi sesama muslim. Mengenai keutamaan berinfak, Allah berfirman, “Dan apa saja yang kamu nafkahkan (dijalan Allah), maka pahalanya itu untuk kalian sendiri…” (Al-Baqarah: 272). Rasulullah bersabda, “Setiap hari, dua malaikat turun

kepada seorang hamba. Salah satunya berdoa, “Ya Allah, berikanlah pengganti kepada orang yang berinfak. Dan yang lain berdoa, “Ya Allah, hilangkan harta orang yang menolak infak.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Sedangkan keutamaan menolong saudara seiman, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam bersabda, “Allah menolong hamba-Nya selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassallam juga bersabda, “Tidak sempurna iman salah seorang di antara kamu sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, pasca Ramadhan kita diharapkan beringantangan dalam membantu saudara-saudara kita yang membutuhkan, baik saudara seiman di Palestina, Suriah, Rohingya dan lebih-lebih saudara kita di tanah air sendiri, seperti para pengungsi Tolikara, Papua. Sebagaimana banyak diberikatan di media massa bahwa peristiwa terbakarnya kios dan Masjid pada Hari Raya Idul Fitri 1436 H lalu di Tolikara-Papua bukan hanya membutuhkan pembangunan kembali fasilitas fisik yang hancur, namun juga menolong 243 orang pengungsi, yang 100 orang di antaranya adalah balita.

Jangan bayangkan lokasi Tolikara sama dengan Solo yang mudah diakses dari arah mana saja. Aksesibilitas menuju Tolikara bagai langit dan bumi bila dibanding dengan Solo. Perjalanan panjang dibutuhkan untuk mencapai Kabupaten Tolikara dengan ibukotanya Karubaga. Tolikara merupakan salah satu kabupaten yang terletak di pegunungan di bagian tengah Papua. Wilayah pengunungan tengah Papua ini berpusat di Kabupaten Jayawijaya dengan Wamena sebagai Ibukotanya. Penerbangan yang ada hanya Trigana Air, Wings Air dan Express Air dari Jayapura ke Wamena, yang kemudian harus disambung 4-5 jam perjalanan darat Wamena-Karubaga. Sulitnya transportasi tersebut menyebabkan harga semua barang sangat mahal, baik

di Wamena, terlebih untuk sampai Tolikara. Oleh karena itu, dapat kita bayangkan saudara kita di Tolikara membutuhkan dana yang tidak sedikit untuk memulihkan kondisi mereka.

Masih terdapat 11 bulan sebelum kita bertemu lagi dengan bulan ramadhan. Maka, kinilah saatnya membuktikan bahwa puasa ramadhan kita benar-benar berbekas dalam diri kita. Kepekaan sosial yang kita asah selama ramadhan seharusnya menjadi semakin tajam ketika menyaksikan saudara-saudara kita seiman di Tolikara teraniaya dan membutuhkan bantuan

Posting 9 November 2015

Contact Us

Fakultas Geografi UMS
Surakarta: Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta
Telp. 62-271-717417 ext 151-153

Galery






Calendar