Anda Pengunjung Ke:

free html visitor counters

User:


Berqurban Hakikatnya Mendekat pada Allah SWT


Drs. Priyono, M. Si.

“Tuhan, tempat aku berteduh. Dimana aku mengeluh dengan segala peluh.

Tuhan, Tuhan Yang Maha Esa. Tempat aku memuja dengan segala doa.

Aku jauh, Engkau jauh. Aku dekat, Engkau dekat

Syair di atas merupakan petikan dari lagu berjudul “Tuhan” yang dinyanyikan oleh Bimbo, seorang musisi pengusung lagu-lagu religi di era 1990-an. Lagu tersebut melukiskan betapa Tuhan itu bisa dekat, bisa juga jauh dari manusia. Semua itu tergantung manusianya itu sendiri. Apakah mau mendekat atau malah menjauh dari Tuhan. Maka cobalah kita renungkan apakah saat ini diri kita merasa dekat atau malah jauh dari Allah SWT. Hati yang jauh dari Allah akan selalu merasa gelisah karena lalai dengan kewajiban sebagai seorang hamba.     Salah satu kewajiban seorang muslim adalah menyembelih hewan Qurban pada setiap Idul Adha bagi muslim yang memiliki kemampuan. Sebagaimana disebutkan dalam Hadits Riwayat Muslim, Abu Hurairah berkata Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang memiliki kemampuan (keluasan rizki) dan tidak menyembelih maka jangan dekati tampat shalat kami.” Hadits ini jelas menunjukkan ancaman kepada orang yang memiliki kemampuan dan enggan menyembelih kurban. Tentunya, Rasulullah tidak akan berbuat demikian, kecuali menunjukkan bahwa itu hukumnya wajib.

Syariat qurban memiliki makna ritual, yakni menyembelih hewan ternak yang telah memenuhi kriteria tertentu pada hari nahar (tanggal 10 Dzulhijah) dan hari tasyrik (tanggal 11-13 Dzulhijah). Ibadah qurban dianjurkan bagi setiap muslim yang memiliki kemampuan materi. Namun ada kesan bahwa Idul Qurban hanya rutininitas ibadah tahunan. Masih banyak orang menyembelih hewan qurban hanya karena ini bagian dari kebiasaan. Bahkan ada sebagian kita yang menganggap bahwa dengan berqurban maka seakan telah memperoleh tiket masuk surga.       

Oleh karena itu, perlu kita renungkan kembali tentang makna berqurban yang hakiki agar qurban kita tahun ini semakin bermakna. Berqurban merupakan salah satu bentuk ibadah. Dengan berqurban berarti kita kembali kepada tujuan hidup, yaitu beribadah kepada Allah. Karena manusia dan jin tidaklah diciptakan, kecuali untuk beribadah kepada Allah. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Adz Dzariyat ayat  56 yang artinya: “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.

Sementara itu, qurban berasal dari kata qaraba, seakar dengan kata ’karib’ dalam bahasa Indonesia, yang berarti dekat. Qurban bermakna taqarrub, yakni usaha mendekatkan diri kepada Allah. Kedekatan antara hamba dan pencipta (khalik)-nya Maka berqurban hakikatnya adalah usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya. Karena itu, makna qurban adalah bentuk pendekatan diri kita kepada Allah melalui lantaran hewan ternak yang dikurbankan atau disembelih. Karenanya, dalam konteks Idul Adha, pesan yang sangat mendasar adalah bahwa agar seorang muslim selalu dekat dengan Tuhannya sehingga tidak tersesat dalam perjalanan hidup menuju ridha Allah SWT.

Seorang hamba wajib bersedia mengorbankan apa saja untuk membuktikan ketaatan kepada Tuhannya. Dengan demikian, berqurban menjadi salah satu bentuk ketaatan hamba kepada Tuhannya. Ketaatan itu bukan hanya diucapkan dengan lisan saja, melainkan harus dibuktikan dengan perbuatan. Dengan demikian, kita merelakan sebagian harta kita yang hakikatnya adalah milik Allah untuk orang lain. Ini menjadi bagian dari ketaatan kita kepada Allah. Selain itu, ketaatan itu harus dilandasi dengan keikhlasan yang bulat. Qurban kita harus benar-benar hanya untuk mencari ridha Allah, bukan untuk yang lain.

Berqurban yang disimbolkan dengan menyembelih hewan merupakan suatu sarana mendekat kepada Allah SWT. Penilaian terhadap penyembelihan hewan, diabadikan Al Quran Surat Al Hajj ayat 37 yang artinya: “Daging-daging (hewan qurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, akan tetapi yang sampai kepada-Nya ialah ketaqwaan kamu.”

Maknanya bahwa daging-daging qurban dan darah-darah yang mengalir itu tidak akan sampai kepada Allah sedikitpun karena Dia Mahakaya lagi Mahaterpuji. Namun yang sampai kepada Allah itu hanyalah niat yang ikhlas. Maka yang dimaksud oleh ayat tersebut ialah ketaqwaan yang berwujud dalam amalan ibadah yang hanya ditujukan kepada Allah semata, bukan kepada selain-Nya. Ketakwaan tersebut berupa setinggi-tinggi penghambaan diri kepada Allah SWT, dimana dalam penghambaan tersebut mengandung kecintaan (mahabbah) dan keikhlasan niat. Inilah hakikat ajaran yang dipelopori oleh Nabi Ibraahiim ‘alaihissalam.

Maka kedekatan dengan Allah SWT melalui berqurban tentu menjadi harapan setiap hamba. Sebab, hamba mana yang tidak ingin merasakan selalu dekat dengan Tuhannya? Jika Allah dekat dengan kita, maka rahmat, hidayah, dan inayah-Nya pun akan dekat dengan kita, sehingga kehidupan kita mulus dan lancar, bahagia dunia dan akhirat.

Upload tanggal 26 Oktober 2017

Contact Us

Fakultas Geografi UMS
Surakarta: Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta
Telp. 62-271-717417 ext 151-153

Galery






Calendar