Informasi Penting: Pendaftaran pemakalah diperpanjang hingga 15 Juni 2014.

TEMA

PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN DI DAS BENGAWAN SOLO: MEMBANGUN SINERGI ANTARA DAYA DUKUNG, PROGRAM PEMBANGUNAN, DAN JAHTERAAN RAKYAT

LATAR BELAKANG

Pembangunan berkelanjutan tidak saja berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan, namun mencakup tiga lingkup kebijakan yaitu: pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan. Dokumen-dokumen PBB, dari hasil World Summit 2005 menyebut ketiga lingkup dimensi tersebut saling terkait dan merupakan pilar pendorong bagi pembangunan berkelanjutan. Skema pembangunan berkelanjutan lebih jauh menggali konsep pembangunan berkelanjutan dengan menyebutkan bahwa "...keragaman budaya penting bagi manusia sebagaimana pentingnya keragaman hayati bagi alam". Dengan demikian "pembangunan tidak hanya dipahami sebagai pembangunan ekonomi, namun juga sebagai alat untuk mencapai kepuasan intelektual, emosional, moral, dan spiritual". Dalam pandangan ini, keragaman budaya merupakan kebijakan keempat dari lingkup kebijakan pembangunan berkelanjutan.

DAS Bengawan Solo yang terdiri atas 2 Propinsi dan 30 Kabupaten merupakan DAS yang memiliki posisi penting di Pulau Jawa. Memuat sumber daya alam bagi kegiatan sosial-ekonomi perkotaan dan perdesaan yang ada di sekitarnya, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun kebutuhan ekonomi. Pentingnya peranan DAS dinyatakan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) yang menetapkan DAS Bengawan Solo sebagai salah satu prioritas utama dalam penataan ruang sehubungan dengan fungsi hidrologi untuk mendukung pengembangan wilayah. Selain itu, DAS Bengawan Solo juga merupakan satu sistem ekologi besar yang dalam perkembangannya saat ini mengalami banyak kerusakan dan mengarah pada kondisi degradasi lingkungan. Ada dua indikator degradasi, pertama, konversi lahan hutan di daerah hulu ke penggunaan pertanian, perkebunan, dan permukiman yang menyebabkan terjadinya peningkatan laju erosi dan peningkatan laju sedimentasi. Kedua, terjadinya fluktuasi debit sungai yang mencolok di musim hujan dan kemarau. Berdasarkan pertimbangan ekologis dan sosial ekonomi, DAS Bengawan Solo merupakan satu kesatuan yang terintegrasi dan tidak mengenal batas wilayah administrasi. Potensi dan persoalan yang ada ini tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja tetapi perlu disikapi bersama-sama secara bijak.

Selain pertimbangan ekologis, sosial ekonomi, maupun sejarah, juga keberadaan sumber daya alam di DAS Bengawan Solo sebagai sumber daya alam bersama (common pool resources) yang menuntut adanya kepemilikan bersama (collective ownership). Sebagai sumberdaya alam milik bersama, maka sumber daya alam yang terdapat di DAS Bengawan Solo membutuhkan penanganan secara bersama di antara semua pemangku kepentingan atau yang dikenal dengan collective management yang mengarah pada suatu bentuk collaborative management. Hal ini juga menjadi penting karena hingga saat ini belum tercipta kerjasama penataan ruang di antara semua pemerintah daerah di dalam kawasan DAS yang bertujuan untuk penyelamatan DAS.

Beragam aktifitas pembangunan yang dilakukan sepanjang DAS Bengawan Solo selalu saling terkait, sehingga untuk menghindari terjadinya konflik dalam pemanfaatan SDA perlu dibangun kesepakatan antar daerah otonom. Dasar kesepakatan adalah komitmen bersama untuk membangun sistem pengelolaan DAS yang berkelanjutan yang melandaskan setiap strategi pada upaya untuk mencapai keseimbangan dan keserasian antara kepentingan ekonomi, ekologis, dan sosial budaya. Komitmen bersama antar daerah otonom adalah strategi awal yang perlu dilakukan untuk menyusun langkah-langkah pengelolaan DAS. Salah satu faktor dari ketidakberhasilan pengelolaan DAS selama ini adalah tidak dibangunnya komitmen bersama antar daerah secara baik. Wujud dari komitmen bersama adalah munculnya perhatian dan tanggung-jawab bersama terhadap kelestarian SDA pada setiap unit kegiatan pembangunan di daerah masing-masing.

TUJUAN KEGIATAN

  • Menyusun konsep pengelolaan DAS berdasarkan daya dukung wilayah.
  • Memberikan masukan bagi kebijakan pembangunan untuk kesejahteraan rakyat dengan mempertimbangkan keserasian aspek fisik dan sosial wilayah.
  • Menumbuhkan ketertarikan kajian tentang DAS Bengawan Solo untuk pendidikan berbasis lingkungan dan kebencanaan.

KEYNOTE SPEAKER

- Kepala BIG (Badan Informasi Geospasial). Tema “Peran Data Spasial dalam Pengelolaan DAS secara terpadu”.

PEMBICARA

  • (1) Kepala Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan DAS. Tema “Pembangunan Berkelanjutan di DAS Bengawan Solo”.
  • (2) Prof. Dr. M.Baiquni (Geograf UGM), Tema “Pembangunan Wilayah dan Transformasi Sosial Budaya di DAS Bengawan Solo”.
  • (3) Prof. Dr. Aris Marfa’i (Geograf UGM), Tema “Analisi Potensi Bencana sebagai Masukan dalam Pembangunan Berkelanjutan di DAS Bengawan Solo”.
  • (4) Kepala BAPPEDA Sukoharjo. Tema “Pengelolaan DAS secara terpadu dalam konteks otonomi daerah”.

PESERTA

  • 1. Pejabat di Lingkungan Pemda Kota dan Kabupaten di Solo Raya (Surakarta, Wonogiri, Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, Klaten, dan Boyolali), Pemda Bojonegoro, Pemda Lamongan, Pemda Tuban, dan Pemda Sidoharjo Jawa Timur.
  • 2. Akademisi, Peneliti, Guru, Politisi, dan Mahasiswa.
  • 3. Aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),
  • 4. Peserta umum.

WAKTU DAN TEMPAT

Hari/Tgl : Kamis, 19 Juni 2014
Jam : 08.00 – 15.30 WIB
Tempat : Auditorium M. Djazman UMS Kampus 1 Pabelan