Subscribe News


 
E-mail
Name

 

Anda Pengunjung Ke:

free html visitor counters

User:


Ibadah Haji, Kurban dan Kesalehan Sosial


Drs. Priyono, M. Si.

Demikianlah Allah Telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." (Al-Hajj: 37).

ORANG tua mana yang tega membunuh (bahkan dengan cara menyembelih) anaknya? Namun demikian, Ibrahim AS hendak melakukannya. Nabi Ibrahim diperintah Allah SWT untuk menyembelih anak kesayangannya. Padahal Ismail adalah anak yang sebelumnya telah berpuluh tahun didambakan kelahirannya. Meski demikian, Ibra­him AS tetap melaksanakan perintah Allah SWT tersebut untuk membuktikan ketaatan dan keimanannya kepada Allah SWT.

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, Allah SWT pun menggantinya dengan domba sembelihan yang besar. Ibrahim bukan menyem­belih Ismail, namun menyem­belih seekor domba. Kisah tentang ujian keimanan Ibrahim AS ini termaktub deng­an indah dalam Q.S. Ash Shaf- faat ayat 99-111. Peristiwa ini kemudian dijadikan sebagai hari raya umat Islam selain hari raya Idul Fitri, yakni Idul Adha.

Idul Adha adalah momen hari raya umat Islam yang memberikan makna nilai-nilai pengorbanan yang diangkat dari sejarah dan kisah Nabi Ibrahim serta anaknya Ismail di atas. Hari Raya Idul Adha yang merupakan rangkaian ibadah haji dan kurban ini merupakan mo­mentum penting dalam kehidupan beragama yang tidak hanya menumpuk kesalehan individu, tetapi juga mempertebal kesalehan sosial.

Kesalehan individu terpupuk karena ibadah haji dan kurban merupakan sarana pembuktian ketaqwaan kita kepada Allah. Ibadah kurban yang dilakukan harus mumi dilakukan hanya semata-mata karena Allah dan dalam rangka menjalankan perintah-Nya.  Ketaqwaan inilah yang akan sampai kepada Allah SWT, bu­kan darah atau daging hewan yang kita sembelih. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS Surat A1 Haj j ayat 37 yang artinya: unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah Telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu dan berilah kabar gem­bira kepada orang-orang yang berbuat baik."

Penyembelihan hewan kurban juga merupakan salah satu rang­kaian ibadah haji di tanah suci. Di mana bekal berangkat ke tanah haram tidak lain adalah ketaqwaan. Ketika memasuki puncaknya haji yaitu wukuf di padang Ara fah (yang tahun ini jatuh pada hari Ahad, 11 September 2016), dengan menggunakan dua helai pakaian ihram berarti calon jamaah telah menanggalkan sifat-sifat dunia yang melekat sepertikekayaan, jabatan, status sosial, asal daerali, asal negara.

Pendek kata kita telah men- jadi egaliter sebagai tamu Allah, hanya ketaqwaan yang dinilai oleh Allah. Agar doa kita di padang Arafah dikabulkan maka kesucian hati menjadi prasarat. Doa kita di padang Arafah akan mendapat respons yang cepat dari Allah. Inilah keutamakan padang Arofah yang selalu didambakan oleh setiap tamu Alloh. Maka perbanyak istighfar, dzikir, doa dan baca Al-Quran selama di padang Arafah. Secara lengkap artikel dapat dibaca dan download di sini

 

Upload Tanggal 20 September 2016

Contact Us

Fakultas Geografi UMS
Surakarta: Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta
Telp. 62-271-717417 ext 151-153

Galery






Calendar