Tim Hibah P2M Dosen dan Tendik Berkontribusi Fakultas Geografi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar pelatihan MC Bahasa Jawa bagi kader dan anggota Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) Baki. Mengusung tema “Nguri-uri Basa, Nguwatake Dakwah”, kegiatan tersebut berlangsung di Gedung Al Fajri, Waru, Baki, Sabtu (19/9).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan tim P2M UMS yang terdiri atas Afifah Nurlaila, Rudiyanto, dan Nirma Lila Anggani. Program tersebut berfokus pada pengembangan pembelajaran MC Bahasa Jawa sebagai bagian dari upaya memperkuat kaderisasi PCNA Baki. Program pengabdian dirancang dengan memadukan pembelajaran daring dan luring. Selain mengikuti pelatihan secara langsung, peserta mendapatkan pendampingan melalui Google Classroom yang menyediakan modul, video pembelajaran, kuis, dan tugas.
Ketua PCNA Baki, Mardiana, menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, pelatihan tidak hanya penting untuk meningkatkan keterampilan MC para kader, tetapi juga menjadi bagian dari upaya melestarikan bahasa Jawa. “Sebagai orang asli Jawa, semoga kita dapat lebih baik lagi menggunakan bahasa Jawa yang sesuai unggah-ungguh basa,” ujar Mardiana.
Pelatihan menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Eko Joko Trihadmono, M.Pd. dan Wahyu Rintoko Aji, S.Pd., Gr., yang memberikan materi mengenai penggunaan bahasa Jawa serta teknik hamicara dan pambiwara. Dr. Eko Joko Trihadmono yang merupakan guru Bahasa Jawa sekaligus Wakil Kepala Humas SMK Negeri 8 Surakarta, praktisi pambiwara, dan Dosen Luar Biasa Pascasarjana UNS, menjelaskan pentingnya penguasaan bahasa Jawa dalam menjalankan peran sebagai pambiwara.
Ia menjelaskan bahwa bahasa memiliki tiga fungsi utama, yakni fungsi ideasional sebagai sarana menyampaikan gagasan dan pengalaman pribadi, fungsi interpersonal sebagai sarana membangun hubungan antara penutur dan mitra tutur, serta fungsi tekstual sebagai sarana mewujudkan gagasan dalam bentuk tuturan.
“Mupangatipun basa iku ana tiga, yaiku mupangat ideasional, interpersonal, lan tekstual. Basa minangka sarana medhar gagasan lan pengalaman, mbangun sesambungan antarane penutur lan petutur, uga mujudake angen-angen ingkang sinerat,” jelas Dr. Eko.
Dalam materinya, Dr. Eko juga memperkenalkan sejumlah kosakata bahasa Jawa yang lebih sesuai digunakan dalam konteks pambiwara. Beberapa di antaranya adalah matur nuwun sebagai bentuk yang tepat dari matur suwun, taken atau nyuwun pirsa untuk menggantikan tanglet, serta mligi untuk istilah khusus. Sementara itu, Wahyu Rintoko Aji, praktisi pambiwara, membawakan materi mengenai teknik hamicara dan pambiwara. Ia menjelaskan bahwa seorang pambiwara tidak hanya dituntut mampu berbicara dengan baik, tetapi juga perlu memperhatikan pengetahuan, penampilan, serta etika.
“Seorang pambiwara setidaknya harus menguasai empat hal, yaitu pengetahuan yang cukup, kemampuan berbahasa yang baik, berbusana yang baik dan pantas, serta memiliki etika dan sopan santun,” terang Rintoko Aji.
Ia menambahkan, busana yang baik tidak selalu berarti mahal. Yang terpenting adalah mampu menunjang penampilan dan disesuaikan dengan konteks acara serta lingkungan masyarakat. “Berbusana baik tidak harus mahal, namun dapat menunjang penampilan agar terlihat rapi sehingga bisa tampil dengan maksimal dan percaya diri. Pantas artinya sesuai konteks acara dan etika berbusana yang berlaku di suatu lingkungan masyarakat,” ujarnya.
Selain menerima materi, peserta juga mengikuti praktik langsung menjadi pambiwara dan mendapatkan umpan balik dari narasumber. Praktik tersebut menjadi bagian penting dari pelatihan agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga dapat menerapkannya dalam situasi nyata.
Ketua Tim Pengabdian, Afifah Nurlaila, mengatakan program tersebut dirancang tidak berhenti pada pelatihan tatap muka. Pendampingan melalui Google Classroom menjadi bagian dari proses pembelajaran agar peserta dapat mengakses materi dan melakukan pembelajaran secara berkelanjutan.
“Kegiatan ini disetting dengan dua model kelas, yaitu online dan offline. Dengan adanya pendampingan melalui kelas online di Google Classroom, diharapkan dapat memperkaya wawasan peserta dan memperdalam materi kembali,” ujar Afifah.
Menurut Afifah, penguatan kemampuan MC Bahasa Jawa merupakan salah satu bentuk dukungan terhadap proses kaderisasi PCNA Baki. Keterampilan tersebut diharapkan dapat menunjang kesiapan kader untuk terlibat dalam berbagai kegiatan organisasi, sosial, dan dakwah.
Melalui program pengabdian ini, tim P2M UMS berupaya menghadirkan pembelajaran MC Bahasa Jawa yang tidak berhenti pada satu kali pelatihan, tetapi dilanjutkan melalui pembelajaran dan pendampingan secara daring. Model tersebut diharapkan dapat membantu kader PCNA Baki meningkatkan keterampilan, kepercayaan diri, dan kesiapan dalam menjalankan peran sebagai pambiwara. (*)






