Hemat itu Ibadah

Lebih dari sebulan ini kawasan eks Karesidenan Surakarta tidak diguyur hujan. Kemarau tahun ini memang datang lebih awal. Bahkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa tahun  ini berpotensi terjadi kemarau ekstrem sampai September.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng memetakan setidaknya 360 desa/kelurahan di 31 dari 35 kabupaten. Termasuk wilayah Wonogiri, sebagian Kebumen, Purworejo, Temanggung, Blora, dan Grobogan mengalami krisis air bersih.

Daerah yang dilanda krisis air akan kesulitan untuk mengairi sawah, kebutuhan harian mencuci baju, memasak, minum dan mandi. Karena itu, menghemat air menjadi sebuah keharusan agar sumber daya air yang terbatas itu tidak terbuang sia-sia.

Dalam siklus hidrologi, air di permukaan bumi itu oleh Allah SWT dibuat seimbang antara air yang dicurahkan ke permukaan bumi dan air yang dikembalikan melalui berbagai proses hidrologi. Persoalaannya keberadaan air tidak merata di berbagai tempat di permukaan bumi karena setiap lokasi manapun di permukaan bumi punya karakteristik yang berbeda.

Islam mengajarkan agar umatnya berlaku tidak berlebihan dalam berbagai hal, termasuk dalam urusan penggunaan air. Bahkan untuk wudu sekalipun kita dicontohkan oleh Rasulullah SAW agar tidak berlebihan dalam menggunakan air.

Penggunaan air untuk wudu harus dilakukan secara cermat dan hemat sebagaimana mengacu pada hadis dari Anas bin Malik RA: “Rasulullah S.A.W. berwudu dengan satu mud dan mandi dengan satu sha’ hingga lima mud” (HR. Bukhari Muslim).

Satu mud itu setara dengan volume air pada kedua telapak tangan orang dewasa. Beberapa referensi mengatakan bahwa satu mud setara dengan 625 – 1030 mili liter atau kira-kira 1 botol air mineral. Coba bandingkan dengan air yang kita gunakan saat berwudhu selama ini, mungkin yang kita gunakan lebih dari 2-3 liter. Sungguh jauh dari kebiasaan Rasulullah bukan?

Menghemat air saat wudu ini bukan berarti karena di daerah asal Rasululullah (Madinah dan Mekah) sulit mendapatkan air. Meski dalam keadaan air melimpahpun, Rasulullah SAW juga melarang pemborosan air. Suatu ketika Rasulullah melihat Sa’ad sedang berwudu, lalu beliau berkata, “Pemborosan apa itu, hai Sa’ad?” Sa’ad bertanya, “Apakah dalam wudhu ada pemborosan?” Nabi menjawab, “Ya, meskipun kamu (berwudu) di sungai yang mengalir.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Dari hadis ini dapat diambil pelajaran bahwa boros dalam hal apapun perbuatan yang dilarang agama. Apalagi dalam penggunaan air, karena air merupakan sumberdaya yang terbatas jumlahnya, lebih-lebih di musim kemarau seperti saat ini.

Terkait pemborosan, Allah SWT berfirman dalam QS Al A’raf  ayat 31: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.

Makna berlebih-lebihan (tusrifu) dalam ayat tersebut bukan hanya dalam hal makan dan minum saja melainkan dalam segala hal termasuk dalam penggunaan air. Berlebihan atau israf dalam menggunakan sesuatu, termasuk menggunakan air untuk berwudu dapat dimasukkan perbuatan yang melanggar perintah nabi dan tidak disukai oleh Allah SWT.

Ajaran Islam yang sedemikian ini seharusnya membuat setiap muslim mempunyai gaya hidup hemat, termasuk dalam menggunakan air. Apalagi meski 75 persen permukaan bumi itu berisi air, namun air bersih yang bisa kita manfaatkan untuk berbagai keperluan hidup sangat terbatas karena sebagian besar air di bumi berupa air laut sehingga tidak dapat digunakan untuk minum, mandi, mencuci, mengairi sawah dan lainnya.

Air yang dapat diminum hanya sekitar 2,5 persen saja, dari air yang dapat diminum tersebut hanya sekitar 0,3 persen di permukaan bumi sedangkan 99,7 persen lainnya berada di dalam perut bumi. Oleh karena itu, ajaran Islam yang mengharuskan umatnya untuk hemat dan cermat dalam menggunakan air sangat relevan karena sangat terbatasnya ketersediaan air bersih di bumi.

Maka mari kita lihat teladan dan panutan kita, Nabi Muhammad SAW, ketika beliau berwudu hanya menghabiskan satu mud air. Padahal kita tahu bahwa wudu adalah salah satu ibadah yang penting karena salat tidak akan diterima tanpa berwudu. Di sini Rasulullah meneladankan tentang keutamaan untuk bersikap sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Jika dalam ibadah saja Rasulullah mencontohkan untuk menghemat air, apalagi saat menggunakan air di luar keperluan ibadah. Tentu saja dalam keperluan lain, kita harus lebih hemat dan cermat lagi dalam menggunakan air, jangan sampai menghamburkan dengan sia-sia. (*)

(*) Tulisan ini pernah dimuat di Radar Solo pada Rubrik Taklim 

Berita Lainnya