Tim dosen dari Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) telah menyelesaikan program pengabdian masyarakat berbasis penerapan teknologi tepat guna (P2TTG) di Kabupaten Tegal. Mengusung tema “Pendampingan Penyusunan Rencana Mitigasi Banjir Luapan Sungai Cacaban Bagian Hilir dengan Memanfaatkan Teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV),” kegiatan ini bertujuan menjawab permasalahan banjir tahunan yang kerap merendam permukiman dan lahan pertanian di wilayah hilir DAS Pah.
Kegiatan yang dipimpin oleh Aditya Saputra, S.Si., M.Sc., Ph.D., bersama anggota tim Danardono, S.Si., M.Sc., dan Afif Ari Wibowo. S.Si., M.Sc., ini melibatkan mitra dari Bappeda dan Litbang Kabupaten Tegal, BPBD Kabupaten Tegal, serta PCM Tarub. Fokus pendampingan adalah pada segmen Sungai Cacaban dari Jembatan Jati Bagor hingga muara sungai di pesisir utara, sebuah wilayah yang sangat rentan terhadap luapan akibat topografi landai dan dinamika morfologi sungai yang kompleks .
Integrasi Teknologi dan Partisipasi Masyarakat
Berbeda dengan pendekatan top-down pada umumnya, program ini mengintegrasikan teknologi canggih dengan kearifan lokal. Tim menggunakan drone UAV untuk memotret area seluas 4 Area of Interest (AoI) dan menghasilkan data spasial beresolusi tinggi, seperti Orthophoto dan Digital Elevation Model (DEM) . Data teknis ini kemudian divalidasi dan diperkaya melalui pemetaan partisipatif dan Focus Group Discussion (FGD) dengan warga, menggali informasi historis tentang titik genangan dan kedalaman banjir.
“Hasil pemodelan HEC-RAS kami validasi dengan data Muka Air Banjir (MAB) dari warga yang mencapai ±1,75 meter. Keselarasan ini membuktikan akurasi model dan pentingnya menggabungkan data teknis dengan pengetahuan lokal, terutama di daerah dengan minim stasiun hidrometri,” jelas Aditya Saputra. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa genangan terparah terjadi di segmen dengan kelokan sungai (meander) tajam, terutama di Segmen 1 dan 2, yang menjadi titik kritis sedimentasi dan penurunan kapasitas tampung sungai.

Rekomendasi Strategis dan Intervensi Pelurusan Sungai
Salah satu temuan penting dari simulasi hidraulik adalah efektivitas rencana pelurusan tiga meander sungai di lokasi strategis—dekat Kantor Balai Desa Kemuning, Kantor Kelurahan Sidaharja, dan rel kereta api. Simulasi menunjukkan intervensi ini dapat menurunkan kedalaman aliran (depth), menstabilkan elevasi muka air (WSE), dan meningkatkan kapasitas tampung saluran secara signifikan, sehingga mengurangi potensi genangan di area permukiman.
Berdasarkan hasil tersebut, tim merumuskan rekomendasi mitigasi berjenjang yang komprehensif:
- Jangka Pendek (0-1 Tahun): Fokus pada pengurangan dampak langsung melalui pembuatan biopori dan sumur resapan, sosialisasi larangan buang sampah, serta pembersihan rutin saluran sungai dari sedimen dan sampah.
- Jangka Menengah (1-3 Tahun): Melakukan rekayasa hidraulik berupa pelurusan sungai yang ditunjang dengan stabilisasi tebing (revetment) menggunakan riprap atau bronjong, serta rehabilitasi vegetasi riparian untuk mencegah erosi.
- Jangka Panjang (>3 Tahun): Membangun infrastruktur makro seperti kolam retensi di lahan pertanian selatan rel kereta api, memperkuat regulasi tata ruang berbasis DAS, dan mengembangkan sistem pemantauan real-time untuk peringatan dini.
Luaran dan Dampak Kegiatan
Kegiatan ini tidak hanya menghasilkan dokumen rencana aksi mitigasi, tetapi juga mentransfer keterampilan teknis kepada mitra. Perwakilan Bappeda, Litbang, dan BPBD Kabupaten Tegal mendapatkan pelatihan langsung dalam pemetaan drone dan pengolahan data menggunakan perangkat lunak Agisoft Photoscan Pro. “Pendampingan ini sangat berharga. Kami tidak hanya mendapatkan data akurat untuk mendukung pengambilan keputusan, tetapi juga peningkatan kapasitas internal untuk melakukan pemantauan risiko bencana secara mandiri,” ujar Dedi Surachman, S.Si., M.PWK., perwakilan Bappeda dan Litbang Kabupaten Tegal.
Luaran wajib program meliputi video kegiatan dan artikel publikasi di jurnal nasional pengabdian, yang akan menjadi referensi bagi inisiatif serupa di wilayah lain. Dengan pendekatan yang mengintegrasikan kecanggihan teknologi, kearifan lokal, dan kolaborasi lintas sektor, program ini diharapkan menjadi model keberlanjutan untuk mendorong perencanaan pembangunan wilayah yang partisipatif, inklusif, dan tangguh terhadap ancaman banjir di masa depan.






