Subscribe News


 
E-mail
Name

 

Anda Pengunjung Ke:

free html visitor counters

User:


Sidang Ahok dan Kewajiban Bersaksi dengan Adil


Drs. Priyono, M. Si.

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan

(QS An-Nisa’: 135).

 

Sidang kasus penistaan agama dengan tersangka Gubernur Jakarta nonaktif, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok telah memasuki sidang yang keenam pada 17 Januari 2017 lalu. Sejak sidang ke empat (3 Januari 2017) para pelapor dan terlapor mulai menghadirkan saksi-saksi. Tim kuasa hukum Ahok, Trimoelja D Soerjadi, mengatakan pihaknya akan menghadirkan lebih dari 10 saksi dalam sidang. Sementara ketua tim jaksa penuntut umum, Ali Mukartono, mengatakan pihaknya memanggil lima sampai enam saksi terlebih dahulu. Untuk kasus Ahok ini memang tidak sedikit saksi yang akan terlibat, polisi bahkan sebelumnya telah memeriksa 43 orang saksi, diantaranya lebih dari 20 orang adalah saksi fakta dan belasan saksi ahli.

Maka terkait dengan bagaimana ending dan siapa pemenang dari “pertarungan” di sidang tersebut, ada hal yang sangat krusial dalam kasus tersebut yang patut kita cermati, yaitu kesaksian dari para saksi yang dihadirkan dalam persidangan. Apalagi di dalam praktek peradilan di Indonesia, pembuktian dengan keterangan saksi memang memegang peranan yang sangat penting.

Oleh karena itu, bila seseorang menjadi saksi maka dia wajib menyampaikan apa yang telah ia saksikan dan ketahui. Kesaksian yang benar adalah sebuah kewajiban yang hukumnya wajib kifayah. Allah SWT dalam QS Al Baqarah ayat 282 berfirman yang artinya: “Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberikan keterangan) apabila mereka dipanggil.” Firman Allah tersebut merupakan perintah untuk menunaikan persaksian dan menyampaikan fakta di depan persidangan karena hal itu sangat dibutuhkan untuk menegakkan kebenaran.

Maka kejujuran merupakan sebuah keniscayaan di sini. Sebab jika kesaksian seseorang ternyata bohong atau terbukti palsu, maka konsekuensinya akan sangat berat, baik hukuman di dunia maupun di akhirat. Konsekuensi di dunia, bersaksi palsu di pengadilan bisa menimbulkan konsekuensi serius berupa ancaman hukuman pidana. Seseorang yang awalnya duduk di kursi saksi, jika terbukti melakukan kesaksian palsu bisa berubah duduk di kursi tersangka. Menurut hukum di Indonesia, seseorang yang memberi keterangan palsu di atas sumpah, baik lisan maupun tulisan diancam dengan pidana penjara hingga tujuh tahun lamanya.

Sementara dalam hukum Islam, para ulama menggolongkan kesaksian palsu sebagai dosa besar. Perbuatan ini merupakan salah satu dari dosa-dosa yang membinasakan dan paling berat ketentuan hukum haramnya. Kesaksian palsu merupakan perbuatan dzalim bahkan termasuk sebesar-besarnya dosa besar.

Larangan memberi kesaksian palsu tegas disebutkan di dalam al-quran dan as-Sunnah.  Di dalam firman-Nya Allah Swt menyandingkan larangan kesaksian palsu dengan larangan menyekutukan-Nya. Firman Allah dalam QS Al Hajj ayat 30 yang artinya: “maka jauhilah olehmu dosa akibat menyembah berhala-berhala dan jauhilah perkataan-perkataan yang dusta”.

Rasulullah SAW pun menyejajarkan kesaksian palsu dengan syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua. Ini merupakan dua dosa besar yang derajat dosanya sangat dahsyat. Dari Abu Bakrah RA, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Maukah kau kuberi tahu tentang dosa besar yang paling besar?” Kami menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Menyekutukan Allah dan durhaka  kepada kedua orang tua.” Ketika itu beliau sedang bersandar, kemudian beliau duduk lalu bersabda lagi, “Ketahuilah demikianlah pula ucapan bohong!” Rasulullah terus mengulang ucapanya, hingga kami pun berharap agar beliau berhenti mengulanginya (HR Bukhari).

Jelas bahwa derajat keharaman saksi palsu sejajar dengan syirik dan durhaka kepada orang tua. Rasulullah bahkan mengulang-ulang saat menyebut perkataan bohong. Hal ini merupakan penegasan jika perbuatan ini mempunyai konsekuensi yang sangat serius. Pelaku kesaksian palsu di pengadilan setidaknya telah melakukan tiga dosa besar sekaligus, yaitu pertama, berbohong atas nama Allah Swt karena sebelum bersaksi dalam persidangan dia telah disumpah; kedua, mendzalimi orang yang ia persaksiakan (tersangka); dan ketiga, mendzalimi orang yang ia bersaksi untuknya (korban).

Oleh karena itu, setiap mukmin diwajibkan untuk memberikan kesaksian dengan adil, tanpa melihat siapa pun yang diberikan kesaksiaannya. Bertindak adil merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Sikap tersebut wajib dilakukan terhadap siapa pun, termasuk terhadap diri, orang tua, maupun sanak saudara.

Maka dalam sidang kasus Ahok, saksi yang diajukan baik dari pihak pelapor maupun terlapor, memikul beban yang sangat tidak ringan, karena kesaksian mereka akan menentukan keputusan pengadilan nantinya. Semoga dalam kasus ini Allah SWT memberikan hasil yang terbaik untuk ummat Islam. Aamiin.

 

Upload tanggal 18 April 2017

Contact Us

Fakultas Geografi UMS
Surakarta: Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta
Telp. 62-271-717417 ext 151-153

Galery






Calendar