Destinasi wisata air Umbul Tlatar di Boyolali, yang dikenal dengan mata air jernihnya, memiliki potensi besar untuk menjadi penggerak ekonomi lokal pasca pandemi. Sayangnya, kurangnya perencanaan terpadu menyebabkan kawasan ini belum tergarap optimal dan jumlah kunjungan wisatawan cenderung tidak stabil.
Menjawab tantangan ini, tim dosen dan peneliti dari Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang diketuai oleh Dr. Aditya Saputra, S.Si., M.Sc., melakukan program pengabdian masyarakat berjudul “Revitalisasi Umbul Tlatar: Strategi Perencanaan untuk Pemulihan Pariwisata Pasca COVID-19”. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara dosen dan Laboratorium Sistem Informasi Geografis (SIG) Fakultas Geografi UMS.
“Kami menggunakan pendekatan community-based planning dan teknologi pemetaan mutakhir untuk menyusun cetak biru pengembangan yang integratif dan berkelanjutan,” jelas Dr. Aditya Saputra.
Melalui metode pemetaan drone dan observasi lapangan mendalam, tim berhasil memetakan potensi tersembunyi kawasan ini. Tujuh aset unggulan teridentifikasi untuk dikembangkan secara terpadu: Umbul Pengilon, kolam renang standar nasional, kawasan ekowisata Etasia, sentra kuliner Tlatar, area pemancingan Sumber Rejeki, serta pusat outbound dan restoran. Bersama pemerintah desa dan pengelola setempat, tim merancang masterplan berbasis zonasi yang membagi kawasan menjadi tiga klaster. Zona 1 difokuskan pada mata air utama dan fasilitas pendukung seperti area kuliner dan pusat oleh-oleh. Zona 2 dikembangkan untuk ekowisata dan akomodasi berbasis alam (eco-homestay dan glamping). Sementara Zona 3 akan dihidupkan sebagai arena wisata petualangan air (river tubing dan body rafting).
“Rancangan ini bertujuan menciptakan integrated tourism experience – dari wisata alam, kuliner, edukasi, hingga petualangan – yang dapat memperpanjang masa tinggal wisatawan dan mendongkrak perekonomian masyarakat,” ungkap Danardono, S.Si., M.Sc., anggota tim.
Kegiatan yang didukung oleh DRPPS UMS melalui Program P2TTG (Pengabdian Masyarakat Penerapan Teknologi Tepat Guna) ini telah melalui serangkaian Focus Group Discussion (FGD) untuk memastikan keselarasan rencana dengan kebutuhan dan aspirasi masyarakat. (*)






