Rabu (19/2), Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mengadakan perkuliahan pertama untuk program Collaborative Online International Learning (COIL) bersama Maritime Science Kobe University. Program ini merupakan bagian dari mata kuliah Geomorfologi Dasar dan bertujuan untuk memperluas wawasan mahasiswa mengenai bentuk lahan (landforms) serta proses pembentukannya.
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting ini dihadiri oleh dosen dan mahasiswa dari kedua institusi. “Program ini menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami konsep geomorfologi dari perspektif yang lebih luas,” ujar Basyar Ihsan Arijuddin, M.Sc, salah satu pemateri dalam sesi tersebut. Pertemuan perdana ini membahas berbagai konsep geomorfologi, termasuk pengaruh struktur geologi terhadap evolusi lahan, peran iklim dalam pembentukan lanskap, serta prinsip-prinsip dalam menafsirkan proses geomorfologi masa lalu dan masa kini. Diskusi ditutup dengan rekomendasi bahan bacaan tambahan serta ajakan kepada mahasiswa untuk menyiapkan pertanyaan untuk sesi berikutnya.
Struktur dan Pelaksanaan Perkuliahan
Program COIL ini dirancang untuk mahasiswa semester pertama dan kedua dari Program Studi Geografi serta Sistem Informasi Geografi UMS, serta mahasiswa pascasarjana dari Kobe University. Perkuliahan akan berlangsung dari akhir Februari hingga Juni 2025 dengan total 14 sesi yang diadakan setiap Rabu selama 90 menit. Mata kuliah ini terbagi menjadi tiga bagian utama: pengenalan geomorfologi, aspek-aspek geomorfologi, serta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari. Selain perkuliahan, mahasiswa juga akan mengikuti ujian tengah semester dan ujian akhir, meskipun format ujian masih dalam tahap pembahasan.
Dalam pertemuan ini, tim pengajar juga membahas penggunaan platform digital seperti Zoom dan Spada untuk mendukung perkuliahan. “Kami masih mencari solusi agar mahasiswa Kobe University bisa mengakses platform yang sama,” jelas Aditya Saputra, Ph.D.
Pembahasan Konsep Geomorfologi
Basyar Ihsan Arijuddin menjelaskan bahwa geomorfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk lahan, pembentukannya, serta hubungannya dengan lingkungan. Ia menekankan bahwa geomorfologi bersifat dinamis dan berhubungan erat dengan disiplin ilmu geografi lainnya. “Konsep utama dalam geomorfologi adalah bahwa proses yang kita lihat saat ini juga terjadi di masa lalu dan akan terus berlanjut,” ungkapnya. Sebagai contoh, ia menjelaskan pembentukan Air Terjun Niagara, yang menunjukkan bagaimana proses geomorfologi berlangsung dengan intensitas yang berbeda dari waktu ke waktu.
Dalam diskusi lebih lanjut, Aditya Saputra memaparkan struktur geologi di Jakarta serta pengaruhnya terhadap topografi kota. “Sungai Monselo adalah contoh nyata bagaimana pergerakan geologi bisa mengubah aliran sungai secara signifikan,” katanya.
Dinamika Proses Geomorfologi
Diskusi juga mencakup berbagai proses geomorfologi seperti pengaruh angin, air, dan erosi dalam pembentukan lahan. “Angin bisa membentuk pola unik di permukaan tanah, sementara air berperan dalam pembentukan sungai dan sedimentasi,” jelas Basyar. Aditya turut membantu menerjemahkan penjelasan ini ke dalam bahasa Inggris agar lebih mudah dipahami oleh mahasiswa internasional.
Selain itu, Aditya menjelaskan tentang lapisan geologi dan peranannya dalam terjadinya longsor. “Ketika terjadi longsor, kita bisa melihat susunan lapisan tanah dari yang tertua di bagian bawah hingga yang termuda di atas,” tuturnya. Ia juga berbagi pengalaman observasi lapangan di Jepang bersama Profesor Gomez, di mana mereka menemukan beberapa batuan tertua di negara tersebut.
Kesimpulan dan Kelanjutan Program
Diskusi dalam pertemuan ini ditutup dengan pembahasan mengenai peran perubahan iklim dalam evolusi lanskap. “Curah hujan, suhu, dan kelembaban sangat berpengaruh terhadap bentuk lahan yang kita lihat sekarang,” kata Basyar. Sebagai tindak lanjut, mahasiswa diberikan rekomendasi literatur untuk memperdalam pemahaman mereka dan diminta untuk menyiapkan pertanyaan untuk sesi berikutnya.
Dengan adanya program COIL ini, Fakultas Geografi UMS berharap dapat meningkatkan wawasan mahasiswa dalam studi geomorfologi serta memperluas kerja sama akademik di tingkat internasional. “Kami berharap mahasiswa bisa lebih aktif berpartisipasi dalam diskusi dan memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya,” tutup Aditya. Pertemuan berikutnya dijadwalkan pada pekan depan dengan fokus pembahasan lebih lanjut mengenai evolusi lanskap dalam konteks geomorfologi.






