Drs. H. Priyono, M.Si. (Ketua Ta’mir Masjid Al-Ikhlas Sumberejo, Klaten Selatan)
“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk. ” (Q.S.Al Kahfi :13).
Hari ini 89 tahun yang lalu, tepatnya tanggal 27-28 Oktober 1928 di Batavia (sekarang Jakarta) diadakan Konggres Pemuda ke-2 yang diikuti oleh berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Sekar Rukun, PPPI, Pemuda Kaum Betawi, dll. Konggres tersebut menghasilkan sebuah ikrar yang sangat penting bagi lahirnya Bangsa Indonesia, yaitu: Sumpah Pemuda. Keputusan Konggres Pemuda II tersebut menegaskan cita-cita akan ada “tanah air Indonesia”, “bangsa Indonesia”, dan “bahasa Indonesia”.
Sumpah Pemuda merupakan salah satu tonggak utama dalam sejarah pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ikrar ini merupakan kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya negara Indonesia. Rumusan keputusan Kongres Pemuda II (yang di kemudian hari disebut sebagai Sumpah Pemuda) tersebut ditulis oleh Mohammad Yamin, seorang pemuda muslim nan cerdas (waktu itu beliau berusia 25 tahun) yang merupakan sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, dan ahli hukum yang kini memperolah gelar sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Kenyataan sejarah di atas meneguhkan bahwa pemuda memiliki andil yang sangat besar dalam sejarah kebangkitan bangsanya. Bahkan bisa dikatakan bahwa maju mundurnya sebuah bangsa ditentukan oleh kualitas para pemudanya. Generasi muda hari ini adalah para pemain utama di masa mendatang sehingga mereka adalah pondasi yang menopang masa depan bagnsa ini. Jika pemudanya cerdas dan berakhlak mulia maka bangsa itu akan maju dan sejahtera. Namun sebaliknya, jika pemudanya bodoh dan memiliki perangai yang buruk maka dapat dipastikan masa depan bangsa itu akan hancur berantakan.
Seperti dikisahkan pula dalam sirah Nabi, mayoritas orang–orang yang merespon baik seruan nabi adalah kalangan muda. Mereka diantaranya adalah sahabat Abu Bakar yang masuk Islam pada usia 38 tahun, Umar bin Khattab masuk Islam pada umur 28 tahun dan Ali bin Abi Tholib yang masuk Islam kurang dari umur 10 tahun dan masih banyak yang lainnya yang masuk Islam pada kisaran umur 12,13,14 dan 15 tahun.
Islam sendiri memberikan perhatian yang sangat besar kepada upaya pembangunan kualitas para pemuda. Oleh karena itulah, banyak ayat al-Qur’an dan hadits Rasulullah yang memberi teladan dan mendorong kita untuk membina dan mengarahkan para pemuda agar lahir generasi berkualitas. Tidak sedikit pemuda Islam yang memiliki ahlak mulia, beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, dan tidak menuruti gejolak hawa nafsu mudanya.
Al-Quran juga mengisahkan tentang pemuda Ashhabul Kahfi, sekelompok anak muda yang memiliki integritas moral yang tinggi. Surat al Kahfi ayat 13 yang artinya: ”Mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk.”
Selain itu, banyak ayat al-Qur’an yang mengisahkan para pemuda yang telah mengukir prestasi dalam berbagai keutamaan, antara lain adalah Ismail yang telah rela mengorbankan dirinya untuk dipotong lehernya karena taat pada Allah dengan penuh kesadaran. Kisah pemuda Yusuf juga menunjukkan tingginya kualitas akhlak dan ketaatan seorang pemuda. Ia diajak oleh seorang wanita yang teramat cantik untuk melakukan hubungan badan, yang seandainya ia mau melakukannya tidak akan ada sesuatupun yang dapat menghalanginya. Namun nabi Yusuf menolak ajakan tersebut dan memilih hidup mendekam di penjara semata-mata karena ketakwaannya kepada Allah SWT.
Terkait ketinggian kualitas akhlak pemuda, Rosulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memliki shabwah” (HR Ahmad).
Kata shabwah pada hadits di atas bermakna pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya. Pemuda tersebut membiasakan diri melakukan kebaikan dan berusaha menjauhi keburukan. Pemuda yang tidak memperturutkan hawa nafsunya, dengan dia membiasakan dirinya melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan.
Oleh karena itu, masa muda harus diisi dengan berbagai aktivitas baik keilmuan maupun keimanan seperti telah dipesankan oleh Rasulullah dalam sabda Beliau: “Pergunakanlah yang lima sebelum datang yang lima; masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa kosongmu sebelum datang masa sibukmu dan masa hidupmu sebelum datang masa kematianmu”. (HR Hakim).
Hadits di atas menyebutkan pentingnya masa muda untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya sebelum masa muda itu berlalu dan kita menjadi tua..Masa muda merupakan masa sempurnanya pertumbuhan fisik dan kekuatan seorang manusia. Namun di sisi lain, masa muda juga masa yang penuh dengan gejolak untuk memperturutkan hawa nafsu. Pemuda yang sedang dalam masa pertumbuhan fisik maupun psikologis dan sedang mencari jati diri, banyak mengalami gejolak dalam pikiran maupun jiwanya. Hal ini menyebabkan pemuda rawan mengalami keguncangan dalam hidup. Oleh karena itu, generasi tua perlu membimbing dan mendampingi generasi muda agar mereka tidak salah memilih jalan. Agar lahir pemuda-pemuda cerdas nan tangguh dan berakhlak mulia sehingga masa depan bangsa ini semakin berjaya.






