Subscribe News


 
E-mail
Name

 

Anda Pengunjung Ke:

free html visitor counters

User:


AMELIORASI IKLIM MELALUI ZONASI HUTAN KOTA BERDASARKAN PETA SEBARAN POLUTAN UDARA


Siti Badriyah Rushayati, Endes N. Dahlan, dan Rachmad Hermawan

Forum GeografiKabupaten Bandung merupakan wilayah penyangga Kota Bandung yang saat ini terus berkembang. Perkembangan Kabupaten Bandung, menyebabkan di wilayah ini mengalami peningkatan jumlah penduduk, jumlah industri, transportasi dan luas kawasan terbangun. Hasil penelitian Tursilowati (2002), menyatakan bahwa pertumbuhan kawasan terbangun di Bandung per tahun kurang lebih 1.029 ha (0,36%). Perluasan efek pulau bahang (daerah dengan suhu tinggi 30-35°C) pada kawasan terbangun di pusat kota per tahun kira-kira 12.606 ha atau 4,47%.

Selain faktor antropogenik, efek pulau bahang di Kabupaten Bandung juga dipengaruhi oleh kondisi topografi yang berupa cekungan sehingga pengenceran polutan udara tidak berjalan efektif melalui aliran udara (angin). Sebagai gambaran, hasil penelitian Soedomo (2001) menyatakan bahwa pembebanan SO4 di Jakarta 4,34 kg/ha/thn, sedangkan di Kabupaten Bandung 5,37 kg/ha/thn. Emisi polutan udara antropogenik SO4 di Jakarta 20.503 ton/tahun, dan Bandung 2.472 ton/tahun.

Konsentrasi polutan udara tinggi menyebabkan pancaran balik gelombang panjang dari permukaan bumi terperangkap polutan udara sehingga mengakibatkan kenaikan suhu udara. Kondisi ini akan menyebabkan terjadinya fenomena urban heat island (pulau bahang), yang suhunya lebih tinggi dibanding daerah sekitar sehingga menciptakan kondisi iklim perkotaan tidak nyaman. Untuk mengatasi hal ini, perlu dilakukan pembangunan hutan kota yang disesuaikan dengan sebaran dan tingkat polutan udara sehingga hutan kota dapat
meningkatkan kualitas udara dengan menjerap dan menyerap polutan udara serta dapat memperbaiki kondisi iklim di tempat tersebut.


Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan luaran berupa zonasi hutan kota yang disesuaikan dengan kondisi setempat (topografi, cuaca dan iklim, tingkat pencemaran
udara, letak sumber polutan, letak permukiman) sehingga peran hutan kota sebagai pengameliorasi iklim dapat berfungsi maksimal. Penelitian ini sangat bermanfaat untuk
memperbaiki kondisi iklim khususnya iklim mikro dan lokal Kabupaten Bandung melalui pembangunan zonasi hutan kota sehingga akan sangat membantu meningkatkan daya
dukung lingkungan bagi masyarakat yang tinggal di dalamnya. Pembangunan hutan kota yang baik akan meningkatkan kualitas lingkungan, meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat serta data mendukung pemerintah daerah dalam mewujudkan kota hijau (green city) yang sekarang sedang gencar dicanangkan beberapa kota di Indonesia.

Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Bandung dengan pertimbangan di kota tersebut merupakan daerah penyangga Kota Bandung serta mempunyai potensi polusi udara yang tinggi. Kabupaten Bandung terletak di Provinsi Jawa Barat, dengan ibu kota Soreang. Secara geografis, Kabupaten Bandung berada pada 6° 41’ – 7° 19’ Lintang Selatan dan diantara107° 22’ – 108°5’ Bujur Timur. Penelitian dilakukan dari Bulan Juli sampai dengan bulan Oktober 2009.


Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini antara lain: (1) wilayah Kabupaten Bandung yang termasuk zona 1 harus diprioritaskan untuk segera mempunyai hutan kota yang efisien dan efektif dalam menurunkan polutan udara danmemperbaiki iklim mikro perkotaan. Sedangkan di zona 2, penting segera dibangun hutan kota agar kualitas udara dan kondisi iklim tidak menurun. Zona 3 terdiri dari kecamatan yang tidak termasuk zona 1 dan zona 2. Di wilayah ini perlu tetap dijaga RTH dan hutan kota yang telah ada agar kualitas lingkungan tetap baik. (2) vegetasi menciptakan iklim mikro yang nyaman dengan suhu udara rendah dan kelembaban udara tinggi. Urutan suhu udara dari yang terendah ke suhu udara tertinggi adalah sebagai berikut : hutan, hutan kota Pemda Kabupaten Bandung, kebun campur, permukiman, industri, pertokoan dan tertinggi adalah di jalan raya.Sebaliknya kelembaban udara terendah terukur di jalan raya dan terendah adalah di hutan. (3) hutan kota di Kabupaten Bandung sebaiknya dibangun sesuai dengan hasil zonasi hutan kota dengan prioritas utama adalah di zona 1, sedangkan bentuk, tipe dan jenis vegetasi hutan kota disesuaikan dengan kondisi yang ada.


Berdasarkan hasil temuan yang ada, maka dapat disarankan bahwa: (1) zonasi hutan kota dari hasil penelitian ini sebaiknya digunakan sebagai dasar perencanaan pembangunan hutan kota sehingga hutan kota dapat secara efektif menjerab dan menyerap polutan udara, meningkatkan kualitas udara, menurunkan suhu serta memperbaiki iklim di Kabupaten Bandung. (2) perlu penelitian lebih lanjut mengenai peta pergerakan aliran massa udara (angin) yang disesuaikan dengan kondisi topografi, sehingga akan dapat diperkirakan pergerakan aliran polutan udara. Hal ini penting untuk menentukan posisi hutan kota sebagai windbreak agar aliran udara yang sampai permukiman kualitas udaranya lebih baik serta lebih nyaman kondisi iklim mikronya.

Download fulltext

 

Kabupaten Bandung merupakan wilayah
penyangga Kota Bandung yang saat ini
terus berkembang. Perkembangan Kabupaten
Bandung, menyebabkan di wilayah ini
mengalami peningkatan jumlah penduduk,
jumlah industri, transportasi dan luas
kawasan terbangun. Hasil penelitian Tursilowati
(2002), menyatakan bahwa pertumbuhan
kawasan terbangun di Bandung per
tahun kurang lebih 1.029 ha (0,36%).
Perluasan efek pulau bahang (daerah dengan
suhu tinggi 30-35°C) pada kawasan
terbangun di pusat kota per tahun kira-kira
12.606 ha atau 4,47%.

Contact Us

Fakultas Geografi UMS
Surakarta: Jl. A. Yani Tromol Pos 1 Pabelan Surakarta
Telp. 62-271-717417 ext 151-153

Galery






Calendar