Anda Pengunjung Ke:

free html visitor counters

User:


Nabi-pun Dicap Radikal


Drs. Priyono, M. Si.

Ya, semua Nabi dan Rasul siapapun, ketika pertama kali memperkenalkan ajaran dakwahnya pasti akan diposisikan sebagai seorang radikal oleh masyarakatnya.

Ketika Muhammad memproklamirkan konsep Tauhid, penduduk Jahiliyah Makkah kontan memposisikan Muhammad sebagai musuh. Sebab kalimat tauhid adalah kritik dan perombakan radikal terhadap tatanan keberhalaan (di Ka’bah waktu itu, warga Makkah menyembah tuhan yang berbilang, dalam bentuk patung-patung: Latta, Uzza dll).

Kalau saya Abu Jahal, mungkin masih bisa memahami seandainya Muhammad menunjuk salah satu patung besar di Ka’bah (Latta atau Uzza), sebagai Tuhan yang diesakan. Tapi Muhammad membongkar secara radikal kebiasaan lama dan semua tatanan penyembahan masyarakat Jahiliyah Makkah.

Konsep penyembahan Jahiliyah adalah tuhan itu kasat mata, dapat disentuh dan diraba. Kemudian Muhammad merombaknya secara radikal: Tuhan yang diesakan itu tidak riil secara kasat mata, tak bisa diraba, tak dapat disentuh.

Muhammad memperkenalkan Tuhan dengan “Sembahlah Tuhanmu seolah-olah engkau melihat-Nya, dan bila kau tidak mampu melihatnya, maka sungguh Dia melihatmu”. Konsep penyembahan yang mengkombinasikan antara logika dan imajinasi (seolah-olah) ini adalah gagasan radikal bagi tatanan keberhalaan masyarakat Jahiliyah Makkah.

Maka Muhammad adalah seorang radikal untuk ukuran zamannya. Karena konsep radikal itu tak bisa dibendung, maka keluarlah kebijakan: “Tidak ada jalan lain, kecuali Muhammad harus dibunuh”, dan ceritanya kemudian berlanjut dengan hijrahnya Muhammad ke Madinah.

Sekitar 2.500 tahun sebelum Muhammad, seorang warga dari kampung Ur, (kini masuk wilayah Irak), yang bernama Ibrahim, menghancurkan patung-patung sesembahan Raja Namrud dan kaumnya. Ibrahim lalu diadili dan ditanya siapa yang menghancurkan patung-patung itu wahai Ibrahim? Ibrahim menjawab: “bertanyalah kepada patung-patung yang hancur itu yang kau yakini sebagai tuhan kalian”.

Ibrahim menawarkan ideologi yang sangat radikal, terhadap moda penyembahan pada zamannya.

Maka Ibrahim yang dijuluki bapak tauhid itu adalah seorang radikal untuk ukuran zamannya. Karena konsep radikal Ibrahim tak bisa dibendung, maka keluarlah kebijakan: “tidak ada jalan lain, kecuali Ibrahim harus dibunuh” dengan cara dilempar ke dalam kobaran api.

Sekitar enam ratus tahun lebih sebelum Muhammad, seorang warga dari kampung Nazaret bernama Isa (Almasih) memasuki Jerusalem dan memperkenalkan konsep kasih.

Di tengah masyarakat Yahudi yang lebih mengutamakan konsep qishas: “mata dibalas mata”, maka tawaran konsep kasih (antara lain lewat ajaran bila pipi kananmu digampar, kasih lagi pipi kirimu) akhirnya direspon dan diposisikan sebagai kritik yang radikal.

Konsep kasih itu menyebar tak terbendung, lalu keluarlah kebijakan “tidak ada jalan lain kecuali Isa harus dibunuh,” dengan cara disalib.

Nabi dan Rasul siapapun, ketika memperkenalkan ajarannya pasti diposisikan sebagai seorang radikal oleh masyarakatnya.

Dan ini yang saya maksud (dalam artikel Catatan Kritis terhadap Program Deradikalisasi) bahwa istilah radikal – seperti lazimnya terminologi sosial lainnya – adalah sebuah term yang lentur.

 

Upload tanggal 21 September 2017

 

Contact Us

Fakultas Geografi UMS
Surakarta: Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta
Telp. 62-271-717417 ext 151-153

Galery






Calendar