Pendidikan: Ilmu atau Nilai?

oleh
1.Drs.Priyono,MSi (Dosen dan Wakil Dekan I Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta)
2.Siti Nur Aisah ( mahasiswi smt I peserta mata kuliah Demografi Fak Geografi UMS)

 

Banyak statement yang mengatakan bahwa masa yang paling indah dalam hidup adalah masa sekolah. Layaknya robot yang dibekali dengan otak. Bagi sebagian orang masa sekolah adalah masa dimana pikiran kita masih dapat berfokus pada suatu tujuan tertentu. Sampai sampai Chrisye mengabadikan dalam sebuah lagu tentang indahnya saat sekolah. Belum banyak dibebani dengan urusan keluarga karena kita masih bergantung pada orang tua sehingga waktu yang disediakan untuk menuntut ilmu akan lebih banyak,berbeda kalau kita masih kuliah tapi sudah berkeluarga.

Apabila anak SD, tujuan utama mereka adalah dapat naik kelas dengan nilai yang bagus, tidak terkecuali pada anak SMP maupun SMA dan dapat melanjutkan ke pendidikan dengan jenjang yang lebih tinggi dengan kualitas yang baik. Sejatinya sekolah adalah tempat yang mengubah seseorang yang awalnya buta ilmu menjadi cendekiawan penerus bangsa.

Seseorang yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu. Jadi guru yang baik adalah guru yang menjadikan siswanya belum tahu kemudian merubahnya menjadi tahu. Akan tetapi saat ini banyak pelajar yang tidak bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan pada akhirnya akan menjadai seonggok manusia yang setelah lulus , tidak memiliki kemampuan apa apa. Banyak sarjana yang memiliki gelar tapi tidak semua mengantongi bekal ilmu yang mumpuni ketika diterjunkan pada kehidupan yang sebenarnya.

Setiap individu yang lahir di dunia ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita tidak bisa pukul rata bahwa setiap anak harus memiliki kemampuan yang sama. Itu sama saja kita menghakimi seseorang dan menaruhnya ke dalam jeruji kebodohan. Tidak ada yang orang yang mau dipaksa untuk menguasai hal yang sama sekali tidk ia sukai, begitu pula dengan pendidikan.

Guru dan orang tua ada sosok yang sangat berpengaruh besar dalam pembentukan sifat dan karakter sesorang. Dua insan tersebut selayaknya menuntun dan mendukung tumbuh kembang anak, bagaimana caranya? Mudah saja, dapat dilakukan dengan terus memberikan dukungan terhadap anak atas apa yang ia gemari selagi hal tersebut berdampak positif mengapa tidak. Kedua tidak boleh memberikan tekanan yang berupa psikis dan fisik. Banyak guru dan orang tua memberikan tekanan tersendiri apabila siswa/anaknya mendapati nilai yang kurang bagus di suatu mata pelajaran tertentu. Model pembelajaran yang diterapkan oleh sang guru bisa beragam mulai dari active learning, ceramah, tugas,outbond sampai model diskusi yang berorientasi untuk memecahkan masalah maupun memunculkan topik yang debatable.

Akhirnya Gurupun bisa menerapkan model penilaian yang bervariasi agar siswa dapat menyerap materi dengan baik. Persepsi antara guru dan siswa atau antara Dosen dan mahasiswa harus sama tentang sesuatu hal yang dilakukan misalnya dosen ketika memberi tugas berorientasi untuk meningkatkan pemahaman maka tidak boleh diartikan tugas adalah sebuah beban yang memberatkan tapi meringankan.

Apa dampak yang akan terjadi dari tindakan tersebut?

Apabila hal tersebut terus-menerus dilakukan maka siswa hanya akan berpacu pada nilai tanpa mempertimbangkan proses. Itu merupakan kesalahan fatal yang harus kita selesaikan bersama. Mereka sudah tidak lagi peduli akan ilmu yang ada melainkan nilai yang didapat. Kebiasaan ini juga dapat mendorong siswa untuk melakukan tindakan curang pada saat ujian, seperti menyontek. Nilai menggeser kejujuran, ya begitulah mungkin keadaan pendidikan di Indonesia saat ini. Orang akan lebih memilih jalan pintas dengan hasil yang maksimal daripada harus bersusah payah belajar. Harapannya agar seluruh pelajar tidak melulu beorientasi pada nilai tetapi lebih bisa menghargai proses. Sekali lagi sekolah adalah tempat memperoleh ilmu dan bukan tempat untuk mendapatkan nilai.

Singkatnya, jangan terlalu memaksakan seseorang untuk menapat nilai yang bagus. Ibarat seekor kera yang pandai memanjat dan ikan yang jago berenang. Mereka memiliki kelebihan tersendiri yang tidk bisa di sama ratakan. Ujian Akhir Semester di Perguruan Tinggi sudah dekat, selamat menempuh ujian untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan akhirnya mendapatkan nilai yang barokah. AAmiin. (*)

 

(*) Tulisan ini juga pernah dimuat pada laman: https://pasundanekspres.co/2019/12/pendidikan-ilmu-atau-nilai/

Berita Lainnya