Subscribe News


 
E-mail
Name

 

Anda Pengunjung Ke:

free html visitor counters

User:


Lakum Dinukum Waliyadin (Memberi Pedoman Terang Benderang)


Drs. Priyono, M. Si.

Katakanlah: Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.

FENOMENA beda pendapat atau polemik yang selalu menghiasi berita media massa di Indonesia ini cukup menarik dan klasik. Anehnya fokus perdebatannya lebih seru pada sisi akibat, bukan pada sebab atau akar permasalahannya. Padahal dunia ini berlaku hukum sebab akibat. Ambil contoh kasus penistaan agama, penggunaan atribut nonmuslim pada saat Natal, justru fokus perdebatan pada sisi akibat yaitu demo 212, fatwa Majelis Ulama Indone­sia (MUI).

Disinilah letak kurang seimbangnya penyelesaian masalah secara mendasar. Mestinya kita mengekor pada Kantor Pegadaian yang punya slogan nenyelesaikan masalah tanpa masalah. Artinya dari sisi sebab yang harus dibidik. Tiap menjelang akhir tahun, perdebatan tentang penggunaan atribut Natal selalu mengemuka di kalangan umat. MUI pun akhirnya mengeluarkan fatwa terkait hal tersebut. Sekretaris rimisi Fatwa MUI Asrorun Niam membacakan fatwa bahwa menggunakan atribut keagamaan nonmuslim adalah haram. Mengajak dan atau memerintahkan penggunaan atribut keagamaan nonmuslim adalah haram.

Demikianlah kutipan dari artikel yang dibuat oleh Drs. Priyono, M. Si yang termuat dalam Koran Harian Suara Merdeka Radar Solo Jumat 23 Desember 2016. Secara lengkap cuplikan tersebut dapat di unduh di sini

 

Upload tanggal 5 Januari 2017

Contact Us

Fakultas Geografi UMS
Surakarta: Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta
Telp. 62-271-717417 ext 151-153

Galery






Calendar