Subscribe News


 
E-mail
Name

 

Anda Pengunjung Ke:

free html visitor counters

User:


Tertangkapnya Hakim MK dan Hukum Risywah


Drs. Priyono, M. Si.

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. 

[QS. Al-Baqarah: 188].

Seorang hakim yang bertugas di Mahkamah Konstitusi (MK) tertangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) yang digelar KPK pada Rabu (25/1/2017) lalu. Hakim yang menerima suap tersebut terkait uji materi di MK. Ini sungguh memprihatinkan dan ironis. Seseorang yang seharusnya menegakkan hukum dan memberantas korupsi, namun justru dia ikut melanggar hukum dan terlibat korupsi. Lebih ironis lagi karena ini bukan kasus korupsi pertama yang dilakukan oleh hakim MK. Sebelumya, Akil Mochtar mantan ketua MK dihukum seumur hidup karena dinyatakan terbukti bersalah menerima hadiah dan tindak pidana pencucian uang terkait kasus sengketa Pilkada di MK.

Kenyataan ini menjadi tanda bahwa betapa sangat akut dan kronisnya penyakit korupsi yang menggerogoti bangsa ini. Bahkan pejabat-pejabat publik yang seharusnya memberikan keteladanan justru menjadi bagian tumbuh suburnya budaya korupsi ini.

Secara sederhana korupsi diartikan sebagai tindakan menyelewengkan uang atau benda orang lain yang bukan menjadi haknya. Sedang secara labih luas korupsi diartikan sebagai tindakan menyalahgunakan jabatan untuk keuntungan pribadi, memperkaya diri sendiri, kelompoknya sendiri, atau korporasinya sendiri. Tindakan korupsi pada tingkatan pemerintahan suatu negara sangat merugikan karena berpotensi merugikan seluruh rakyat di negeri tersebut. Singkatnya, korupsi bersifat menguntungkan diri sendiri, namun merugikan kepentingan orang banyak.

Dengan demikian, korupsi termasuk tindakan memakan harta orang lain dengan cara yang bathil. Tindakan ini jelas dilarang oleh Allah SWT dalam Al Qur`an Surat Al-Baqarah ayat 188 yang artinya “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.”

Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa para ulama telah mengatakan, ”Sesungguhnya pemberian hadiah kepada wali amri (orang yang diberikan tanggung jawab atas suatu urusan) untuk melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan, ini adalah haram, baik bagi yang memberikan maupun menerima hadiah itu, dan ini adalah suap yang dilarang Nabi SAW.”

Jadi ternyata suap-menyuap bukanlah hal baru dalam Islam, karenanya banyak hadits dan atsar para sahabat yang mencela bahkan mengutuk praktik suap-menyuap tersebut. Suap-menyuap dalam Islam disebut dengan istilah ar-Risywah. Ar-Risywah adalah pemberian apa saja (berupa uang atau yang lain) kepada penguasa, hakim atau pengurus suatu urusan agar memutuskan perkara atau menangguhkannya dengan cara yang bathil. Cara bathil inilah yang menyebabkan sebuah ketentuan berubah, sehingga merugikan dan menyakiti banyak orang. Maka wajarlah jika Rasulullah mengutuk/melaknat para pelaku suap-menyuap ini.

Hadits dari Ibnu Umar ra, ia berkata : “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melaknat yang memberi suap dan yang menerima suap”.[HR At-Tirmidzi]. Sedangkan dalam riwayat Tsauban, terdapat tambahan: “Arroisy” (…dan perantara transaksi suap)” [HR Ahmad].

Berdasarkan hadits tersebut, para ulama menggolongkan dosa Rishwah ini ke dalam dosa besar, karena laknat tidaklah terjadi kecuali pada dosa-dosa besar saja. Maka suap-menyuap itu hukumnya haram, termasuk dosa besar dan salah satu bentuk terburuk memakan harta orang lain dengan cara yang bathil.

Padahal betapa besar ancaman bagi para pelaku Rishwah ini. Jika Allah dan Rasul-Nya telah melaknat seseorang maka laknat itu akan melekat pada dirinya tidak hanya di dunia saja, tetapi  hingga akhirat. Pelaku, penerima dan orang-orang yang terlibat dalam praktik Rishwah tersebut tidak akan mendapatkan keuntungan melainkan kecelakaan yang akan Allah berikan kepadanya, jika tidak di dunia, di akhirat adalah pasti. Na’udzubillahi min dzalik.

Sayangnya, meski termasuk dosa besar namun praktik suap menyuap di negeri ini seolah menjadi pemandangan yang biasa karena dipraktikkan oleh hampir semua kalangan mulai dari pejabat hingga rakyat. Kasus tertangkapnya lagi seorang hakim MK di atas merupakan sinyal bahwa praktik jahat suap-menyuap dan korupsi di negeri ini bukannya surut melainkan semakin merajalela.

Maka sebagai seorang muslim bagian dari NKRI yang tercinta ini, yang mengaku tunduk dan patuh terhadap hukum-hukum Allah dan Rasulullah, seharusnyalah kita membenci dan menjauhi praktik Risywah ini. Mari ikut perangi praktik suap-menyuap (Rishwah) ini mulai dari diri sendiri dan keluarga, mulai dari yang kecil, dan mulai sekarang juga.

 

upload tanggal 2 Mei 2017

Contact Us

Fakultas Geografi UMS
Surakarta: Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta
Telp. 62-271-717417 ext 151-153

Galery






Calendar