Anda Pengunjung Ke:

free html visitor counters

User:


Banjir Berulang Kali, Human Error, dan Azab Alloh


Drs. Priyono, M. Si.

Bencana demi bencan seolah datang silih berganti melanda negeri Indonesia tercinta ini. Termasuk bencana banjir yang beberapa hari belakangan ini telah melanda Ibu kota Jakarta dan kawasan sekitarnya. Seperti diketahui, hujan lebat yang melanda Jabodetabek mengakibatkan banjir di hampir seluruh wilayah Jakarta dan sekitarnya. Ribuan orang mengungsi. Selain itu, tak terhitung kerugian harta dan benda yang diderita warga.

Jika kita telusur lebih seksama, banjir di Jakarta dan sekitarnya ini bukanlah yang pertama kali, melainkan peristiwa yang selalu berulang setiap tahun. Penyebab banjir yang berulang di Jakarta dan sekitarnya selain karena faktor kondisi geografis yang memang rentan banjir (seperti kenyataan bahwa sebanyak 40% wilayah Jakarta berada di bawah permukaan air laut, terdapat 13 buah sungai yang bermuara di pantai Utara Jakarta, dan curah hujan yang tinggi),  banjir juga disebabkan oleh perilaku warga yang tidak bijak terhadap lingkungan. Kebiasaan warga yang membuang sampah sembarangan sangat berpengaruh terhadap kapasitas drainase yang ada.  Ketika hujan turun, sampah yang dibuang sembarangan tadi ikut terbawa sampai sungai dan menyumbat aliran sungai-sungai yang ada.  Selain itu, semakin banyak area yang ditutupi dengan permukaan yang tidak dapat menyerap air seperti jalan dan gedung sehingga ketika hujan turun airnya tidak dapat diserap bumi tetapi mengalir dipermukaan dan memenuhi drainase yang ada. Selain itu, ada juga yang mengkaitkan bencana banjir yang menimpa Jakarta dan sekitarnya itu adalah azab Alloh karena dosa yang dilakukan penduduk di sana. Benarkah demikian?

Jika kita tilik sejarah, banjir bukanlah peristiwa yang baru dalam kehidupan umat masuia. Bahkan dalam al-Qur’an menyebutkan bencan banjir yang dahsyat pernah melanda kaum ‘Ad, negeri Saba’ dan kaum Nabi Nuh. Peristiwa ini dapat kita baca dalam surah Hud ayat 32-49, surah al-A’raf ayat 65-72, dan surah Saba ayat 15-16.

Sebab musyabab banjir (dan juga berbagai bencana yang lain) dapat dilihat dari sisi teologis dan ekologis. Dari sisi teologis, sebab timbulnya banjir tersebut dikarenakan pembangkangan umat manusia pada risalah ketuhanan yang disampaikan oleh para utusan Allah yakni para Nabi dan Rosul. Sebagaimana kasus banjir yang terjadi pada kaum ‘Ad, negeri Saba’, dan Kaum Nuh di atas. Sedangkan dari sisi ekologis, bencana tersebut dipandang sebagai akibat ketidakseimbangan lingkungan yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia dalam memperlakukan lingkungan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa banjir bukanlah sekedar musibah kemurkaan Allah kepada umat manusia, melainkan juga merupakan fenomena ekologis yang disebabkan oleh perilaku manusia dalam mengelola lingkungan.

Jadi, baik dari sisi teologis maupun ekologis, penyebab banjir (dan juga malapetaka lainnya yang menimpa manusia) tidak lain dan tidak bukan adalah akibat perilaku manusia itu sendiri. Baik karena menentang risalah Tuhan maupun karena memperlakukan lingkungan dengan semena-mena. Maka bencana tersebut terjadi dan melanda umat manusia karena kesalahan manusia itu sendiri. Dengan kata lain, faktor human eror menjadi penyebab terjadinya segala malapetaka yang menimpa manusia.

Dalam Al-Qur’an, faktor human eror sebagai penyebab timbulnya musibah disebutkan dengan beberapa istilah seperti: karena perbuatan tangan manusia, karena kezhaliman yang mereka lakukan, karena keingkaran mereka atau dosa yang mereka lakukan. Semua musibah itu terjadi sebagai konsekuensi atas apa yang telah manusia perbuat, baik secara langsung maupun tidak.

Perbuatan tangan manusia menjadi penyebab kerusakan di bumi sebagaimana terdapat dalam Surat Ar-Rum ayat 41-42 yang artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Ayat ini menjelaskan bahwa setiap tindakan manusia memiliki konsekuensi yang akan kembali kepada diri manusia itu sendiri. Ketika manusia menuruti hawa nafsunya dan mengabaikan keseimbangan ekosistem, akibatnya pasti dirasakan oleh manusia. Hal ini supaya manusia merasakan akibat perbuatannya dan agar mereka kembali ke jalan yang benar.

Sedangkan azab berupa bencana yang menimpa manusia dikarenakan kezhaliman manusia pada diri mereka sendiri sebagaimana disebutkan dalam Surat Huud ayat 101: “Dan Kami tidaklah menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka” (QS. Hud: 101).

Ayat di atas menerangkan bahwa Allah menurunkan bencana pada suatu kaum itu bukanlah tindakan aniaya dari Alloh, melainkan mereka sendirilah yang menganiaya (dzalim) kepada diri mereka sendiri yang menyebabkan Allah menurunkan azab. Kaum tersebut mempersekutukan Allah, mengadakan kerusakan di muka bumi terus-menerus sehingga azab Alloh SWT ditimpakan kepada kaum yang dzalim kepada diri mereka sendiri tersebut. Ayat tersebut juga menyebutkan bahwa seandainya mereka dibiarkan dalam keadaan yang demikian berlarut-larut, niscaya mereka akan tetap saja demikian malah bertambah-tambah penganiayaan, kejahatan dan pengrusakannya di muka bumi.

Sebagai penutup, untuk merenungkan mengapa bencana demi bencana seolah tak kunjung henti melanda Indonesia, mari renungkan firman Alloh dalam surat Al A’raf ayat 96 berikut serbagai intropeksi kita semua: ”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri Beriman dan Bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat–ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.”

 

Upload Tanggal 26 Agustus 2017

Contact Us

Fakultas Geografi UMS
Surakarta: Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta
Telp. 62-271-717417 ext 151-153

Galery






Calendar