Berhemat Agar Tidak Kiamat

Hari-hari ke depan nampaknya kita perlu semakin membiasakan untuk berhemat. Mengapa? Terutama karena untuk mengantisipasi rencana pemerintah yang akan menaikkan berbagai tarif sehingga otomatis pengeluaran kita akan semakin melambung tinggi.

Presiden Jokowi telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 75 Tahun 2019, maka secara resmi pemerintah menaikkan iuran program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Kenaikan iuran sebesar hampir 2 kali lipat tersebut berlaku per 1 Januari 2020. Tak hanya iuran BPJS yang akan naik, pemerintah juga berencana memangkas subsidi kepada PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) sehingga berimbas pada kenaikan tarif listrik pada 2020 mendatang. Selain tarif listrik, cukai rokok juga naik. Untuk menaikkan penerimaan sekaligus menekan konsumsi rokok pemerintah telah mengesahkan peraturan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) yang baru yang akan berlaku mulai 1 Januari 2020. Aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 152/PMK.010/2019 tentang CHT yang naik rata-rata sebesar 21,55 persen. Selain itu, tarif tol juga akan mengalami kenaikan di 2020. Rencananya, belasan ruas jalan tol akan dinaikan tarifnya untuk menyesuaikan inflasi yang terjadi. Kenaikan tarif jalan tol mungkin tidak begitu banyak pengaruhnya terhadap kehidupan rakyat kecil karena sebagian besar mereka bahkan semuanya tidak menggunakan, akan tetapi tarif listrik akan berimbas luas karena hampir semua rumah tangga menggunakannya dan berdampak pada komponen yang lain sebagai penyertanya.Akhirnya orang akan dipaksa untuk memilih, mana yang lebih efisien antara menggunakan air PDAM atau air tanah dengan pompa listrik.

Kenaikan tarif yang dilakukan pemerintah tersebut akan semakin membuat kebutuhan dan biaya hidup semakin mahal sehingga pengeluaran kita semakin besar sementara mungkin pendapatan yang kita peroleh masih stagnan. Berbagai tarif yang naik tersebut biasanya diikuti dengan kenaikan harga barang-barang di tahun 2020. Maka jika tidak pandai menyiasati bisa jadi kita akan mengalami defisit alias lebih besar pasak daripada tiang, lebih besar pengeluaran daripada penghasilan. Maka salah satu cara untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan membiasakan hidup hemat agar penghasilan kita cukup menutupi biaya hidup sehari-hari. Oleh karena itu, kita perlu bersiap sejak saat ini, salah satunya dengan hidup hemat dan bersahaja untuk menekan pengeluaran. Itu salah satu upaya yang dilakukakan karena untuk sebagian besar rakyat kecil yang berada pada piramida bawah akan sulit menciptakan pendapatan tambahan karena akses yang terbatas. Cara yang lain bisa dilakukan adalah memberdayakan wakil rakyat kita untuk bisa menangguhkan kenaikan syukur meniadakan kenaikan tersebut, tapi alternatif ini sulit terlaksana karena kecilnya partai oposisi dan sudah merapatnya partai politik  kepada kekuasaaan.  Inilah dilema ketika terjadi ketidakseimbangan atau hegemoni parpol di DPR yang mengerucut Pemerintah dan itu juga merupakan dampak dari pilihan rakyat itu sendiri. Survai kecil menunjukkan , hampir sebagian rakyat memilih anggota Dewan karena gelontoran bantuan untuk membangun wilayahnya karena langsung dapat dirasakan. Komunitas kecil di sebuah pasar tradisional, ketika ditanya tentang pilihannya, mereka menjawab dengan pragmatis, kami memilih yang memberiku sesuatu secara langsung berupa seperangkat alat sholat dan sesudah itu sudah bukan urusan saya. Demikian sisi kelam pemilihan langsung bagi masyarakat berpendidikan rendah di Negara berkembang.

Hidup hemat dan bersahaja ini merupakan ajaran Islam yang luhur. Ajaran berhemat dan bersahaja termaktub dalam beberapa ayat Al Qur’an. Firman Allah SWT dalam QS. Al-Furqon Ayat 67: Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”

Allah SWT menyayangi hambanya yang tidak keterlaluan dalam membelanjakan hartanya (bersahaja), yaitu yang tidak berlebihan tetapi juga tidak pula kikir/pelit. Pelit berbeda dengan hemat. Meskipun keduanya sama-sama menekan pengeluaran tetapi memiliki perbedaan mendasar. Hemat berarti mendasarkan pengeluaran pada “prioritas”, dengan tidak melakukan pengeluaran-pengeluaran yang tidak penting. Sedangkan pelit, memangkas pengeluaran dengan sama sekali tidak mau membayar alias semua serba ingin gratisan.

Allah menyayangi hambanya yang bersahaja, dan sebaliknya Allah tidak menyukai hambanya yang berlebih-lebihan alias tidak berhemat. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak Menyukai orang yang berlebih- lebihan.” (QS. Al-A’raf Ayat 31)

Hidup tidak berhemat/boros ini bahkan dilarang oleh Allah SWT bahkan orang yang pemboros disebut sebagai saudaranya setan”. Firman Allah SWT dalam QS. Al-Isra’ Ayat 26-27: “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan.”

Namun demikian, hidup hemat tidaklah semudah seperti membalikkan telapak tangan. Hidup hemat membutuhkan pembiasaan dari hari ke hari, dari hemat hal-hal kecil seperti hemat menggunakan air, hemat listrik, hingga banyak hal-hal lainnya. Pembiasaan hidup hemat ini juga bisa dimulai dengan membuat skala prioritas pengeluaran di tengah berbagai tarif yang naik. Kita harus belajar hidup hemat di saat harga melambung dan cara inilah yang rasional bisa dilakukan bila tidak ingin membubung hutangnya atau hidup terlilit hutang.

Hidup hemat dan bersahaja itu tuntunan agama kita yang pasti akan membawa manfaat dan kebaikan bagi kehidupan kita di dunia hingga akhirat. Ajaran islam yang mengharuskan untuk hemat dan cermat dalam menggunakan sumberdaya termasuk air sebagai kebutuhan pokok karena kedepan ketika harga melambung maka kebutuhan ini tidak bisa dianggap remeh. Mungkinkah kita akan kembali  ke masa lalu menggunakan air dengan cara tradisional dengan menimba air dari sumur untuk menghemat listrik dan jadi tambah sehat , tidak serba instan. Mari kita praktikkan: berhemat, dipaksa hemat, hemat segalanya. (*)

(*) Tulisan ini pernah dimuat di Radar Solo pada Rubrik Taklim 

 

Berita Lainnya