Subscribe News


 
E-mail
Name

 

Anda Pengunjung Ke:

free html visitor counters

User:


Donald Trump, Islamophobia, dan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin


Drs. Priyono, M. Si.

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

(Q.S Al-Anbiya: 107)

            “I think Islam hate us”, demikian ujar Donald Trump sehari sebelum debat capres dari Partai Republik di Miami, Florida pada 10 Maret 2016. Kalimat itu diungkapkan  beberapa bulan sebelum akhirnya Trump maju sebagai capres dari Partai Republik dan akhirnya memenangi pemilihan Presiden Amerika pada 8 November 2016 lalu. Ungkapan Trump di atas jelas menyiratkan betapa Ia phobia terhadap Islam. Bahkan dalam banyak kesempatan dalam kampanyenya, Trump berulang kali menyampaikan rencananya yang akan melarang muslim masuk ke Amerika Serikat. Selain itu, warga muslim di Amerika akan didata dan diawasi. Alih-alih menganggap “Islam adalah perdamaian”, Trump menyatakan bahwa, “Islam membenci kita”.

                Sikap Trump ini secara terang-terangan mengkapanyekan Islamophobia, yaitu ketakutan yang berlebihan terhadap segala sesuatu yang berbau Islam. Para pengusung Islamophobia cenderung mengkambinghitamkan Islam dan memfitnah umat Islam. Yang memprihatinkan, Islamophobia saat ini sangat “mewabah” di negara-negara Barat yang mayoritas non-muslim (Amerika dan Eropa).

Isu Islamophobia menjadi semakin masif ketika perang melawan terorisme yang diprakarsai oleh Presiden Bush berlangsung sejak beberapa tahun belakangan. Para analis dan media-media Barat seolah sengaja mengidentikan Islam dengan terorisme. Islam dicitrakan sebagai agama kekerasan dan mengekang kebebasan manusia dengan ajaran-ajarannya. Alhasil, berbagai macam tindakan anti-Islam semakin sering terjadi.

Stigma negatif terhadap Islam ini memperkuat pandangan dan sikap yang menyudutkan umat Islam. Hal ini akan mendorong sikap curiga, kebencian, dendam dan kemarahan yang berujung pada menguatnya konflik horisontal di masyarakat. Jika hal itu terjadi di negeri mayoritas non-muslim akan menyebabkan umat Islam dilecehkan. Sedangkan jika hal itu terjadi di negeri mayoritas muslim akan menyebabkan pemuda muslim enggan mengkaji Islam karena takut disebut ekstrimis.

Sejatinya, Islamophobia itu timbul juga karena mereka tidak mengenal Islam yang sesungguhnya. Karena Islam sejatinya adalah agama rahmatan lil ‘alamin, artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta, termasuk di dalamnya hewan, tumbuhan dan jin, dan tentunya bagi sesama manusia. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat al-Anbiya ayat 107 yang artinya: “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.

Di samping menunjukkan universalisme Islam ayat ini juga menegaskan bahwa tujuan utama Rasulullah diutus oleh Allah SWT adalah untuk menyebarkan rahmat bagi seluruh alam semesta. Sebab itulah maka ajaran Islam berlaku secara global sehingga berlaku tidak hanya untuk bangsa tertentu saja melainkan berlaku untuk seluruh umat manusia apapun suku dan bangsanya. Inilah universalisme Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yaitu berlakunya syariat Islam untuk semua orang di seluruh dunia. Hal ini berbeda dengan syariat Islam yang dibawa nabi dan rasul sebelumnya. Nabi Nuh dan Nabi Luth khusus untuk kaumnya, Nabi Hud untuk kaum ‘Ad, Nabi Shalih untuk kaum Tsamud, Nabi Musa, Isa, Zakaria, Yahya hingga Isa untuk Bani Israil.

Secara etimologis, Islam berarti damai, sedangkan rahmatan lil-‘alamin berarti rahmat bagi seluruh alam. Maka, Islam yang rahmatan lil-‘alamin dapat dimaknai sebagai Islam yang  kehadirannya di manapun di pelosok dunia mampu membawa kedamaian dan rahmat bagi manusia maupun alam seisinya. Posisinya sebagai agama penyempurna agama-agama sebelumnya menjadikan Islam sebagai agama yang istimewa di tengah peradaban manusia yang multi-agama, suku, etnis, dan budaya.

Sementara itu, syariat Islam mencakup seluruh aspek kehidupan karena ajarannya bersifat integral, tak satu pun aspek yang terlepas dari syariat Islam. Dengan demikian, jika ajaran Islam dipraktekkan dengan benar maka dengan sendirinya akan mendatangkan rahmat bagi umat Islam itu sendiri dan bagi seluruh umat lain di dunia, bahkan bagi seluruh penghuni bumi.

Maka jika ada orang yang mengatakan bahwa, “Islam membenci kita” orang itu pasti salah paham. Karena bagaimana mungkin Islam membenci mereka jika Islam adalah agama rahmat bagi seluruh alam? Karena itu, seorang muslim dalam interaksinya dengan umat lain harus menerapkan watak rahmatan lil-‘alamin. Jika tanpa komunikasi dan interaksi yang baik dengan komunitas umat lain, maka rahmat Allah SWT yang diberikan melalui Islam ini tidaklah mungkin dapat disampaikan kepada komunitas lain tersebut.

Dalam membangun tatanan dunia yang lebih damai, adil, dan beradab, umat Islam baik di tingkat lokal, nasional, maupun global dituntut untuk terus memainkan peran dakwah secara lebih baik. Hal ini perlu terus dilakukan agar kaum muslimin tumbuh menjadi kekuatan penting dan menentukan dalam percaturan peradaban modern yang penuh tantangan ini. Dengan demikian, umat Islam akan tumbuh dan berkembang menjadi khaira ummah di tengah-tengah masyarakat baik di tingkat lokal, nasional, maupun global. Harapannya,  Islamophobia terutama di negara-negara mayoritas non-muslim seperti di Amerika, lambat laun akan surut dengan sendirinya.

 

Upload tanggal: 9 Mei 2017

Contact Us

Fakultas Geografi UMS
Surakarta: Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta
Telp. 62-271-717417 ext 151-153

Galery






Calendar