Subscribe News


 
E-mail
Name

 

Anda Pengunjung Ke:

free html visitor counters

User:


Hoax, Ifki, dan Kewajiban Tabayyun


Drs. Priyono, M. Si.

“Sesungguhnya orang-orang yang membawa ifki adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya, dan barangsiapa diantara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya adzab yang besar”.  

[An Nur : 11]

Sejumlah pegiat media sosial dan elemen masyarakat pada minggu pagi (8/1/2017) yang lalu, menggelar Deklarasi Masyarakat Indonesia Anti-Hoax di simpang empat Ngarsopuro, Jl Slamet Riyadi Solo, di tengah keramaian Car Free Day (CFD). Selain di kota Bengawan, deklarasi serupa juga digelar serentak di 5 kota yang lain yaitu Semarang, Wonosobo, Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Kota Yogyakarta kabarnya  juga akan deklarasi pekan depan. Deklarasi ini menanggapi maraknya peredaran berita palsu alias hoax di media sosial di Indonesia belakangan ini. Mereka berkomitmen mengkampanyekan gerakan anti berita hoax yang cenderung meresahkan dan memecah belah bangsa.

Deklarasi tersebut menunjukkan keprihatinan masyarakat akan maraknya berita bohong atau palsu alias hoax dewasa ini yang kian sering berseliweran di media sosial. Apalagi saat ini penggunaan media sosial di Indonesia semakin masif sehingga berita hoax semakin meresahkan.

Namun demikian bila kita cermati, sebenanrnya penyebaran hoax bukanlah hal yang baru. Bahkan sejak zaman Rosulullah SAW-pun sudah pernah terjadi kasus penyebaran berita bohong yang menimpa Aisyah, istri Rosulullah. Pada perang melawan serangan kaum musyrikin yang dipimpin Al Harits ibn Dhihar, Aisyah terpilih untuk ikut berperang. Setelah meraih kemenangan dalam perjalanan pulang kembali ke Madinah, karena hari sudah malam, pasukan Islam berhenti sejenak untuk beristirahat. Saat itu Aisyah keluar dari tandu untuk buang hajat. Dalam perjalanan kembali ke tandu, ia merasakan kalung milik Asma saudaranya yang dipakai Aisyah terlepas dan tercecer. Karena sibuk mencari kalung yang hilang, ia tidak sadar bahwa rombongan kaum Muslim telah kembali berangkat melanjutkan perjalanan ke Madinah, sayangnya tandu milik Aisyah disangka berisi Aisyah di dalamnya telah dibawa pergi pula. Aisyah berusaha menyusul rombongan namun mereka telah terlalu jauh, sedangkan dia sendiri tidak faham jalan yang akan dilaluinya. Aisyah kembali ke tempat peristirahatan rombongan dengan harapan masih ada rombongan kaum Muslim yang pulang belakangan hingga akhirnya ia tertidur. Pagi harinya Aisyah dikejutkan oleh kehadiran Shafwan ibn Al Mu’thathal, sahabat Rasulullah yang terlibat dalam Perang Khandaq dan peristiwa-peristiwa lainnya bersama Rasulullah. Shafwan tertinggal rombongan karena suatu keperluan. Aisyah akhirnya dinaikkan ke atas keledai milik Shafwan dan Shafwan sendiri berjalan menuntunnya menuju Madinah. Setibanya di Madinah matahari sudah tinggi dan para sahabat berkumpul membicarakan hilangnya Aisyah. Alangkah kagetnya para sahabat begitu melihat Aisyah mengendarai keledai yang dituntun oleh Shafwan dan hal itu tidak lumrah di kalangan Muslim Madinah. Orang-orang munafik yang membenci Rasulullah dengan didalangi Ubay ibn Salul dan Musath ibn Atsatsah mulai menghembuskan berita bohong tentang Aisyah dan Shafwan. Sebagian kaum muslimin pun ikut membicarakan dan menyebarluaskan berita yang belum jelas kebenarannya itu. Berita tersebut telah meresahkan kaum muslimin, terutama keluarga Nabi SAW, Abu Bakar As Shidiq (ayahanda Aisyah), dan Aisyah sendiri yang bahkan sampai jatuh sakit.

Namun Allah SWT tidak menginginkan berita buruk yang menimpa keluarga Rosulullah ini terus berlarut-larut, maka diturunkan Surat An Nur ayat 11 yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang membawa ifki adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira berita bohong itu buruk bagi kamu, bahkan ia adalah baik bagi kamu.Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya, dan barangsiapa diantara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu, baginya adzab yang besar”.

Ifki maksudnya ialah berita bohong, yang merupakan kebohongan yang paling buruk yang dapat mengakibatkan dampak yang besar bagi sebuah masyarakat.  

Dalam menghadapi hoax dan ifki ini Allah SWT dalam QS Al Hujurat ayat  6 berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”.

Dalam ayat ini, Allah menyuruh kaum mukminin untuk melakukan tabayyun, check dan recheck dengan sangat teliti untuk memastikan kebenaran berita yang sampai kepada kita. Hal ini harus dilakukan agar kita tidak tertimpa suatu musibah dan menyesal atas perbuatan kita menyebarkan berita itu

Dengan demikian, kita tidak boleh menerima begitu saja berita dari orang fasik, sampai kita melakukan pemeriksaan, penelitian dan mendapatkan bukti kebenaran atas berita itu. Karenanya, sebuah berita atau informasi tidak boleh diterima dan juga tidak boleh ditolak begitu saja, sebelum kita teliti dengan seksama.

Betapa banyak fitnah yang terjadi akibat berita bohong yang menyebabkan pertumpahan darah, harta yang terampas, dan kehormatan yang dirusak. Ada saudara berpisah disebabkan berita bohong. Ada suami-istri berpisah karena berita bohong. Ada juga kelompok yang saling memerangi karena terpicu berita bohong. Dengan demikian maka sebenarnya hoax adalah musuh kita bersama.

Oleh karena itu, di zaman di mana kita bisa dengan mudah ikut men- share dan menyebarluaskan informasi di media sosial, maka kita tidak boleh asal meneruskan informasi yang diterima sebelum memastikan kebenarannya. Di sinilah keterampilan melakukan tabayyun menjadi sebuah keniscayaan. Dengan demikian kita harus semakin cerdas untuk memilah dan memilih informasi untuk menangkal merebaknya hoax, untuk menghentikan penyebaran fitnah dan berita bohong. Agar kita juga tehindar dari adzab yang besar dari Allah SWT.

 

Upload tanggal 25 April 2017

Contact Us

Fakultas Geografi UMS
Surakarta: Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta
Telp. 62-271-717417 ext 151-153

Galery






Calendar