Anda Pengunjung Ke:

free html visitor counters

User:


SKTM “Aspal” dan Kemunafikan


Drs. Priyono, M. Si.

Peraturan Mendikbud nomor 17 tahun 2017 mengamanatkan sekolah negeri wajib menerima siswa miskin minimal 20% dari keseluruhan siswa yang diterima. Tujuannya sangat mulia, yaitu untuk memberikan kesempatan bagi anak-anak dari keluarga miskin agar memperoleh kesetaraan pelayanan di bidang pendidikan dengan anak-anak dari warga mampu sehingga dapat sama-sama duduk di bangku sekolah negeri.

Namun sayang, kebijakan yang mulia itu justru banyak dimanfaatkan orang tua murid yang tega berdusta demi agar anaknya bisa diterima di sekolah negeri. Di Kota Solo sendiri, Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Solo menemukan ada 16 dugaan penyalahgunaan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) oleh warga mampu untuk mendaftar anak mereka ke SMA negeri. Lebih memprihatinkan di seluruh Jawa Tengah, setelah dilakukan validasi proses penerimaan siswa baru menemukan ada 168 siswa yang menggunakan SKTM “Aspal” (asli tapi palsu).

SKTM yang digunakan memang benar-benar dikeluarkan oleh pemerintah desa, namun setelah dicek kondisi keluarganya, kondisi keluarga siswa yang bersangkutan ternyata tidak termasuk keluarga tidak mampu.  Dikatakan aspal, karena SKTM yang dibuat dan ditandatangani oleh Lurah atau Kepala Desa serta diketahui Camat tersebut, tidak mendasarkan pada kondisi riil di lapangan. Sebab ditemukan adanya warga yang tidak masuk dalam daftar orang miskin, mendapatkan SKTM. Padahal, yang bersangkutan hidupnya tergolong mampu, ada yang memiliki mobil, rumahnya bagus mentereng, perabotan rumah tangganya mewah, bahkan ada yang punya usaha industri.

Kasus SKTM aspal ini bukan perihal yang sepele. Kasus ini menunjukkan adanya penyakit kronis serius yang diderita oleh masyarakat kita. Penyakit tersebuat adalah perbuatan dusta/bohong/tidak jujur dalam memperoleh/mendapatkan sesuatu. Di antara masyarakat ada yang demi kepentingan sesaat, yakni untuk meloloskan anak-anaknya agar diterima di sekolah negeri, mereka dengan mudahnya berdusta dengan membuat SKTM aspal. Lebih memprihatinkan lagi karena kebohongan itu bekerjasama dengan para aparat desa/kelurahan. 

Padahal berdusta/berbohong merupakan salah satu ciri orang munafik. Sebagaimana sabda Rosulullah SAW dalam hadits riwayat Muslim: “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, apabila berbicara selalu bohong, jika berjanji menyelisihi, dan jika dipercaya khianat”. 

Dalam riwayat yang lain di sebutkan: “Ada empat tanda, jika seseorang memiliki empat tanda ini, maka ia disebut munafik tulen. Jika ia memiliki salah satu tandanya, maka dalam dirinya ada tanda kemunafikan sampai ia meninggalkan perilaku tersebut, yaitu: (1) jika diberi amanat, khianat; (2) jika berbicara, dusta; (3) jika membuat perjanjian, tidak dipenuhi; (4) jika berselisih, dia akan berbuat zalim”(HR. Muslim).

Jelaslah bahwa kedusataan juga merupakam bagian dari kemunafikan. Pada kenyataannya memang seringkali bahwa dusta, ketidakjujuran, dan penipuan terjadi di hampir semua lapisan masyarakat dan yang banyak dilakukan oleh orang yang secara formal tercatat dan mengaku sebagai Muslim. Dan kebohongan itu setali tiga uang dengan korupsi. Dengan demikian korupsi bukan hanya dilakukan oleh orang yang memiliki peluang besar dan memiliki kekuasaan besar. Akan tetapi korupsi juga dapat dilakukan oleh segala lapisan masyarakat.

Pedagang cabai bisa melakukan korupsi dengan mengurangi timbangan, pedagang kain bisa melakukan korupsi mengurangi ukuran kain, pesuruh di kantor bisa melakukan korupsi dengan tidak mengembalikan uang kembalian belanja yang seharusnya, guru di sekolah juga dapat melakukan tindakan korupsi ketika mengurangi jam mengajar atau ketika terlambat datang mengajar. Pendek kata, semua orang bisa memiliki penyakit munafik ini: kebohongan atau ketidakjujuran.

Padahal Allah dengan jelas berfirman dalam surat Adz Dzaariyaat ayat 10 yang artinya: “Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta”. Sedangkan Rosulullah SAW bersabda, “Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga. Dan apabila seorang selalu berlaku jujur dan tetap memilih jujur, maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai orang yang jujur. Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allâh sebagai pendusta (pembohong).” (HR Bukhori dan Muslim)

Dengan demikian menjadi jelas bahwa jujur adalah sifat yang terpuji, sedangkan berdusta adalah sifat tercela. Buah kejujuran adalah kebaikan dan surga. Sedangkan akibat kedustaan dan penipuan adalah petaka dan neraka. Dusta juga merupakan kezhaliman kepada diri sendiri, di samping juga kezhaliman terhadap orang lain

Kejujuran adalah akhlak yang tinggi, pondasi segala keutamaan, sehingga tatanan kehidupan masayarakat akan berjalan dengan baik, sedangkan kedustaan adalah pondasi segala kerusakan. Kehidupan masyarakat akan hancur berantakan ketidakjujuran.

Maka jika gerakan anti korupsi merupakan bagian dari usaha bangsa ini untuk menegaskan kebenaran, maka dusta dan kemunafikan merupakan dua tantangan nyata bangsa ini. Oleh karena itu, apabila bangsa Indonesia ini ingin menjadi bangsa besar, berwibawa, disegani, adil, dan makmur maka segenap warga bangsa harus berani berlaku jujur dan meninggalkan sifat dusta dalam segala aspek kehidupan, betapapun beratnya.

 

Upload tanggal 28 September 2017

Contact Us

Fakultas Geografi UMS
Surakarta: Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta
Telp. 62-271-717417 ext 151-153

Galery






Calendar