Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tak terasa telah 5 purnama kita bertahan dan berjuang melawan Covid-19 ini. Hingga kini, korban masih terus berjatuhan dan tak dapat dipastikan hingga kapankah wabah ini berlalu. Dan kini kita memasuki bulan yang istimewa, bulan pertama dalam penanggalan Hijriyah/Islam, yaitu bulan Muharom, yang dalam penanggalan Jawa disebut sebagai Sasi Sura.
Wahyana Giri dalam bukunya berjudul Sajen dan Ritual Orang Jawa (2010) menuliskan bahwa Bulan Suro bagi kebanyakan orang Jawa dianggap sebagai bulan yang menyeramkan bahkan diidentikkan sebagai bulan yang penuh bencana dan laknat, bulannya para lelembut, hantu, dan sejenisnya. Lebih-lebih pada malam satu Suro berkembang semacam kepercayaan mistis bagi masyarakat Jawa, sehingga ada beberapa ritual dan pantangan. Beberapa hal yang dipercaya pantang dilakukan di Bulan Suro antara lain: pesta pernikahan, pindah rumah, bepergian jauh, dan acara hajatan lain. Kebanyakan orang Jawa yang masih tinggal di pegunungan khususnya bahkan takut melakukan resepsi pernikahan pada hari kematian para leluhurnya, dan itu sangat dia rawat hingga kini sampai anak cucu bila tidak ada pencerahan dengan agama. Untuk mematahkan kepercayaan itu, ada seorang tokoh islam terkenal di Klaten pada zamannya sengaja menikahkan puterinya dan menyelenggarakan resepsi di bulan suro, al hasil juga selamat, tidak ada hambatan apapun.
Sebaliknya, bagi umat Islam, di Bulan Suro yang bertepatan dengan Bulan Muharom ini justru dianjurkan untuk memperbanyak ibadah seperti puasa sunnah dan shodaqoh karena merupakan bulan pertama dalam penanggalan Islam, bulan yang penuh harapan dan bulan yang baik untuk melakukan kebaikan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Istilah sura berasal dari asyura (bahasa Arab) yang berarti “ke sepuluh” (maksudnya hari ke sepuluh). Istilah ini kemudian digunakan sebagai bulan permulaan hitungan dalam sistem penanggalan Jawa. Sementara itu dalam Islam, istilah suro adalah bulan Muharam. Muharam secara bahasa bermakna bulan yang diutamakan dan dimuliakan. Makna ini tidak terlepas dari realitas sejarah yang melekat pada bulan ini, karena Muharam sarat dengan berbagai peristiwa sejarah kenabian.
Salah satunya adalah peristiwa yang terjadi pada tanggal 10 Muharom yang dialami oleh Nabi Musa A.S. Sebagaimana riwayat yang sudah masyhur di kalangan umat Islam, pada saat masa awal Rasulullah hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad melihat orang-orang Yahudi tengah melaksanakan puasa Asyura’.
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas: Pada saat Nabi ï·º datang ke Madinah kemudian Nabi melihat orang Yahudi sedang menunaikan puasa hari Asyura’. Nabi lalu bertanya, Sedang puasa apa ini? Orang-orang di sekitar Nabi itu pun menjawab, Hari ini adalah hari baik. Yaitu hari di mana Allah menyelamatkan Bari Israil dari musuh mereka (Firaun dan bala tentaranya). Dengan begitu Nabi Musa berpuasa atas hari itu. Kemudian kata Nabi, “Kalau begitu, saya sebenarnya lebih berhak meniru Nabi Musa daripada kalian semua. Mulai saat itu, Nabi berpuasa dan beliau menyuruh orang-orang melaksanakan puasa. (HR Bukhari)
Hadits tersebut membicarakan tentang puasa Asyura dalam konteks sebelum Rasulullah mendapatkan wahyu untuk puasa Ramadhan. Sehingga setelah turun wahyu puasa Ramadhan, Nabi memberikan kebebasan kepada para sahabat, pada hari Asyura (tanggal 10 Muharom) tersebut apakah mau puasa ataupun tidak.
Peristiwa pada 10 Muharom tersebut menunjukkan ketawakkalan Nabi Musa A.S. saat menghadapi kegentingan. Terselamatkannya Nabi Musa dari kejaran Firaun merupakan momentum yang sangat krusial dalam dakwah Nabi Musa A.S. sehingga dalam rangka mensyukuri nikmat tersebut, kita sampai sekarang masih disunnahkan puasa tanggal 10 bulan Muharram atau dikenal sebagai puasa hari Asyura. Mengapa begitu krusial? Karena pada saat Nabi Musa A.S diperintah Allah untuk mendakwahi Firaun, terjadi resistensi dan perlawanan sengit dari Firaun hingga akan membunuh Nabi Musa yang kemudian lari bersama umatnya yang beriman. Firaun mengejar Nabi Musa hingga tiba di tepi Laut Merah. Laut Merah merupakan sebuah teluk di sebelah barat Jazirah Arab yang memisahkan benua Asia dengan Afrika. Laut ini di tempat yang terlebar berjarak 300 km dengan titik terdalam 2.500 m.
Musa AS sudah tidak punya pilihan. Maju ke depan ada lautan di depan mata. Kalau mundur ada Firaun dan pasukannya mengejar dan siap membunuh. Pada titik inilah, tawakkal Nabi Musa berada pada puncaknya. Nabi Musa pun menyerahkan diri dan umat sepenuhnya kepada Allah SWT atas apa yang akan terjadi. Akhirnya Allah memerintahkan Musa memukulkan tongkatnya. Tongkat Musa bukan tongkat yang berteknologi canggih, juga tanpa diwiridkan atau didoakan khusus sehingga bertuah. Tidak. Tongkat yang dibawa Musa adalah tongkat yang biasa membantunya dalam perjalanan. Tongkat yang ia pegang juga biasa ia buat untuk mengembala kambing. Artinya tongkat ini bukan tongkat istimewa. Lalu bagaimana tongkatnya bisa membelah lautan? Karena Allah yang memerintahkan. Tongkat yang semula tidak hebat, bisa berubah menjadi hebat. Lautan, yang secara normal jika dilewati tanpa menggunakan kendaraan khusus, akan tenggelam. Namun Allah berkehendak lain. Ketika tongkat yang biasa dibuat menggembala kambing milik Musa dipukulkan ke laut, laut pun menjadi terbelah. Bisa dilewati Musa dan Bani Israil. Dan anehnya, saat Firau dan pasukannya ingin menyusul melewati lautan itu, ketika di tengah-tengah, Allah berubah menenggelamkan mereka sedangkan Musa dan kaumnya semuanya selamat.
Kisah Nabi Musa pada 10 Muharrom di atas, dapat kita ambil pelajaran. bahwa sekuat, sekaya, sepandai, secanggih apapun kita di dunia ini, terdapat kekuatan yang lebih besar di atas kita. Maka dalam menghadapi segala ancaman dalam kehidupan, termasuk menghadapi wabah covid-19 yang belum kunjung mereda ini, apabila kita sampai pada puncak tawakkal kepada Allah, insyaallah Allah akan memberikan pertolongan dengan cara-Nya sendiri yang terkadang dari sesuatu yang tidak pernah kita duga sebelumnya.
Imam Ahmad memaknai tawakal itu adanya di dalam hati, bukan amalan lisan ataupun perbuatan anggota tubuh lainnya, dan juga tidak disebut sebagai pengetahuan seseorang. Maka, tawakal mengisi ruang-ruang hati, saat seorang Muslim tengah berusaha menyelesaikan amalnya hingga ia berada dalam koridor agama selama ia menyempurnakan kegiatannya.
Namun demikian, banyak orang yang menduga bahwa tawakal berdampak negatif dalam optimalisasi etos kerja, sebab dengan tawakal banyak didapati penganut agama yang diam berpangku tangan, tak mau usaha. Padahal sebenarnya tidaklah demikian. Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah SAW pernah mengingatkan seorang sahabatnya yang lupa mengikatkan untanya saat masuk ke masjid. Ketika diingatkan untuk mengikatkannya, orang itu berkata bahwa ia bertawakal kepada Allah Sang Maha Pemelihara dan ia yakin untanya tidak akan lari. Namun, Rasulullah SAW lalu menyerukan, ”Ikatlah untamu terlebih dahulu dan bertawakallah!” Itu karenanya, tawakal adalah urusan hati kepada Allah SWT, sedangkan amal perbuatan tidak pernah boleh untuk ditinggalkan.
Demikianlah kisah kemenangan Nabi Musa atas Firaun yang terjadi pada tanggal 10 Muharram mengajarkan kepada kita tentang pentingnya tawakkal kepada Allah ketika menghadapi segala cobaan dan ancaman. Dan kita pun diajarkan Nabi Muhammad untuk mensyukuri kenikmatan kemenangan tersebut dengan cara berpuasa sunnah hari Asyura. Mari untuk tidak melupakan sebuah kekuatan maha dahsyat di atas semua kehebatan dan kecanggihan teknologi manusia, yaitu Allah SWT. Oleh karena itu, dalam menghadapi wabah covid-19 yang telah 5 bulan melanda dan telah merenggut ratusan ribu nyawa manusia di bumi dan hingga kinipun belum terlihat tanda-tanda berakhirnya wabah, maka mari kita pasrahkan, tawakkalkan sirnanya wabah ini kepada Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa, sambil kita terus tetap berusaha menjaga diri agar tidak tertular covid-19 dengan selalu membiasakan hidup bersih dan sehat dan selalu menerapkan protokol kesehatan di setiap kesempatan. Alloh swt memberi cobaan sesuai dengan kemampuan manusia, tidak lebih. (*)
———————————————————————————————————————————–
(*) Artikel ini juga dipublish pada Radar Solo tanggal 28 Agustus 2020 dengan link: https://radarsolo.jawapos.com/read/2020/08/28/211056/sasi-sura-covid-19-dan-tawakkal






